UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

BJ Habibie Dikenang Sebagai Peletak Dasar Demokrasi Indonesia

September 12, 2019

BJ Habibie Dikenang Sebagai Peletak Dasar Demokrasi Indonesia

Peti jenazah presiden Republik Indonesia ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie, diangkat oleh pasukan TNI menuju tempat peristirahatan terakhir di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, pada 12 September 2019. (Foto: Vincentius Hargo Mandirahardjo/ISKA)

Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie yang meninggal dunia pada Rabu sore (11/9) dikenang sebagai negarawan sejati dan peletak dasar-dasar demokrasi di Indonesia.

Habibie meninggal pada usia 83 tahun setelah menjalani perawatan intensif selama sepuluh hari di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta Pusat.

Presiden ketiga – yang adalah seorang insinyur terkemuka yang pernah menempuh pendidikan baik di dalam dan luar negeri – itu menjabat sebagai menteri riset dan teknologi di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto sejak 1978 sebelum dipilih sebagai wakil presiden pada Maret 1998 ketika terjadi kegentingan pada jaman Orde Baru.

Pada Mei 1998, Habibie diangkat sebagai presiden menyusul pengunduran diri Presiden Soeharto ketika terjadi aksi protes massal oleh para mahasiswa dan krisis finansial.

Sebagai presiden, ia membuat terobosan besar antara lain undang-undang tentang anti-monopoli, partai politik dan otonomi daerah. Ia juga mencabut ketentuan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dan membebaskan tahanan politik Timor Timur.

Pada Agustus 1999, ia mengadakan jajak pendapat di bawah pengawasan United Nations Mission in East Timor (UNAMET) untuk memberi pilihan kepada penduduk Propinsi Timor Timur saat itu antara otonomi daerah atau kemerdekaan. Hasilnya, mereka memilih kemerdekaan.

Ia memutuskan untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) pada Oktober 1999.

Ayah dari dua anak laki-laki – yang lahir pada 25 Juni 1936 di Kota Parepare, Propinsi Sulawesi Selatan – itu menerima Edward Warner Award atas kontribusinya yang populer dalam mempromosikan perakitan pesawat terbang di negara berkembang.

Jenazahnya dimakamkan dalam upacara militer di Taman Malam Pahlawan (TMP) Kalibata di Jakarta Selatan pada Kamis (12/9).

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo mengatakan bangsa Indonesia berkabung atas kematian presiden ketiga itu.

“Beliau adalah seorang negarawan sejati, seorang inspirator, seorang ilmuwan yang meyakini bahwa tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya. Ilmu pengetahuan, iman dan takwa harus bersatu,” katanya.

“Beliau adalah suri tauladan bagi seluruh anak bangsa,. Sungguh Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Thareq Kemal Habibie, anak kedua Habibie, mengatakan kepada wartawan bahwa ayahnya “sudah menua … organ-organ itu melemah menjadi tidak kuat lagi” dan “jantungnya dengan sendiri menyerah.”

“Tim dokter sudah berbuat yang terbaik. Tidak ada yang bisa dibuat apa-apa lagi, mohon doanya, mohon dukacitanya, kami berterima kasih, mohon pengertian bahwa kami dalam keadaan berkabung,” katanya.

Kementerian Sekretariat Negara mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan kepada semua lembaga negara dan masyarakat agar mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari berturut-turut, mulai Kamis (12/9), untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada “putra terbaik bangsa.”

Ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Vincentius Hargo Mandirahardjo mengatakan mantan Presiden Habibie memainkan peran yang signifikan dalam reformasi demokrasi.

“Saya melihat beliau ini bukan hanya sebagai seorang tokoh intelektual, cendekiawan, tapi juga sekaligus negarawan. Menurut saya, beliau bukan hanya sebagai ‘Bapak Teknologi Nasional’ tapi juga yang paling utama dan yang paling penting adalah beliau membuka kran demokrasi bagi kita,” katanya kepada ucanews.com.

“Itu yang luar biasa. Artinya, kita sekarang ini bisa menikmati alam demokrasi seperti sekarang ini karena beliau yang membuka krannya, beliau yang memulainya. Maka selayaknya kalau kita menyebut ‘Bapak Demokrasi’ itu ya tepat untuk disandang beliau,” lanjutnya. 

Menurut Hargo, mantan presiden itu adalah seorang tokoh yang bijaksana.

“Tapi dengan kearifan beliau juga ketika beliau memahami sebuah kepemimpinan dan kekuasaan tidak harus selalu dipertahankan. Ketika pertanggungjawaban beliau ditolak MPR pada saat itu. Dukungan terhadap beliau cukup kuat untuk menjadi presiden, tapi beliau memilih mundur, beliau tidak mau karena beliau betul-betul merasakan bahwa kekuasaan tidak selalu harus beliau pegang,” katanya.

Senada, Pendeta Gomar Gultom, sekretaris umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), menyebut mantan Presiden Habibie sebagai “seorang negarawan sejati yang telah meletakkan dasar-dasar demokrasi di Indonesia. 

“Walau masa kepresidenannya sangat singkat, namun pada masanya banyak dicabut regulasi yang menghambat proses demokrasi,” katanya dalam sebuah pernyataan yang diterima ucanews.com.

“Kita sungguh kehilangan beliau. Semoga amal baktinya diterima di sisi Tuhan,” lanjutnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi