UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Paroki KAJ Melestarikan Lingkungan Lewat Bank Sampah

September 9, 2019

Umat Paroki KAJ Melestarikan Lingkungan Lewat Bank Sampah

Sampah anorganik yang dikumpulkan oleh umat Paroki Keluarga Kudus di Rawamangun, Jakarta Timur, disetorkan ke Bank Sampah Bhakti Semesta sebelum ditimbang. (Foto: Bank Sampah Bhakti Semesta)

Sejak 2006 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mulai mengampanyekan slogan “Taruh Sampah, Jadikan Berkah” kepada umat Katolik yang dilayaninya mengingat saat itu sampah, khususnya plastik, mulai menumpuk di negeri ini.

Slogan itu ditanggapi serius oleh umat paroki. Salah satunya adalah Lucia Mona Hartari Windoe, ketua Sub-Seksi Lingkungan Hidup Paroki Keluarga Kudus di Rawamangun, Jakarta Timur.

Ia mendirikan Bank Sampah Bhakti Semesta sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 21 Februari 2016 ketika bangsa Indonesia merayakan Hari Peduli Sampah Nasional ke-10.

“Slogan ini yang mendorong saya untuk mewujudkan bank sampah. Kenapa taruh, bukan dibuang? Karena sampah dianggap punya nilai dan harga, masih ada berkahnya,” katanya.

Pesan yang ingin disampaikannya adalah keberadaan bank sampah hanya merupakan fasilitas untuk mengelola sampah anorganik.

“Sampah paling banyak berasal dari rumah tangga. Sementara selama ini kegiatan memilah sampah hanya diajarkan di paroki. Lalu apa yang dilakukan umat selanjutnya di rumah?” tanyanya.

Dengan dukungan romo, ia mulai mengelola Bank Sampah Bhakti Semesta bekerjasama dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur. 

Kerjasama ini memberi keuntungan bagi Paroki Keluarga Kudus karena paroki tidak perlu menyediakan tempat sampah di halaman gereja. Sampah anorganik yang disetorkan oleh umat paroki ke bank sampah yang dikelola paroki langsung diangkut oleh truk sampah milik Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur menuju pabrik pengolahan sampah.

Namun Mona membutuhkan waktu selama setahun untuk memperkenalkan Bank Sampah Bhakti Semesta kepada umat paroki dan untuk mengajar mereka tentang cara memilah sampah anorganik sebelum menyetorkannya ke bank sampah.

“Waktu itu paroki-paroki lain belum ada (bank sampah) dan kami belum punya panduan. Umat paroki pada waktu itu belum mengerti bahwa sampah bisa menjadi berkah. Contohnya setiap umat lingkungan menggunakan produk shampo dalam kemasan botol setiap bulan. Botol ini sebenarnya bisa dijual. Namun selama ini dibuang begitu saja,” katanya.

Tujuan Utama


Usaha yang dilakukannya cukup berhasil.

Saat ini Bank Sampah Bhakti Semesta memiliki 219 nasabah – kebanyakan atas nama lingkungan – yang menyetor sampah anorganik seperti botol plastik, koran bekas dan kardus ke bank sampah setiap hari Sabtu pertama dan ketiga dalam bulan.

Untuk satu kilogram koran bekas dihargai sekitar Rp 1.900. Uang yang dibayarkan kepada umat paroki dalam bentuk tabungan berasal dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur.

“Paroki tidak mengambil untung sepeser pun,” kata Mona.

Salah satu nasabah Bank Sampah Bhakti Semesta adalah Lingkiungan St. Maria Imakulata di Cipinang Muara Utara. Saldo tabungan bank sampah lingkungan ini mencapai lebih dari Rp 8.000.000 sejak mulai menabung pada Maret 2016 lalu.

Lingkungan yang memiliki sekitar 60 KK tersebut bisa menabung hingga Rp 1.000.000 per bulan di Bank Sampah Bhakti Semesta. Biasanya lingkungan ini menggunakan uang tabungan untuk ziarah dan sumbangan ke panti asuhan.

“Motivasi utama kami adalah untuk melestarikan lingkungan. Kemudian dari sana kami juga bisa mendidik keluarga kami untuk memilah sampah, tidak membuang sampah di sembarang tempat,” kata Aloisius Hananto S. Prabowo, seorang umat lingkungan.

“Terakhir tentu ada nilai ekonomis yang bisa kami manfaatkan. Ini hanya bonus saja,” katanya.

Umat Lingkungan St. Maria Imakulata di Cipinang Muara Utara memilah sampah anorganik di sebuah rumah milik umat Katolik sebelum menyetorkannya ke Bank Sampah Bhakti Semesta. (Foto: Bank Sampah Bhakti Semesta)

Percontohan

Di tingkat KAJ, keberhasilan Mona mendorong sejumlah paroki untuk mendirikan bank sampah dengan skema yang sama. Salah satunya adalah Paroki St. Anna di Duren Sawit, Jakarta Timur. Paroki ini mendirikan Bank Sampah Anugerah Semesta Alam pada Desember 2018.

“Kami concern pada masalah lingkungan hidup. Problem-nya mengelola sampah, terutama sampah rumah tangga. Kemudian kami melihat bahwa Paroki Rawamangun ada kegiatan bank sampah bekerjasama dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur. Kelihatannya tidak serumit gambaran kami,” kata Yakobus Supriyanto, seorang pengurus Sub-Seksi Lingkungan Hidup Paroki St. Anna.

“Bank sampah kami belum setahun. Namun dalam perkembangannya memang cukup menggembirakan karena sampai saat ini sudah ada sekitar 150-an nasabah,” katanya, seraya menambahkan bahwa Bank Sampah Anugerah Semesta Alam buka setiap hari Sabtu kedua dan keempat dalam bulan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendorong bank sampah sebagai sebuah program untuk memilah dan mengelola sampah dari sumbernya.

Berdasarkan data kementerian tersebut, bank sampah meningkat signifikan dalam empat tahun terakhir, dari 1.172 unit menjadi 7.488 unit. Peningkatan jumlah bank sampah turut mengurangi sekitar 1,7 persen atau 1.389.522 ton sampah per tahun. 

Menurut beberapa kelompok lingkungan hidup, Indonesia menangani sekitar 64 juta ton sampah plastik setiap tahun, 3,2 juta di antaranya berakhir di laut. Sekitar 11 persen dari jumlah total sampah diproduksi di Jakarta.

“Kami mendukung. Apalagi sebuah rumah ibadah bisa membantu program pemerintah dalam mengurangi sampah,” kata Maria Claret, seorang pengawas kebersihan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur.

Gerakan konkret

Bagi Romo Yohanes Sutrisno MSF, moderator Bank Sampah Bhakti Semesta, upaya untuk melestarikan lingkungan hidup semacam itu perlu menjadi sebuah gerakan konkret.

“Harapan saya, (umat paroki) bukan berarti berlomba-lomba tentang banyaknya sampah yang harus disetorkan (ke bank sampah), tapi mulai mengurangi penggunaan barang-barang yang membuat sampah. Jadi kalau belanja bawa tas belanja, kalau pergi ke mana-mana bawa botol minum. Ini gerakan berkesinambungan,” katanya.

Meskipun demikian, umat paroki KAJ tetap harus memperhatikan satu hal penting.

“Prinsipnya menjadikan sampah sebagai berkah, tidak sekedar memindahkan tempat sampah,” kata Romo Agustinus Heri Wibowo Pr, ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KAJ.

“Peduli dengan lingkungan itu sesuatu yang baik dan didorong dan dibantu serta dikondisikan,” lanjutnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi