UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik terlibat atasi masalah gelombang panas di Pakistan

Juni 17, 2022

Umat Katolik terlibat atasi masalah gelombang panas di Pakistan

Umat paroki menikmati minuman gratis pada Hari Minggu  Pentakosta di Katedral Hati Kudus di Pakistan. (Foto: Kamran Chaudhry/UCA News)

Tariq Masih dan teman-temannya menyiapkan es jeruk saat Misa Hari Minggu Pentakosta di Katedral Hati Kudus, Lahore berakhir.

“Air jeruk gratis. Kembalikan saja gelasnya,” ia berteriak saat umat paroki bergegas ke sabeel (warung tradisional yang menyediakan minuman) di pelataran Gua Maria.

Varian rasanya termasuk Black Salt, yang biasa disebut Kala Namak oleh warga lokal,  dicampur dengan larutan garam dan gula. Lebih dari 500 orang, termasuk lansia, dilayani di sabeel pada 6 Juni. Hari Minggu itu ada juga Rooh Afza, jenis minuman khas dengan rasa bunga awar yang dicampur dengan es batu.

“Kami terus mengganti minuman untuk menyegarkan para pengunjung gereja yang bersusah payah di tengah gelombang panas yang memecahkan rekor. Sabeel akan berlanjut hingga musim hujan tiba,” kata Masih, yang berusia 43 tahun kepada UCA News.

Sebagai seorang anggota kelompok Khidmat (pelayan) katedral, sebutan untuk petugas kebersihan Katolik ia mengumpulkan  200 rupe (sekitar US$1) untuk mampu membiyai 40 liter air minum. Kelompok yang terdiri dari 12 orang itu, termasuk remaja, memulai layanan minuman gratis tersebut tahun lalu setelah dua wanita paruh baya pingsan usai Misa di gereja.

“Otoritas Gereja telah memasang generator untuk menjaga agar para peminat tetap datang ke warung ini, tetapi kami mengelolanya secara mandiri. Ini terutama ditujukan untuk menjaga agar perempuan dan anak-anak tetap sehat,” kata Masih, yang memakai sebuah lencana Pentekosta di kemejanya.

Kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi Gereja mengadakan kegiatan serupa karena suhu panas di seluruh Pakistan dalam beberapa pekan terakhir telah memaksa sekolah-sekolah tutup, merusak tanaman, memberi tekanan pada pasokan energi dan membuat warga  tetap berada di dalam rumah.

Keprihatinan terkait kesehatan diperparah dengan pemadaman listrik hingga 12 jam setiap hari di seluruh negara itu yang sedang menghadapi kekurangan air yang parah.

Gelombang panas diperkirakan telah mengakibatkan 90 orang tewas di seluruh India dan Pakistan, demikian  menurut laporan media. Lebih dari 50 domba mati akibat gelombang panas di padang Cholistan yang luas, Provinsi Punjab.

Di Jacobabad, Provinsi  Sindh,  salah satu kota terpanas di dunia, dengan 51 derajat Celsius bulan, tiga orang anak meninggal karena  cuaca panas yang parah di daerah Kaccho, Sindh.

Tariq Masih (kiri) melayani air jeruk es pada Hari Minggu Pentakosta di katedral di Lahore. (Foto: Kamran Chaudhry/UCA News)

  

Caritas turun tangan

Kebun binatang di beberapa kota telah menyatakan “darurat gelombang panas” dan para penjaga bergegas memasang pendingin udara dan meletakan balok es pada hewan-hewan itu untuk membantu mereka melawan teriknya matahari.

Di bawah program tanggap daruratnya, Caritas Karachi Pakistan (CPK) juga memelopori sebuah kampanye penyadaran gelombang panas dan kegiatan bantuan di daerah kumuh dan sekolah-sekolah di kota pelabuhan itu.

Tahap pertama tentang pencegahan pitam panas untuk mengendalikan panas tubuh, yang diadakan pada 14 Mei bersama kaum perempuan di wilayah Lalo Khet, Paroki Santo Filipus.

“Kita menyaksikan sebuah gelombang panas serupa di paroki itu tahun 2015,” kata Mansha Noor, sekretaris eksekutif CPK, kepada UCA News.

“Berbagai titik telah diidentifikasi untuk menempatkan alat pendingin air dan menyediakan air dingin yang aman bagi orang yang lewat di wilayah Paroki St. Mikhael, Paroki St. Paulus dan Paroki St. Yohanes di Keuskupan Agung Karachi. Brosur-brosur tentang penyadaran gelombang panas juga didistribusikan serta dibagikan di media sosial,” karanya.

Serikat Misi Pak (PMS), sebuah organisasi bantuan dan pengembangan organisasi yang dikelola oleh para profesional Kristen, mendirikan kamp pitam panas selama empat hari yang menyajikan air dingin dan bubur hingga 16 Mei di Rumah Sakit Kristen Kunri di Umerkot, Provinsi Sindh.

PMS   mengadakan konferensi nasional di Islamabad pada 7 Juni untuk mengeksplorasi “solusi berkelanjutan tentang perubahan iklim” untuk untuk menandai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Pastor Liam O’Callaghan, Koordinator Komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Ciptaan  (JPIC) Pakistan  dari Keuskupan Hyderabad mengungkapkan keprihatinan tentang dampak gelombang panas mematikan itu di seluruh  Pakistan.

“Dampaknya di Sindh adalah dramatis. Listrik menuntut daya yang besar karena warga  sangat membutuhkan pendinginan. Suhu panas menyebabkan tingkat debu dan ozon yang lebih tinggi, yang menyebabkan polusi udara yang tinggi. Panasnya juga menyebabkan lebih banyak pencairan es di wilayah utara, yang dapat menyebabkan banjir di kemudian hari,” kata imam Columban dari Irlandia itu kepada UCA News.

“Sayangnya, itu bukan agenda politik, dan Pakistan tidak berkomitmen untuk menargetkan nol karbon (zero carbon)  dalam kesepakatan  internasional. Sekitar 60 persen energi Pakistan berasal dari batubara, minyak bumi dan gas alam, yang semuanya mengarah ke perubahan iklim secara langsung,” katanya.

“Perencanaan perkotaan yang lebih baik, menanan pohon, memvuat ruang hijau, memperbaiki  infrastruktur air, mengontrol polusi dan ramalan cuaca yang lebih tepat dapat membantu memastikan bahwa lebih sedikit orang yang menderita karena suhu yang terus naik,” tambahnya.

Pastor O’Callaghan juga khawatir dengan umat Kristiani di Keuskupan  Hyderabad.

“Warga perkotaan di daerah padat penduduk sering kekurangan infrastruktur untuk bertahan hidup dari pengaruh panas. Penduduk pedesaan yang bekerja terutama di bidang pertanian atau pekerjaan kasar sering kali bekerja di siang hari yang panas. Ada peningkatan besar dalam penyakit yang berhubungan dengan panas,” katanya.

Banyak karya dari Komisi Ekologi Keuskupan Hyderabad selama beberapa tahun terakhir fokus pada karya paroki dan kelompok sekolah, membantu mereka sadar akan krisis lingkungan karena hal itu terkait dengan kesehatan dan ekonomi keluarga.

Sumber: Catholics beat the heat as Pakistan-swelters

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi