UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Panggilan imamat meningkat di Asia Tenggara

Juni 15, 2022

Panggilan imamat meningkat di Asia Tenggara

Umat Kristiani mementaskan peristiwa penyaliban Yesus dalam kebaktian Jumat Agung di Gereja Santo Yakobus di Bantul, Yogyakarta, pada 15 April. Paus Fransiskus menyebut Indonesia sebagai tempat untuk menemukan panggilan baru dalam kehidupan imamat dan religius. (Foto: AFP)

Oleh: Jose Mario Bautista Maximiano

Rata-rata satu imam berbanding 8.000 umat Katolik adalah sebuah gambaran yang pilu tentang panggilan imamat yang tidak mampu mengimbangi pertumbuhan penduduk. Data dari Direktori Gereja Katolik Filipina tahun 2021 menunjukkan lebih dari 120 uskup aktif dan 10.470 imam melayani 85 juta umat Katolik. Jumlah klerus tersebut sama seperti 10 tahun lalu, sementara jumlah populasi umat Katolik telah bertumbuh sejak saat itu.

Konferensi-konferensi internasional tentang panggilan klerus dan religius belum lama ini, khususnya di Barat, telah menunjukkan kekurangan imam karena banyak masalah pelik yang dihadapi Gereja. Paroki-paroki tanpa imam, altar-altar dan bangku-bangku kosong merupakan realitas yang menyedihkan di sejumlah bagian wilayah Amerika Utara dan Eropa — sebuah krisis yang disebabkan oleh klerus senior yang pensiun, ditambah mereka yang meninggalkan imamat dan panggilan yang menurun.

Skandal pelecehan seksual, ditambah dengan contoh-contoh yang tidak begitu baik yang ditunjukkan oleh para uskup di sepanjang koridor kekuasaan di Vatikan dan di tempat lain menjadi seperti tsunami yang menyapu kredibilitas Gereja selama lebih dari satu dekade sampai Paus Fransiskus menempati kursi Petrus tahun 2013 dan memulai reformasi radikal Kuria Romawi.

Perubahan telah muncul dan Gereja di Asia secara perlahan mengatasi krisis panggilan imamat.

Di Banglades, umat Katolik bisa menyaksikan 12 orang muda ditahbiskan sebagai diakon tahun 2022. Di negara mayoritas Muslim ini dengan 500.000 umat Katolik atau sekitar 0,4 persen dari total penduduk, Gereja merayakan anugerah munculnya para pekerja baru di kebun anggur Tuhan.

Direktur nasional Serikat Misi Kepausan (PMS) Banglades, Pastor Rodon Robert Hadima, secara rutin menyampaikan kepada orang tua “untuk tidak takut dan membiarkan anak-anak mereka menghayati kehidupan religius.”

Dalam pandangan Katolik, imamat suci adalah Gunung Everest dari semua pendaki gunung spiritual, tidak ada kemah yang lebih tinggi dan cita-cita yang lebih tinggi daripada itu. Mendaki puncak bukanlah tugas yang mudah, karena tidak dapat dicapai tanpa disiplin yang tinggi, keberanian, hubungan dekat dengan Tuhan dan kerja keras.

Untuk komunitas Geraja Asia yang sedang berkembang, orang-orang  yang matang, yang memiliki hati yang cukup besar untuk mengambil tantangan tersebut, orang-orang dengan hati pemberani bagi siapapun, yang ketika berada di puncak, tidak mengutamakan kepentingan diri, tetapi [seperti kata-kata Yesus] “Pikullah salibmu dan ikuti Aku!”

Setiap uskup Asia yang menahbiskan imam baru mengetahui bagaimana kerasnya  mempromosikan imamat suci di kalangan para pria dewasa dan memasarkan sebuah “paket gaya hidup yang terdiri dari selibat, pria, purnawaktu dan abadi.”

Pada Maret lalu, Paus Fransiskus membuat kagum orang Asia ketika ia menyebut Indonesia sebagai sebuah tempat untuk menemukan panggilan imamat dan religius.

“Pastor, [ketika] tidak ada panggilan sekarang, kita pergi saja ke sejumlah pulau di Indonesia untuk melihat apakah kita bisa menemukan satu di sana,” kata paus Yesuit itu dalam homilinya saat Misa untuk menandai Hari Doa Sedunia ke -26 untuk Hidup Bakti di Roma.

Di hari sebelumnya, Uskup Agung Makassar Mgr John Liku Ada, menahbiskan tujuh imam baru di Tanah Toraja.  Di seluruh Indonesia, dari Jawa Tengah, Jakarta, Papua, Sumatra Utara hingga Yogyakarta, panggilan dan seminaris sedang bertumbuh subur.

Di Manado, ibukota provinsi Sulawesi Utara, panggilan imamat dan religius meningkat. Antara tahun 2015-2017, sedikitnya 10 imam diosesan dan 11 imam Misionaris Hati Kudus (MSC) ditahbiskan. Pastor Albertus Sujoko MSC, Ketua Seminari Tinggi MSC Pineleng, mengatakan “dalam 20 tahun terakhir ada pertumbuhan jumlah imam yang drastis.”

Pada Januari, Uskup Aging Seoul Mgr Peter Chung menahbiskan 23 imam baru di Katedral Myeongdong, melengkapi 5.400 imam yang melayani sekitar 6 juta umat Katolik di lebih dari 1.700 paroki seluruh peninsula.

Tiga dari 23 imam baru tersebut adalah anggota dari the Seoul International Catholic Missionary Society, sebuah institusi yang didirikan oleh Keuskupan Agung Seoul tahun 2005 yang mengirim para misionaris ke Amerika Latin. Agama Katolik di Korea Selatan telah mentransformasi dari sebuah “Gereja menerima” ke sebuah “Gereja yang memberi,” kata uskup agung itu.

Pada Desember 2021, Gereja di Vietnam bersukacita ketika 38 orang muda ditahbiskan. Uskup Agung Hanoi Mgr Joseph Vu Van Thien menyambut 15 imam baru, yang bisa “menjadi penuai yang terampil, ingin pergi ke ladang untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan.”

Sementara itu, Uskup Emmanuel Nguyen Hong SonBa Ria di Vietnam bagian Selatan menahbiskan 6 imam Yesuit di kapel Akademi St. Joseph. Jauh di utara, di Keuskupan Lang Son di pegunungan, Mgr Joseph Chau Ngoc Tri menahbiskan 9 imam baru.

Sebelumnya, di musim panas tahun lalu, Vietnam menyaksikan pentahbisan 46 imam baru dan 8 diakon baru, yang berjanji mendedikasikan diri mereka menjadi misionaris, 8 di antaranya adalah Redemptoris. Di tahun yang sama, sekitar 250 religius pria dan religius wanita mengikrarkan kaul kekal mereka.

Akhirnya, saya bisa hanya menggemakan sentimen dari Pastor Paulus Halek Bere dari Indonesia, yang mengatakan sekarang “giliran kita untuk menjalankan misi.” Ya, sekarang giliran Asia untuk menjalankan misi ad gentes, kepada bangsa-bangsa.

Jose Mario Bautista Maximiano adalah penulis The Signs of the Times and the Social Doctrine of the Church’ (Salesiana, 1991) dan ‘The Church Can Handle the Truth’ (Clarentian, 2017)

Sumber: The rise of priestly vocations in Southeast Asia

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi