UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kaum Dalit Minta Paus Akhiri Diskriminasi atas Mereka di Gereja India

September 12, 2019

Kaum Dalit Minta Paus Akhiri Diskriminasi atas Mereka di Gereja India

Orang-orang Kristen dan aktivis Dalit mengadakan protes di New Delhi 10 Agustus, menyerukan pemerintah India untuk membayar tunjangan jaminan sosial bagi mereka, yang ditolak sejak 1950. (Foto oleh Bijay Kumar Minj / ucanews.com)

Menjelang kunjungan berkala para uskup India ke Vatikan, sekelompok orang Dalit yang terpinggirkan secara sosial telah mendesak Paus Fransiskus untuk mengarahkan para uskup agar bekerja untuk mengakhiri diskriminasi berdasarkan kasta di Gereja.

Seruan dari Gerakan Pembebasan Kristen Dalit (DCLM) muncul sebelum pertemuan Ad Limina Apostolorum antara 200 uskup dari 174 keuskupan di India dengan Paus Fransiskus yang dibagi dalam tiga kelompok dari 13 September hingga 3 Oktober.

“Kami ingin Paus Fransiskus mendesak para uskup mengambil tanggung jawab untuk menghapuskan diskriminasi kasta terhadap orang-orang Dalit di dalam Gereja,” kata presiden gerakan itu, Mary John.

John mengatakan kepada ucanews.com bahwa dokumen terperinci yang menjelaskan prevalensi diskriminasi dalam Gereja Katolik telah dikirim ke Nuncature Apostolik India.

“Kami menghidupkan kembali desakan itu … dengan permintaan agar para uskup mengangkat masalah itu selama pertemuan mereka dengan paus,” kata John.

Diskriminasi ganda

Orang-orang Kristen Dalit, yang membentuk 33 persen dari 27 juta orang Kristen di India, mengatakan mereka mengalami diskriminasi baik di dalam Gereja maupun masyarakat pada umumnya.

John mengatakan pemerintah telah menolak memberikan jaminan sosial bagi orang-orang Kristen Dalit dengan alasan bahwa agama Kristen tidak memiliki sistem kasta.

“Tetapi di dalam Gereja, kami dipandang sebagai orang Kristen kelas dua,” katanya.

Kata Dalit berarti “diinjak-injak” dalam bahasa Sansekerta dan merujuk pada semua kelompok yang pernah dianggap tidak tersentuh dan di luar sistem empat kasta Hindu.

“Sudah terbukti tanpa keraguan bahwa Gereja mempraktikkan kasta dan diskriminasi berdasarkan kasta di setiap bidang dan fungsinya,” kata Vincent Manoharan, pendiri National Dalit Christian Watch.

Dia mengatakan mereka “berjuang untuk mendapatkan hak yang cukup, perhatian, dan ruang yang memadai dalam hierarki gereja, kongregasi religius dan lembaga gereja” dan “secara sistematis dihindari di semua bidang Gereja.”

Dia mengatakan hanya 12 dari 174 keuskupan Katolik yang dipimpin oleh para uskup asal Dalit, dan dari 27.000 imam di India hanya 2.500 adalah orang Dalit, dan dari sekitar 65.000 biarawati yang berkaul hanya 1.600 dari kelompok Dalit.

Selain itu, dari empat kardinal India, tidak ada yang Dalit, tambahnya.

Gereja ‘mendukung non-Dalit’

Orang-orang Dalit mengatakan di beberapa paroki di negara bagian Tamil Nadu dan Andhra Pradesh, orang-orang Dalit diberi tempat terpisah untuk duduk di gereja-gereja, petak-petak pemakaman terpisah di kuburan, sedangkan beberapa paroki mengadakan pesta terpisah untuk umat Katolik Dalit, dan beberapa melarang prosesi Katolik Dalit melewati daerah mereka.

“Karena itu, kita perlu menantang Gereja. Kita perlu menegaskan bahwa Kristus dan kasta tidak bisa jalan bersama, ”kata Manoharan.

Baik John dan Manoharan menyatakan bahwa hierarki gereja sebagian besar mendukung non-Dalit dan bahwa sebagian besar badan pembuat keputusan seperti komite pastoral dan komite paroki didominasi oleh non-Dalit.

“Mereka mendukung sistem gereja yang ada yang secara terang-terangan dan diam-diam mendiskriminasi orang-orang Dalit,” kata Manoharan.

Di sebagian besar paroki, tukang kebun dan penjaga kuburan adalah Katolik Dalit dan imam Dalit ditempatkan di kantor yang tidak penting atau di gereja-gereja di pedesaan.

“Hirarki menemukan cara untuk mendukung sistem seperti itu,” kata Manoharan.

John mengatakan bahwa sementara Paus Fransiskus menginginkan “Gereja yang inklusif” dan “berkeadilan” tetapi tampaknya paus tidak diberi informasi yang memadai tentang diskriminasi terhadap Katolik Dalit.

Status ini seharusnya diakhiri, kata John.

Konferensi Waligereja India menerbitkan Kebijakan untuk Pemberdayaan Dalit pada tahun 2016, yang mengusulkan bahwa harus diupayakan posisi untuk orang-orang Kristen Dalit di semua wilayah Gereja.

“Tapi itu belum diimplementasikan oleh keuskupan,” kata John. “Gereja harus keluar dengan kebijakan tindakan afirmatif dan memastikan implementasinya.”

Pastor Vijay Kumar Nayak, sekretaris kantor para uskup Katolik India untuk kaum Dalit dan kelas-kelas bawah, mengatakan bahwa baik Vatikan dan uskup-uskup India menyadari masalah ini.

“Kami berharap bahwa Vatikan tidak akan menjadi penonton yang diam ketika orang-orang Kristen Dalit berjuang untuk mendapatkan martabat dan kesetaraan manusiawi,” kata imam itu.

“Orang Kristen Dalit harus diberikan martabat, kesetaraan, dan posisi di semua tingkatan Gereja. Itu dibuat jelas dalam kebijakan yang disahkan oleh para uskup.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi