UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Aktivis Gereja di Papua Desak Usut Kasus Kematian Saat Demo Anti-Rasisme

September 10, 2019

Aktivis Gereja di Papua Desak Usut Kasus Kematian Saat Demo Anti-Rasisme

Para mahasiswa Papua berdemo di Jakarta pada 22 Agustus untuk memprotes rasisme dan penahanan 40 mahasiswa di Surabaya di provinsi Jawa Timur beberapa hari sebelumnya.

Aktivis Gereja dan lembaga pemerhati hak asasi manusia mendesak pemerintah melakukan investigasi atas kasus kematian dalam kerusuhan di Papua yang dipicu oleh masalah rasisme, termasuk dengan meminta keterlibatan Komisi HAM PBB.

Sejauh ini, data korban masih simpang siur. Pihak Gereja menyebutkan ada 12 warga Papua yang meninggal, yakni 8 di Kabupaten Deiyai dan 4 di  kota Jayapura. Sementara itu, Human Rights Watch (HRW) dalam keterangannya pada 7 September menyebut korban adalah 10 orang.

Yuliana Languduow, wakil direktur Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptraan (KPKC) Fransiskan di Papua mengatakan kepada ucanews.com bahwa jumlah korban kemungkinan lebih banyak dari itu.

“Kami sedang berkoordinasi dengan tim dari daerah lain,” katanya, sambil menambahkan, untuk kerusuhan di Jayapura saja, sejauh ini tercatat 30 orang terluka.

Pada Senin, 9 September, sejumlah organisisasi, termasuk KPKC, Pemuda Katolik dan Kontras Papua  membentuk sebuah posko yang akan mengumpulkan informasi tentang korban.

Posko ini dibentuk setelah tim mendapati laporan pembatasan yang diberlakukan pada keluarga dan jurnalis yang ingin pergi ke rumah sakit untuk melihat korban yang terluka.

Kekerasan telah menghantam wilayah Papua selama sekitar tiga minggu sejak penangkapan 40 pelajar Papua di Surabaya, Jawa Timur pada 16 Agustus. Para mahasiswa itu dituduh merusak bendera Indonesia, kasus yang kini masih ditangani kepolisian. Saat penangkapan, para siswa ditembaki dengan gas air mata dan disebut dengan kata-kata rasis, seperti “monyet, anjing, dan babi.”

Pastor John Djonga, aktivis yang vokal dan pendiri lembaga kemanusiaan Yayasan Teratai Hati Papua mengatakan, pemerintah mesti bisa menjelaskan kepada publik penyebab kematian itu dan memproses hukum pelaku “agar bisa menumbuhkan kepercayaan dalam diri orang Papua terhadap pemerintah.”

“Jika tidak, maka hal ini hanya akan memperburuk masalah yang sekarang terjadi,” katanya.

Ia juga meminta perhatian dari Komisi HAM PBB yang pada 9-27 September melakukan pertemuan di Geneva.

“Sudah saatnya PBB bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Papua,” katanya.

Sementara itu, dalam pernyataan pada 4 September, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet menyatakan keprihatinan dan mendesak pemerintah Indonesia “untuk terlibat dalam dialog dengan rakyat Papua dan Papua Barat mengenai aspirasi dan keprihatinan mereka.”

Elaine Pearson dari HRW mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “Polisi Indonesia memiliki tugas untuk menghindari penggunaan kekuatan dalam menanggapi orang Papua yang meluapkan kemarahan mereka di jalan-jalan.”

“Setiap penggunaan kekuatan yang salah perlu diselidiki,” katanya.

HRW mengatakan mereka yang ditahan karena ekspresi damai terkait pandangan politiknya juga harus dibebaskan dan tuduhan apa pun dibatalkan.

Sejauh ini, pemerintah telah mengambil langkah tegas menanggapi aksi demonstrasi, termasuk memblokir akses internet, yang baru perlahan-lahan  dibuka pada 4 September.

Pada 2 September polisi juga mendeportasi 4 warga Australia yang ikut demo dan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Veronica Koman, seorang pengacara hak asasi manusia Indonesia dengan tudingan “menyebarkan berita palsu dan memicu kerusuhan.”

Wiranto, Menkopolhukam menuding Benny Wenda, Ketua United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) dan organisasi pro-kemerdekaan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berada di balik sejumlah demo ricuh ini.

Namun, seperti dikutip suarapapua.comBenny Wenda, Ketua ULWP membantah tudingan tersebut dan menyatakan aksi demo adalah reaksi terhadap perlakuan diskriminatif terhadap warga Papua selama ini.

“Jadi apa yang terjadi (aksi-aksi lawan rasisme) kemarin adalah akasi spontan,” kata Wenda.Foto: Para mahasiswa Papua berdemo di Jakarta pada 22 Agustus untuk memprotes rasisme dan penahanan 40 mahasiswa di Surabaya di provinsi Jawa Timur beberapa hari sebelumnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi