UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kesepakatan Vatikan-Cina tentang Pengangkatan Uskup Mulai Berbuah

September 12, 2019

Kesepakatan Vatikan-Cina tentang  Pengangkatan Uskup Mulai Berbuah

Umat Katolik di Cina menghadiri Misa pada Malam Natal di sebuah gereja Katolik di Beijing pada 24 Desember 2018. (Foto: Wang Zhao/AFP)

Penahbisan dua uskup di Cina belum lama ini dielu-elukan sebagai bukti bahwa kesepakatan Vatikan-Cina mengenai pengangkatan para uskup telah membuahkan hasil.

Uskup Koadjutor Stephen Xu Hongwei dari keuskupan Hanzhong di Shaanxi, bagian utara negara itu ditahbiskan pada 28 Agustus, hanya dua hari setelah pentahbisan Mgr  Anthony Yao Shun, uskup  Jining di Mongolia Dalam, yang pertama sejak kesepakatan  sementara ditandatangani pada September lalu.

Vatikan menekankan bahwa para uskup baru telah ditunjuk oleh paus dan penahbisan mereka berada di bawah kerangka kesepakatan tersebut.

Matteo Bruni, direktur kantor pers Vatikan, menegaskan kepada media bahwa Uskup Yao telah menerima mandat dari Sri Paus dan penahbisannya “adalah  yang pertama dilakukan dalam kerangka perjanjian sementara antara Takhta Suci dan Republik Rakyat Tiongkok yang ditandatangani di Beijing pada 22 September 2018,” lapor Vatican News  pada 27 Agustus.

Selain itu, Vatikan News melaporkan pada 28 Agustus bahwa “hampir setahun kesepakatan itu telah membuahkan hasil.”

Mgr Joseph Shen Bing, uskup Haimen, wakil ketua Asosiasi Patriotik Katolik Cina, mengatakan, penahbisan itu adalah “awal yang baik bagi Cina untuk memilih dan menahbiskan lebih banyak uskup karena mereka adalah contoh sukses formalitas dan prosedur yang relevan.”

Dia juga mengatakan bahwa penahbisan adalah “bukti terbaik bahwa Gereja Katolik berkembang dengan baik di Cina dengan dukungan dari pemerintah Cina.”

Dia mengungkapkan bahwa keuskupan-keuskupan di provinsi Hubei, provinsi Shandong dan provinsi Zhejiang juga mempromosikan pemilihan uskup.

“Ini adalah hasil dari negosiasi antara pemerintah Cina, Gereja Katolik lokal dan Takhta Suci,” kata Wang Meixiu, seorang peneliti senior di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, kepada surat kabar Global Times yang dikontrol Partai Komunis Cina.

Pastor Antonio Spadaro, pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica, mengatakan kepada Global Times bahwa “ini adalah titik awal yang baik dan juga bisa menjadi model positif bagi orang lain yang harus mengikuti dalam jangka menengah.”

Dia mengatakan upacara pentahbisan  Uskup Xu berlangsung dalam suasana tenang dan partisipatif di hadapan semua uskup di Shaanxi.

Namun, sebuah sumber mengatakan kepada ucanews.com bahwa Mgr  Li Huiyuan, uskup Fengxiang di Shannxi tidak menghadiri upacara pentahbisan itu karena dia sendiri tidak ditahbiskan secara publik dan tidak diakui pemerintah.

Meskipun outlet media telah melaporkan penahbisan secara positif, beberapa pengamat Gereja Cina mencatat masih belum cukup informasi untuk sepenuhnya memahami prosedur penunjukan uskup di bawah kesepakatan rahasia.

Keduanya terpilih sebagai uskup pada  April tetapi sumber-sumber menjelaskan  bahwa mereka diangkat  oleh paus sebelum pemilihan dan kesepakatan Vatikan-Cina.

Seorang pengamat mengatakan tahbisan itu mengungkapkan bahwa prosedur penunjukan uskup akan berlanjut dengan cara yang sama seperti sebelum perjanjian.

“Semua orang tahu bahwa mekanisme lama terus berlanjut. Vatikan mungkin menyempurnakan metode penunjukan tetapi lebih dari setengah pemilih sudah tahu siapa kandidat yang dipilih oleh Roma,” tambah sumber itu.

Global Times mencatat bahwa Cina menghadapi kekurangan  uskup, dengan sekitar sepertiga dari 98 keuskupan di negara itu tidak memiliki uskup dan banyak dari para uskup tersebut sudah tua dan akan pensiun.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi