UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kita semua harus melawan rasisme kolonial

Juni 20, 2022

Kita semua harus melawan rasisme kolonial

Para migran di atas perahu Pasukan Perbatasan Inggris setelah mereka dijemput di laut ketika mencoba menyeberangi Selat Inggris dari Prancis pada 16 Juni. Berdasarkan perjanjian Inggris dengan Rwanda, semua migran yang tiba secara ilegal di Inggris dapat dikirim ke negara Afrika Timur ribuan mil jauhnya untuk memproses dan penyelesaian. (Foto: AFP)

Oleh: Pastor Shay Cullen

Kejahatan dan kekejaman karena penjajahan (kolonial) selalu berada bersama kita. Pada 1 April, Paus Fransiskus mengungkapkan “kesedihan dan rasa malu” atas pelecehan terhadap penduduk asli Kanada oleh Gereja Katolik. Para penguasa kolonial telah menerapkan hukum-hukum mereka dan kejahatan kejam terhadap negara-negara yang diduduki dan dieksploitasi. Para korban telah menderita kehilangan identitas, nilai-nilai budaya dan moral dan telah dirusak oleh keburukan para mantan penguasa dan penjajah kolonial.

“Adalah sangat mengerikan memikirkan upaya yang gigih untuk menanamkan rasa rendah diri, merampas identitas budaya masyarakat, memutuskan akar mereka, dan mempertimbangkan semua efek pribadi dan sosial yang terus berlanjut: trauma berlanjut yang telah menjadi trauma antargenerasi,” kata paus, merujuk pada pelecehan di sekolah-sekolah asrama yang dikelola oleh klerus Katolik.

Dia bisa saja berbicara tentang sekolah asrama serupa di Australia yang merampok budaya dan tanah-tanah penduduk asli.

Di Filipina, kebijakan kolonial memungkinkan industri seks besar-besaran bertumbuh di sekitar pangkalan militer Amerika Serikat, kerja sama jaringan di Filipina yang korup yang mengeksploitasi rakyat mereka sendiri. Otoritas Katolik tetap diam tentang eksploitasi jahat sepanjang era pangkalan militer.

Paus Fransiskus memiliki kata-kata yang akan berlaku juga untuk orang Filipina ketika dia mengatakan kepada penduduk asli Kanada pekan lalu “tidak benar menerima kejahatan dan, lebih buruk lagi, terbiasa dengan kejahatan, seolah-olah itu adalah bagian yang tak terhindarkan dari proses sejarah.”

Raja Philippe dari Belgia, seorang Katolik, dalam sebuah perjalanan penebusan dosa belum lama ini ke Republik Demokratik Kongo, menyatakan penyesalannya atas sejarah kolonial yang brutal di mana jutaan orang Kongo tewas dalam perbudakan di tanah mereka sendiri. Kekerasan dan eksploitasi terhadap rakyat yang terus menerus oleh kelompok bersenjata yang memperebutkan kekayaan mineral adalah warisan kolonial di sana.

Lebih dari satu juta orang telah melarikan diri dari kekerasan dan perang dan hidup sebagai pengungsi di kamp-kamp di Turki dan Yordania. Mereka melarikan diri dari Suriah bersama istri dan anak-anak mereka untuk menghindari pemboman serampangan  dan serangan kimia oleh penyalahgunaan kekuasaan (tiran) Assad yang didukung oleh Rusia. Warga lainnya melarikan diri dari pembunuh, regu eksekusi, pemeras dan geng kriminal.

Negara-negara Barat harus bertanggung jawab atas keterlibatan mereka yang menyebabkan atau membantu beberapa konflik ini, seperti dengan mempersenjatai Arab Saudi dan lainnya untuk menyerang Yaman dan menginvasi Irak.

Inggris adalah tujuan dari banyak pengungsi yang melarikan diri dari perang dan menghindari ancaman kematian dari para tiran yang didukung Inggris. Pemerintah Boris Johnson ingin menghentikan mereka dan lebih banyak lagi yang datang, seperti halnya Belgia, Prancis, Italia, dan Belanda.

Inggris, yang dengan bodohnya meninggalkan Uni Eropa (UE) untuk menyingkirkan warga Eropa, sedang mengalami krisis ekonomi. PM Johnson mencoba secara sepihak mengubah perjanjian Brexit atas Irlandia Utara yang akan melanggar hukum internasional dan pasti mengarah pada pembatalan perjanjian perdagangan vital dengan UE.

Jika memungkinkan, Johnson akan menyingkirkan para pekerja kesehatan Filipina dari Inggris, tetapi dia tidak berani. Terlalu sedikit miliknya sendiri. Namun, Johnson dan politisi lainnya bertekad untuk menyingkirkan para pencari suaka dan pengungsi tertentu. Dalam beberapa tahun, beberapa dari mereka mungkin berasal dari Skotlandia jika berhasil memenangkan kemerdekaannya dari Inggris, mengakhiri 1.000 tahun pemerintahan kolonial dan bergabung dengan UE, seperti halnya Irlandia Utara.

Namun, Inggris telah membuka tangan menyambut lebih dari 60.000 pengungsi Ukraina dalam beberapa bulan terakhir. Mereka melarikan diri dari pemboman Rusia dan telah diberikan status pengungsi istimewa langsung dan disambut di rumah keluarga Inggris. Mereka berkulit putih, Kristen, dan Barat, terdidik — “sama seperti kita,” kata politisi dan pejabat Inggris yang ramah.

Namun, memalukan dan aib abadi Inggris, para pencari suaka dan pengungsi Muslim berkulit gelap yang melarikan diri dari pemboman serupa oleh Rusia dan Assad di Suriah dan perang lainnya ditahan di penjara imigrasi dan ditangkap di pantai saat mereka mendarat. Pengungsi Ukraina berkulit putih adalah oke, Muslim berkulit gelap tidak untuk Inggris sekuler dan negara-negara lain yang mendiskriminasi ras. Jika dikembalikan ke negara asalnya, mereka kemungkinan besar akan dipenjara, disiksa atau dibunuh.

Kebijakan kejam baru oleh pemerintah Inggris menyatakan mereka ilegal atau kriminal dan bertujuan mendeportasi mereka tanpa bukti kesalahan di tanah Inggris dan tanpa mendengar klaim suaka yang sah sebagaimana diatur oleh hukum internasional.

Ini merupakan sebuah pelanggaran hukum internasional dan kemanusiaan mengenai hak-hak pencari suaka. Orang-orang miskin ini sudah sangat menderita. Ini adalah hukuman yang keras, kejam, tanpa keadilan dan kasih sayang. Ini disetujui oleh para hakim Inggris yang kejam yang leluhur kolonialnya mendeportasi 160.000 pria dan wanita Irlandia ke Australia seumur hidup untuk kejahatan kecil.

Tidak ada orang Ukraina yang akan dideportasi, kecuali mereka berkulit gelap. Kebijakan deportasi ini adalah rasisme yang berdosa, membawa aib dan memalukan bagi pemerintah Inggris.

Gereja Inggris dan Wales serta sebagian besar badan amal dan organisasi non-pemerintah Inggris menentangnya. Tindakan hukum oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa menghentikan penerbangan deportasi pertama tetapi lebih banyak lagi yang akan datang. Inggris memiliki kesepakatan yang ditandatangani dengann Rwanda dan telah membayar sekitar US$150.000 kepada Rwanda untuk menerimanya. Dibuang seperti sampah yang tidak diinginkan.

Kebijakan rasis yang tidak manusiawi untuk menghukum dan mendeportasi orang karena pelanggaran atau “kesalahan” kecil bukanlah hal baru. Itu adalah praktik umum bagi Inggris di Irlandia Katolik yang didudukinya. Ketika Irlandia menderita kelaparan dan mati kelaparan, mereka akan menghukum siapa pun atas pelanggaran kecil seperti mengambil sepotong roti untuk keluarga yang kelaparan dan menggunakannya untuk menjatuhkan hukuman kejam berupa deportasi seumur hidup atau “pengangkutan” ke Australia, tidak pernah kembali.

Dari tahun 1791 hingga 1867, sebuah periode 76 tahun, Inggris menghukum dan mengangkut 160.000 pria dan wanita Katolik Irlandia yang mengejutkan sebagai tenaga kerja budak untuk ditempatkan di Australia. Sementara kolonial Inggris menghukum orang Irlandia yang tertindas karena mencuri sepotong roti, itu mencuri seluruh benua oleh orang-orang asli. Itu bukan kejahatan kecil.

Tampaknya rasisme berlanjut hari ini di Australia seperti di Inggris. Aborigin merupakan 28 persen dari tahanan dewasa di penjara-penjara Australia tetapi mereka hanya 3 persen dari seluruh populasi. Hingga 68 persen orang muda yang ditahan adalah penduduk asli.

Tujuan baru Inggris hari ini bagi para pencari suaka berkulit gelap yang tidak diinginkan dari agama yang berbeda adalah Rwanda, sebuah negeri yang tidak dapat kembali lagi oleh pencari suaka, seperti orang Irlandia yang dikirim ke Australia.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi UCA News.

Sumber: The colonial racism we must all protest

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi