UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Transformasi Seorang Ibu Rumah Tangga Thailand

September 12, 2019

Transformasi Seorang Ibu Rumah Tangga Thailand

Angkhana Neelapaijit dari Thailand adalah satu dari lima peraih Ramon Magsaysay Award tahun ini karena "memperjuangkan keadilan, kasus demi kasus yang memilukan." (Foto: Maria Tan)

Upaya Angkhana Neelapaijit mencari keadilan dimulai ketika suaminya, seorang pengacara dan aktivis hak asasi manusia, menghilang 15 tahun yang lalu.

Dia mendatangi polisi, memohon bantuan dari para legislator, dan mengungkap kasusnya via media, tetapi tidak berhasil. Suaminya masih hilang sampai hari ini.

Ibu rumah tangga asal Thailand ini tidak pernah menyangka ia akan disorot dan menjadi pusat perhatian. Dia mengatakan satu-satunya prioritas dalam hidupnya adalah agar dia dan anak-anaknya tetap hidup.

Sekarang dia mengetahui bahwa “ketika sesuatu terjadi pada Anda, hidup Anda berubah” dan itu tidak pernah kembali normal. “Kamu harus selalu berpikir tentang bagaimana kamu bisa bertahan hidup,” katanya.

Tantang dalam pencarian terhadap orang yang dicintai yang hilang adalah perjuangan yang hanya dipahami oleh keluarga dan orang dekat korban penghilangan paksa.

Bagi Angkhana, keyakinannya itulah yang membantunya berdiri teguh di tengah “ambiguitas antara hidup dan mati.”

Dia mengatakan bahwa dalam kebanyakan kasus, monster terbesar adalah pikiran yang tidak dapat disangkal tentang kemungkinan-kemungkinan  tentang apa yang sudah terjadi pada orang yang kamu cintai yang hilang.

Yang membuatnya tetap tenang adalah kepercayaannya kepada Tuhan dan keyakinannya bahwa suaminya ada di tangan Tuhan.

“Saya selalu memberi tahu anak-anak saya bahwa apa pun yang terjadi, kami percaya pada Tuhan. Jika Tuhan mengizinkan kami untuk mengetahui [keberadaan suaminya], ia akan memberi tahu kami yang sebenarnya,” katanya.

“Tapi saat ini, Tuhan tidak mengizinkan kami untuk tahu, jadi kami harus sabar dan terus berbuat baik kepada orang lain,” kata Angkhana kepada ucanews.com.

Latar belakang ‘multi-budaya’

Lahir dan besar di Bangkok, Angkhana memiliki latar belakang “multi-budaya”. Dia menggambarkan dirinya sebagai “setengah Buddha, setengah Muslim, dengan 14 tahun pendidikan Katolik.”

“Saya melihat bahwa semua agama mengajarkan orang untuk menjadi baik, dan sabar kepada orang lain, untuk berbuat baik kepada orang-orang di sekitar Anda,” katanya.

Dia mengatakan agamanya adalah “kebaikan,” dan kebaikan yang sama yang mengubah kemarahannya karena kehilangan suaminya, menjadi simpati dan keberanian.

“Saya pikir ini adalah jantung dari semua agama, bahwa mereka tidak hanya berbagi iman tetapi juga simpati kepada manusia lain,” katanya.

Dia menjabat sebagai komisioner hak asasi manusia di Thailand hingga saat ini. Dia mengatakan beberapa legislator mencoba menghentikan penyelidikannya.

“Untuk seorang komisioner hak asasi manusia, Anda tidak dapat memihak, Anda harus bersikap netral dan saya telah melakukan yang terbaik untuk melindungi semua orang,” katanya.

Karena “keberanian yang tak tergoyahkan dalam mencari keadilan bagi suaminya dan banyak korban kekerasan dan konflik lainnya di Thailand selatan,” Angkhana dinobatkan sebagai salah satu penerima Ramon Magsaysay Award tahun ini, penghargaan yang dikenal sebagai “Hadiah Nobel Asia.”

Badan pemberi penghargaan itu menyebut”pekerjaan sistematis dan tak kunjung padam Angkhana untuk mereformasi sistem hukum yang cacat dan tidak adil” dan menggambarkannya sebagai “bukti cemerlang bahwa orang biasa yang paling sederhana dapat mencapai dampak nasional dalam mencegah pelanggaran hak asasi manusia.”

Bekerja untuk hak asasi manusia

Pada tahun 2009, dengan bantuan organisasi non-pemerintah dan keluarganya sendiri, Angkhana mendirikan Yayasan Keadilan untuk Perdamaian, sebuah jaringan advokasi hak asasi manusia dan perdamaian yang mendokumentasikan situasi hak asasi manusia di Thailand selatan.

Sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim di negara yang sangat lekat dengan agama Budha, Thailand selatan telah berjuang berhadapan dengan konflik agama dan etnis sejak pemberontakan separatis mulai terjadi di wilayah itu pada tahun 1948.

Pemberontakan dan militerisasi telah menelan korban besar: dilaporkan bahwa lebih dari 6.000 orang tewas dalam konflik sejak 2004, sekitar 90 persen adalah warga sipil.

Kematian-kematian ini termasuk pembunuhan yang tidak terpecahkan terhadap lebih dari 30 aktivis masyarakat sipil dan hak asasi manusia.

Ada juga “penghilangan paksa,” salah satu yang paling terkenal di antaranya adalah hilangnya suami Angkhana pada 2004, pengacara hak asasi manusia Somchai Neelapaijit.

Somchai diculik di luar sebuah hotel di Bangkok sehari setelah ia secara terbuka menuduh militer menyiksa para tahanan di Thailand selatan.

Setelah dia menghilang, Angkhana melobi pemerintah untuk menindak kasus-kasus hak asasi manusia, memberikan bantuan hukum kepada para korban, dan melatih perempuan tentang hak asasi manusia dan proses perdamaian.

Pada 2015, Angkhana diangkat sebagai komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Thailand, satu-satunya anggota dengan pengalaman hak asasi manusia tingkat bawah.

Terlepas dari keraguan dari para pengkritik pemerintah, Angkhana menganggap penunjukannya dengan serius, berkomitmen kuat untuk mengambil pendekatan damai, hukum untuk memerangi pelanggaran hak asasi manusia dan melakukan apa yang dia bisa.

Sebagai komisioner, ia berhasil menemui jalan tengah dengan pihak berwenang agar tahanan memiliki akses ke pengacara dan keluarga mereka, dan bagi para korban untuk mendapatkan kompensasi finansial.

Orang-orang mengagumi transformasi ibu rumah tangga ini yang tidak menonjolkan diri menjadi pembela hak asasi manusia yang terkemuka. Namun Angkhana sendiri tidak terkejut.

Dengan nada bicara yang lembut dan terukur, dia mengatakan bahwa, “kebanyakan wanita mengalami konflik dan kekerasan dengan cara yang berbeda dari pria.”

“Pria sering berbicara tentang pembagian kekuasaan, bagaimana mereka ingin mengubah sistem, tetapi wanita, mereka sering berbicara tentang kualitas hidup, tentang pendidikan, bagaimana mereka dapat bertahan hidup,” katanya.

“[Itu sebabnya] saya sangat percaya pada para wanita,” tambahnya.

Simak wawancara Angkhana dengan ucanews.com dalam video di bawah ini:

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi