UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Lembaga Katolik di Papua beri pelatihan jurnalistik untuk para frater

Juni 15, 2022

Lembaga Katolik di Papua beri pelatihan jurnalistik untuk para frater

Para frater di Papua mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Sekretariat Fransiskan untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPC) pada 7-8 Juni. (Foto disediakan)

Sebuah lembaga Katolik di Papua memberikan pelatihan jurnalistik kepada para frater, membekali mereka agar bisa melaporkan peristiwa-peristiwa di daerah terpencil tempat mereka akan bertugas di tengah akses jurnalis yang masih terbatas.

Pelatihan oleh Sekretariat untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPC) Fransiskan pada 7-8 Juni ini diikuti oleh 28 frater dari Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Agats-Asmat, yang sebagian akan menjalani tahun orientasi pastoral di paroki-paroki di daerah terpencil.

Mereka mendapat sejumlah materi selama pelatihan, antara lain terkait evangelisasi baru melalui media sosial, teknik penulisan berita dan feature, keamanan digital dan evangelisasi melalui video pendek.

Yuliana Langowuyo, direktur eksekutif SKPC Fransiskan dan salah satu pemateri mengatakan pelatihan ini menargetkan para frater karena peran vital mereka dalam konteks Papua, di mana sebagai pelayan pastoral mereka tidak hanya menjalankan tugas pastoral umumnya tetapi juga diharapkan untuk peduli dan menyuarakan isu-isu sosial.

Ia menjelaskan, hal ini berdasarkan pada pengalaman mereka selama ini dimana para pelayan pastoral kerap kali menjadi sumber pertama untuk peristiwa di daerah terpencil yang sulit diakses, termasuk oleh jurnalis.

“Mereka adalah andalan kami. Dari merekalah kami bisa mendapat informasi-informasi primer, termasuk sebagai pembanding terhadap informasi-informasi yang berasal dari pihak penguasa dan dari media-media pro pemerintah,” katanya kepada UCA News.

“Kalau menunggu sampai jurnalis bisa ke pelosok-pelosok di Papua, maka narasi ketidakadilan dan masalah kemanusiaan lainnya yang terjadi di tengah masyarakat tidak akan bisa sampai ke publik dan advokasi kebijakan pun akan lebih sulit,” tambahnya.

Langowuyo mengatakan mereka telah melakukan pelatihan jurnalistik serupa sejak 2015 dengan jumlah peserta terbatas dari tarekat religius tertentu dan tahun ini adalah pertama kalinya melibatkan tiga keuskupan.

Victor Mambor, jurnalis senior dan pendiri Jubi, portal berita online populer di Papua mengingatkan para frater bahwa masalah yang terus dihadapi Papua adalah distribusi informasi yang tidak merata, terutama mengenai pergulatan masyarakat di daerah terpencil.

“Kalian dapat memberikan informasi sesuai dengan kaidah jurnalistik di tempat kalian melayani,” katanya kepada para frater, seperti dikutip Jubi.id.

Elieser Duganata, 28, seorang frater dari keuskupan Agats-Asmat, mengatakan meskipun waktu pelatihan ini singkat, ia merasa sangat terbantu untuk dapat mengidentifikasi isu-isu di masyarakat yang penting, berdampak luas dan perlu diketahui oleh banyak orang.

Ia mencontohkan masalah pendidikan, kesehatan dan gizi buruk di keuskupannya.

“Selama ini saya hanya fokus pada merefleksikan peristiwa-peristiwa itu untuk konteks kehidupan panggilan saya. Kini saya terbantu untuk menjadikan masalah-masalah itu sebagai perhatian bersama banyak orang dengan menulisnya,” katanya.

“Pelatihan ini membantu saya tentang cara menyajikan informasi yang baik, tepat, akurat dan bisa dipahami oleh banyak orang,” tambahnya.

Papua telah dilanda konflik sejak menjadi bagian dari Indonesia tahun 1969, dengan perlawanan terus menerus dari kelompok bersenjata pro-kemerdekaan.

Kebebasan pers di wilayah itu cukup buruk. Dalam Indeks Kebebasan Pers yang dirilis Dewan Pers pada Januari lalu, Papua masuk dalam kategori “agak bebas” dengan skor 68,87 dan menduduki peringkat ke-33 dari 34 provinsi.

Pemerintah Indonesia terus memberlakukan pembatasan terhadap jurnalis asing yang berkunjung ke wilayah tersebut.

Sementara itu, para aktivis hak asasi manusia kerap mengkritik media nasional arus utama karena dalam pemberitaan terkait Papua hanya berdasarkan klaim pemerintah dan aparat keamanan, jarang mengakomodasi suara orang Papua.

Sumber: Church group turns Indonesian seminarians into reporters


Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi