UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pastor dan Katekis Ditangkap di India

September 10, 2019

Pastor dan Katekis Ditangkap di India

Gereja dan sekolah dasar yang berdekatan di daerah misi Rajadah di distrik Godda di bawah Keuskupan Bhagalpur. Seorang imam dan seorang katekis ditangkap dan dipenjara pada 7 September dengan tuduhan konversi dan perampasan tanah. (Foto:ucanews.com)

Seorang imam Katolik dan seorang katekis ditangkap dan dipenjara pada 7 September di Negara Bagian Jharkhand, India, setelah mereka dituduh merampas tanah orang-orang suku dan terlibat dalam konversi agama secara paksa.

Pastor  V.J. Binoy dan  Munna Hansda, katekis yang bekerja di daerah misi Rajadah di distrik Godda di bawah keuskupan Bhagalpur, ditangkap setelah pengaduan dari seorang penduduk desa.

Dua warga desa -kepala desa Rameshwar Thakur dan Charlis Hansda- dituduh dengan  tuduhan yang sama tetapi dilaporkan melarikan diri.

Keempatnya dituduh melanggar undang-undang anti-konversi negara bagian timur itu, yang melarang konversi agama melalui bujukan atau paksaan  dan tanpa memberi tahu otoritas pemerintah.

Mereka juga didakwa dengan beberapa pelanggaran KUHP India termasuk intimidasi terhadap para penduduk desa, melecehkan atau mencemari tempat-tempat ibadah, dan  sengaja  menciptakan rasa marah agama lain.

Para pemimpin Gereja mengatakan tuduhan dan penangkapan itu adalah langkah politik.

“Ini adalah kampanye yang bermotivasi politik terhadap kami karena membantu orang miskin dan  buta huruf di wilayah itu,” kata Pastor N. Thomas, wakil vikjen keuskupan Bhagalpur.

Pada 6 September pagi, polisi pergi ke kediaman Pastor Binoy dan koleganya Pastor Arun Vincent dan meminta mereka untuk pergi bersama mereka menemui  polisi distrik itu.

Polisi membawa mereka ke kantor polisi tetapi membiarkan Pastor Vincent pergi. Sementara itu, mereka juga menangkap katekis Hansda. Namun, polisi menahan mereka selama sehari semalam dan membawa mereka ke pejabat tinggi keesokan harinya.

Pengawas menginterogasi mereka dan menuduh mereka merampas tanah orang-orang suku yang dilindungi dan membujuk orang untuk pindah agama menjadi Kristen. Dia juga menelepon media dan menceritakan “kisah sesungguhnya” di depan pastor dan katekis, kata Pastor Thomas.

Mereka muncul di hadapan pengadilan setempat, yang mengembalikan mereka ke tahanan pengadilan.

Pastor Thomas mengatakan seluruh kasus itu adalah “konspirasi yang diatur dengan baik” karena pengadu Luckram Besra telah bekerja dengan imam itu sampai 10 hari sebelumnya.

Sembilan tahun  lalu, misi menerima 35 hektar tanah dari 20 orang untuk membangun sebuah gereja dan sekolah dasar. Sekitar tujuh hektar tanah berasal dari Besra. Bersa, yang bekerja di Assam pada waktu itu, keberatan dengan kesepakatan itu ketika dia kembali beberapa tahun kemudian, dan “kami secara sukarela telah mengembalikan tiga hektar kepadanya,” kata imam itu.

Dia juga mulai bekerja dengan misi dan sekarang “kami dituduh mengambil tanah mereka, mereka menyumbangkan sembilan tahun lalu. Kami memiliki semua dokumen sumbangan yang sah,” kata Pastor Thomas.

UU Agraria di Jharkhand melarang orang non-suku membeli tanah orang suku. UU itu diberlakukan untuk melindungi tanah orang-orang suku yang tidak berpendidikan dan mudah tertipu.

Para pemimpin Gereja mengatakan pemerintah negara bagian itu, yang dijalankan oleh Partai Bharatiya Janata yang pro-Hindu, mulai menargetkan orang-orang Kristen setelah protes suku, dibantu oleh kelompok-kelompok Gereja, mengakibatkan pemerintah menarik upayanya untuk mengubah undang-undang pertanahan agar pemerintah dapat mengambil alih tanah suku untuk perusahaan besar.

Pastor Thomas mengatakan kepada ucanews.com pada 9 September bahwa ia yakin pastor dan katekis itu akan mendapat jaminan pekan ini.

Orang suku adalah 16 persen dari 32 juta penduduk  di Jharkhand. Negara bagian ini memiliki sekitar 1,3 juta orang Kristen atau 4,3 persen dari populasi. 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi