UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Katolik Bangladesh fasilitasi pelatihan musik gereja

Juni 20, 2022

Gereja Katolik Bangladesh fasilitasi pelatihan musik gereja

Para penyanyi dan pemimpin koor Katolik menghadiri pelatihan nasional tentang liturgi dan musik gereja di Seminari Tinggi Roh Kudus di Dhaka, ibu kota Bangladesh. (Foto tersedia)

 

Selama lebih dari tiga dekade, Ruma Brizita Biswas menyanyikan beberapa lagu liturgi dan rohani populer dengan notasi dan lirik yang salah karena tidak ada yang mengajarinya bagaimana cara menyanyikannya dengan benar.

“Salah satu lagu favorit saya adalah Jishu ghrinar rajjye enechho tomar prem (Yesus, Engkau menghadirkan kasih-Mu di kerajaan kebencian), tapi saya salah menyanyikannya sepanjang hidup saya sebagai ‘Yesus membawa cinta ke kerajaan kebencian-Mu.’ Hal yang sama juga terjadi pada lagu-lagu lain,” kata Biswas, seorang Katolik Bengali, kepada UCA News.

Pria berusia 40 tahun itu adalah pemimpin koor Paroki Katedral St. Yosep Keuskupan Khulna di Bangladesh bagian selatan. Paroki ini memiliki sekitar 5.000 umat Katolik.

Sebuah program pelatihan musik yang diadakan Gereja di ibu kota negara Dhaka telah membantunya mengoreksi lirik-lirik yang salah, katanya.

Biswas adalah salah satu dari 50 peserta pelatihan nasional liturgi dan musik gereja oleh Komisi Liturgi dan Doa Konferensi Waligereja Bangladesh di Seminari Tinggi Roh Kudus pada 3-9 Juni. Di antara para peserta adalah dua imam, 11 suster dan umat awam yang mewakili delapan keuskupan di negara itu.

Peserta mempelajari konsep dasar yang berkaitan dengan liturgi, devosi dan pentingnya musik liturgi. Mereka juga mempelajari cara membaca notasi yang benar dari lagu-lagu yang disediakan oleh pelatih. Mereka juga dilatih untuk memilih lagu-lagu yang sesuai untuk acara-acara seperti pembaptisan, pernikahan, pemakaman, dan pesta-pesta tertentu.

“Saya tidak pernah tahu bahwa lagu-lagu tertentu harus dipilih untuk liturgi tertentu dan untuk bagian-bagian tertentu dari Misa Kudus. Ini adalah pembelajaran berharga bagi saya dari pelatihan ini,” katanya.

Pelatihan nasional itu adalah program tahunan yang diadakan sejak tahun 1970-an yang bertujuan untuk membuat liturgi lebih partisipatif dan harmonis, kata Pastor Peter Chanel Gomes, sekretaris Komisi Liturgi dan Doa.

Ia mengatakan mereka berupaya mendisiplinkan liturgi dan musik gereja di Banglades agar sejalan dengan ajaran Konsili Vatikan II.

Program tahun ini digelar setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19.

“Masalah ada dalam liturgi dan musik di tingkat keuskupan dan paroki. Penggunaan lirik dan yang salah, penggunaan alat musik yang berlebihan, pemilihan lagu yang tidak tepat, terutama selama Misa, adalah masalah utama,” kata Pastor Gomes kepada UCA News.

Konsili Vatikan II mengizinkan inkulturasi liturgi dan musik “tetapi kita perlu memastikan semuanya disiplin,” kata imam itu.

Dia mengatakan tim dari keuskupan telah dilatih dan akan melatih kelompok koor di paroki.

Pastor Patrick Gomes, seorang ahli Kita Suci dan musisi Katolik terkemuka, adalah salah satu pelatih. Dia memberi penekanan bahwa musik yang benar diperlukan untuk membantu kesakralan upacara liturgi.

“Kita telah mengetahui bahwa makna dan tujuan lagu berubah jika lirik-liriknya digunakan secara salah. Alat-alat musik harus membantu musik liturgi” dan tidak boleh mengganggu dan mengalihkan perhatian orang, katanya.

Ketika lagu-lagu yang dimaksudkan untuk dinyanyikan saat Komuni malah dinyanyikan untuk persembahan, “menghancurkan makna” dari lagu-lagu itu, kata imam itu merujuk pada masalah yang kerap terjadi.

Pastor Gomes, dari Keuskupan Rajshahi di Bangladesh bagian utara, juga mencatat bahwa karena devosi populer kepada beberapa orang kudus, ada kecenderungan di antara umat Katolik untuk menyanyikan lagu-lagu yang dipersembakan untuk orang-orang kudus, alih-alih kepada Yesus selama Misa pada hari-hari raya.

“Misalnya, St. Antonius adalah orang kudus yang populer, tetapi dia tidak lebih penting dari Yesus. Jadi, ketika kita menyanyikan lagu-lagu untuk santo itu selama Misa, itu meremehkan iman kita,” kata imam itu, seraya menambahkan bahwa lirik-lirik beberapa lagu juga tidak selaras dengan Kitab Suci.

Pastor Gomes mengacu pada devosi kepada St. Antonius dari Padua, orang kudus kelahiran Portugal yang terkenal karena kekuatan mukjizatnya. Ada beberapa gua di Banglades yang didedikasikan untuk orang suci itu, yang setiap tahun telah menarik minat puluhan ribu orang Kristen dan non-Kristen.

Bangladesh, negara mayoritas Muslim, memiliki sekitar 400.000 umat Katolik dari 160 juta populasi.

“Saya pikir setiap keuskupan harus memiliki dua atau lebih orang terlatih yang dapat menangani musik liturgi. Mereka akan bertanggung jawab atas pemilihan dan nyanyian lagu yang tepat. Kurikulum di seminari juga harus mencakup kursus musik liturgi,” tambah Pastor Gomes.

Rinku Biswas, 40, seorang Katolik etnis Paharia dan pemimpin paduan suara dari Paroki Ratu Diangkat ke Surga di Keuskupan Rajshahi, mengatakan semua paroki memiliki kelompok koor tetapi kebanyakan dari mereka tidak terlatih. Mereka belajar menyanyi dari senior mereka tanpa pelatihan apapun, katanya.

“Pelatihan seperti itu perlu dilakukan setidaknya satu bulan dalam setahun. Ada begitu banyak yang harus dipelajari dan diperbaiki. Dalam program lima hari ini kami setidaknya belajar hal yang akan mengembangkan musik gereja di paroki saya,” kata Biswas kepada UCA News.

Ia mengatakan bahwa dia belajar musik ketika masih menjadi siswa sekolah di asrama yang dikelola Gereja dan hanya sekali mengikuti pelatihan singkat tentang musik di keuskupannya.

“Saya sekarang menyadari bahwa pelatihan itu penting untuk seni kreatif seperti musik, dan ketika berkaitan dengan musik gereja, kita harus lebih berhati-hati karena itu berdampak pada kebaktian orang-orang yang menghadiri upacara liturgi. Saya telah belajar sedikit tetapi saya perlu belajar lebih banyak lagi,” tambahnya

Baik Ruma maupun Rinku meyakini bahwa otoritas Gereja di tingkat keuskupan harus mengatur pelatihan reguler untuk mengembangkan musik gereja setempat.

“Saya kira program pelatihan seperti ini akan berdampak nyata jika dilakukan di tingkat keuskupan secara rutin bagi anggota koor paroki. Ini akan membantu membuat musik liturgi dan Gereja lebih partisipatif,” kata Ruma Biswas.

Sumber: Church music hits right note in Bangladesh

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi