UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus mendengar ‘rintihan kesakitan’ rakyat Myanmar

Juni 20, 2022

Paus mendengar ‘rintihan kesakitan’ rakyat Myanmar

Paus Fransiskus berbicara saat doa mingguan Angelus di Vatikan pada 19 Juni. (Foto: AFP)

Paus Fransiskus bergabung dengan para uskup Myanmar dalam seruan untuk menghormati kehidupan manusia dan kesakralan rumah-rumah ibadah, rumah sakit dan sekolah di negara yang terus dilanda konflik itu.

“Sekali lagi kita mendengar jeritan kesakitan dari begitu banyak orang di Myanmar yang masih kekurangan bantuan kemanusiaan dasar dan yang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena dibakar dan melarikan diri dari kekerasan,” katanya.

Paus juga meminta masyarakat internasional untuk tidak melupakan penderitaan rakyat Myanmar dan mengambil tindakan untuk mengakhiri penderitaan mereka sejak kudeta pada Februari 2021.

Seruannya disampaikan setelah pembacaan doa Angelus pada 19 Juni, yang menandai Hari Tubuh dan Darah Kristus.

Sebelumnya, pada 11 Juni, para uskup Myanmar mengeluarkan sebuah pernyataan bersama usai sidang umum di Yangon, di mana mereka menegaskan bahwa “martabat manusia dan hak untuk hidup tidak akan pernah bisa dikompromikan.”

“Kami menuntut penghormatan terhadap kehidupan, penghormatan terhadap kesucian tempat-tempat ibadah, rumah sakit dan sekolah” kata mereka.

Paus Fransiskus telah berbicara beberapa kali tentang krisis di Myanmar setelah mengunjungi negara itu pada November 2017.

Ia juga telah berulang kali meminta para pemimpin militer untuk menghentikan kekerasan, membebaskan semua orang yang ditahan dan melakukan dialog untuk mencari perdamaian dan rekonsiliasi.

Terlepas dari seruan untuk mengakhiri kekerasan, junta tidak menunjukkan tanda-tanda meredakan penindasan warga sipil di wilayah etnis termasuk wilayah mayoritas Kristen dan mayoritas Bamar.

Lusinan gereja termasuk Gereja Katolik di negara bagian Kayah dan Chin telah dihancurkan dalam serangan udara dan artileri, sementara ribuan orang termasuk orang Kristen telah mengungsi, beberapa melarikan diri ke negara tetangga India.

Sejak kudeta tahun lalu, setidaknya 1.900 pembunuhan oleh militer telah dilaporkan, hampir satu juta telah mengungsi dan sekitar 14 juta masih sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, menurut Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ketua Bidang HAM PBB Michelle Bachelet baru-baru ini menyerukan dukungan untuk menuntut  akuntabilitas dari junta militer Myanmar atas pelanggaran hak asasi manusia, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung dan juga yang terjadi pada masa lalu.

Sumber: Pope Francis hears Myanmar people’s ‘cry of pain’

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi