UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus Mengunjungi Thailand

September 13, 2019

Paus Fransiskus Mengunjungi Thailand

Paus Fransiskus melambaikan tangan kepada para pengunjung saat audiensi umum di Lapangan Basilika Santo Petrus di Vatikan. (Foto oleh Filippo Monteforte / AFP)

Paus Fransiskus akan mengunjungi Thailand pada bulan November untuk memberikan dukungan bagi Gereja Katolik di negara mayoritas Buddha itu.

Dia telah menerima undangan dari Konferensi Waligereja Thailand untuk menghabiskan empat hari di ibukota, Bangkok, dari 20-23 November sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepang.

Rincian jadwal kunjungan telah diumumkan dalam pernyataan media pada 13 September oleh Uskup Agung Paul Tschang In-Nam, Apostolik Nuncio Tahta Suci untuk Kerajaan Thailand, dan Kardinal Francis-Xavier Kriengsak Kovithavanij, presiden konferensi para uskup.

Menurut pernyataan itu, Paus Fransiskus mengunjungi Thailand dalam rangka “ziarah perdamaian dan untuk mempromosikan dialog antaragama.”

Kunjungan tersebut akan mencakup penerimaan paus oleh raja baru negara itu, Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn.

Paus Fransiskus juga akan melakukan upacara keagamaan dan kunjungan pastoral ke komunitas-komunitas Katolik di Thailand, yang berpenduduk 69 juta, 380.000 di antaranya adalah umat Katolik di 12 keuskupan dengan 436 paroki dan 662 imam.

Dia akan menjadi paus kedua yang mengunjungi negara Asia Tenggara itu setelah Paus St. Yohanes Paulus II, yang bertemu Raja Bhumibol Adulyadej pada 10 Mei 1984.

Pengumuman kunjungan paus ke Thailand menyusul spekulasi selama berbulan-bulan oleh media dan laporan yang belum dikonfirmasi.

Dari Thailand, Paus Fransiskus akan mengunjungi Tokyo, Nagasaki dan Hiroshima di Jepang mulai 23-26 November di mana ia diperkirakan akan berbicara menentang senjata nuklir.

“Mission de Siam” Vatikan

Gereja Katolik di Thailand pada tahun ini merayakan peringatan 350 tahun Misi de Siam Vatikan, yang dimulai pada 1669 selama kepausan Paus Clemens IX.

Ini juga merupakan peringatan ke-50 dari pembentukan hubungan diplomatik antara Thailand dan Tahta Suci serta juga peringatan ke-35 dari kunjungan pertama paus yang juga merupakan terakhir ke Thailand.

Pernyataan dari konferensi para uskup mencatat bahwa ada bukti historis bahwa Katolik pertama kali diperkenalkan ke Siam (nama Thailand sebelumnya) oleh para misionaris Dominika pada 1567 ketika Ayutthaya masih menjadi ibu kota.

Sejak 1669 dan seterusnya, para misionaris dan umat Katolik awam membawa teknologi barat dan pengetahuan yang mendukung pembangunan nasional sementara juga terlibat dalam berbagai kegiatan amal bagi umat Katolik dan non-Katolik, demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan di Bangkok.

“Sepanjang waktu ini, umat Katolik menerima dukungan terus-menerus dari para raja Thailand,” pernyataan itu menambahkan.

Raja Chulalongkorn Agung (Rama V) bertemu dengan Paus Leo XIII selama tur Eropa-nya pada 4 Juni 1897.

Penggantinya, Raja Prajadhipok (Rama VII), dan Ratu Rambai Barni bertemu dengan Paus Pius XI pada 21 Maret 1934.

Akhirnya, Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit mengunjungi Kota Vatikan dan bertemu dengan Paus St. Yohanes XXIII pada 3 Oktober 1963.

Pada tahun 1984, Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn, yang waktu itu adalah putra mahkota, secara pribadi menyambut Paus St. Yohanes Paulus II di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand Don Mueang dan mengantarnya untuk audiensi dengan Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej, Ratu Sirikit, dan Ibu Kerajaan Srinagarindra, di Aula Istana Dusit Mahaprasat di Grand Palace.

Belakangan, Paus St. Yohanes Paulus II bertemu dengan pemimpin spiritual Buddha, Yang Mulia Ariyavangsagatayana VIII (Vasana Vasano), patriark tertinggi ke-18 di Thailand, di Wat Ratchabophit sebelum mengadakan Misa di lapangan terbuka Stadion Nasional Supachalasai.

Paus juga mengunjungi kamp-kamp pengungsi, Gereja Katedral, seminari dan rumah sakit, serta menghadiri resepsi resmi di Kantor Pemerintah.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi