UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Penyanyi K-pop terkenal gemakan pesan Paus Fransiskus

Juni 16, 2022

Penyanyi K-pop terkenal gemakan pesan Paus Fransiskus

Seorang staff berdiri dekat spanduk yang menunjukkan foto-foto band K-pop – anggota BTS dari Korea Selatan di Seoul pada 19 November 2020. (Foto: AFP)

Oleh: Pastor Shay Cullen

Para bintang pop remaja terkenal dari Korea Selatan bersama-sama merekam sebuah video untuk menyambut Paus Fransiskus pada Agustus 2014 saat kunjungan kepausan pertama ke negara Asia Timur itu setelah 25 tahun. Video berjudul Koinonia itu yang berarti kebersamaan, digubah oleh K-pop veteran Noh Young-shim.

Negara itu memiliki sekitar 5,4 juta umat Katolik atau hampir 10 persen dari populasinya  – dan dikenal memiliki banyak bintang pop dan aktor.

Di antara kelompok K-pop yang paling terkenal adalah BTS. Sementara mereka itu bukanlah Katolik atau tidak beragama, para anggotanya telah meresapi nilai-nilai Injil dan menampilkannya belum lama ini di Gedung Putih di Washington DC setelah diundang oleh Joe Biden, Presiden Amerika Serikat (AS) yang beragama Katolik.

Mereka memberitahu dunia bahwa diskriminasi rasial dan kebencian yang dihadapi secara langsung oleh orang-orang Amerika keturunan Asia adalah secara moral salah, sebuah pelanggaran hak asasi, dan bahwa menghormati dan mencintai martabat setiap orang adalah kebaikan terbesar. Ini adalah sebuah pesan yang memiliki daya tarik dan relevansi di seluruh dunia.

Dalam penampilan itu yang disaksikan ulang ribuan kali di seluruh dunia, satu kelompok pria itu menjangkau banyak orang dengan sebuah pesan yang dahsyat tentang martabat manusia.

Banyak kaum muda seluruh dunia skeptis, tidak percaya dan memberontak terhadap orang tua yang keras dan masyarakat yang korup dan  menderita akibat pelecehan seksual. Kelompok itu menggemakan pesan Paus Fransiskus ketika ia berbicara kepada para korban pelecehan.

Kaum muda sekarang dibungkam oleh para politisi dan orang dewasa yang kasar. Presiden AS itu mengundang BTS untuk membantu menyebarkan pesan ini demi menentang diskriminasi rasial dan mendukung orang-orang Asia, termasuk orang Filipina.

Itu adalah sebuah langkah bijak Biden,  seorang Katolik taat yang membela hak asasi, dengan mengundang para penyanyi BTS ke Gedung Putih.

Kelompok itu terdiri dari 7 anggota, yang dikenal sebagai penyanyi dan penari yang hebat. Mereka adalah J-Hope, Suga, Jungkook, V, Jin, RM and Jimin. Mereka menulis lagu-lagu mereka sendiri peduli pada isu sosial dan hak-hak, yang merupakan kekuatan untuk kebaikan.

Mereka memiliki ratusan juta fans orang muda yang memiliki pengaruh positif yang dahsyat bagi orang tua mereka.

Lagu-lagu mereka diputar secara terus menerus dimanapun. Meskipun mereka tidak menunjukkan agama mereka, mereka memiliki iman dalam nilai-nilai Kristen tentang kesetaraan, keadilan dan menghormati semua manusia meskipun berbeda ras, status atau bangsa, seperti Yesus dari Nazareth.

Mereka mempromosikan nilai-nilai tertinggi yang dideklarasikan oleh Paus Fransiskus di Korea dan tempat lain yang mengecam kejahatan, kebencian, kekerasan dan diskriminasi terhadap 24 juta orang Asia-Amerika di AS, yang mencakup  7,2 persen dari penduduk, dan diskriminasi terhadap orang-orang Asia dimanapun.

Dari podium Gedung Putih, mereka mengatakan: “Kita dihancurkan oleh kebencian yang jahat, termasuk kebencian yang jahat terhadap orang-orang Asia-Amerika yang meningkat baru-baru ini. Untuk menghentikan ini, kami ingin mengambil kesempatan ini untuk menyuarakan diri kami sekali lagi,” kata Jimin.

Kemudian Suga mengatakan: “Perbedaan itu tidak salah. Saya berpikir kesetaraan mulai ketika kita membuka diri dan merangkul semua perbedaan kita.”

Dan V menegaskan: “Setiap orang memiliki sejarah sendiri. Kita berharap bahwa hari ini merupakan satu langkah yang lebih dekat untuk menghormati dan memahami satu sama lain sebagai seorang pribadi yang bernilai.”

J-Hope mengatakan: “Kami berada disini sekali lagi, berterima kasih kepada ‘army’ kami, fans kami di seluruh dunia, yang memiliki nasionalitas dan budaya berbeda dan menggunakan bahasa berbeda. Kita benar dan selalu bersyukur.”

Jungkook menambahkan: “Kita masih kagum bahwa musik yang diciptakan oleh para artis Korea Selatan menjangkau banyak orang di seluruh dunia, melampaui hambatan bahasa dan budaya. Kita yakin musik selalu menjadi pemersatu yang luar biasa dan indah dari semua hal.”

Dengan rasa sedih, ada juga banyak diskriminasi dan rasisme di Filipina, dimana banyak orang kelas menengah dan atas yakin bahwa ketika itu menyangku warna kulit, kulit putih adalah yang bagus.

Mereka menghabiskan banyak uang untuk membeli krim pemutih kulit berbahaya yang mengandung merkuri yang dipromosikan oleh perusahaan kosmetik untuk berusaha menyamai dan meniru para selebritas berkulit putih dan bintang film.

Mereka secara salah menolak dan meremehkan warna kulit asli mereka sendiri dan warisan kayumanggi, menganggapnya lebih rendah dan tidak layak bagi mereka. Mereka gagal melihat dan menghargai keindahan alamiah warisan mereka sendiri. Yang terburuk, mereka membahayakan kesehatan mereka dengan produk-produk rasis ini.

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mencantumkan kerusakan yang dapat disebabkan oleh produk ini: kerusakan ginjal, ruam kulit, perubahan warna kulit dan jaringan parut, penurunan daya tahan kulit terhadap infeksi bakteri dan jamur, kecemasan, depresi, psikosis, dan neuropati perifer.

Rasisme tidak hanya dalam produk pemutih kulit tetapi pertama dalam pikiran dan hati orang-orang yang tumbuh dalam budaya rasis. Masyarakat adat Filipina diperlakukan sebagai inferior oleh oligarki elit yang terdiri dari keluarga-keluarga dinasti yang mencaplok tanah adat leluhur untuk mengekstraksi mineral, menyebabkan kerusakan lingkungan dan kemiskinan serta penindasan yang lebih besar.

Mereka telah memerintah dengan konsekuensi bencana selama beberapa generasi sementara sepertiga penduduk Filipina bertahan hidup di berbagai tingkat kemiskinan. Ribuan orang Filipina yang terabaikan dan terlupakan (hingga waktu pemilu) bertahan hidup dari sampah dan mendaur ulang sisa makanan dari piring pengunjung restoran.

Orang kaya dan kaya hidup dalam kepompong mewah ketidaktahuan dan sikap apatis sementara jutaan orang kelaparan. Elit penguasa tidak memiliki rasa malu, tidak ada kebanggaan nasional untuk membuat Filipina menjadi negara dengan orang-orang yang berpendidikan dan makmur serta bebas kemiskinan dalam masyarakat dunia. Mereka telah membiarkannya menjadi negara yang dimiliki oleh segelintir orang super kaya di lautan para pengemis, para penghuni kawasan kumuh dan orang miskin yang tidak berpendidikan dan dibebani pajak yang berat, dan kelas menengah yang sedang berjuang.

Mereka tidak memperhatikan bahwa ratusan ribu anak dieksploitasi secara seksual di keluarga miskin mereka dan dijual melalui internet sebagai budak seks oleh para pedagang manusia demi kepuasan seks para wisawan asing dan para pedofil. Pemerintahan baru dan para hirarki serta klerus Filipina hendaknya mengindahkan nasehat Paus Fransiskus ketika ia mendeklarasikan bahwa perlindungan anak-anak adalah prioritas utama Gereja Katolik dan tugas setiap orang, khususnya umat Kristen.

*Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi UCA News.

Sumber: Message of Pope Francis is echoed by Korean pop singers

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi