UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Polisi di Sumatera Utara minta maaf karena kata-kata kasarnya terhadap pastor

Juni 20, 2022

Polisi di Sumatera Utara minta maaf karena kata-kata kasarnya terhadap pastor

Kompol Togap M. Lumbantobing, Wakil Kepolisian Resort (Wakapolres) Kabupaten Tomok, Provinsi Sumatera Utara (kiri) duduk bersebelahan dengan Pastor Saulus Sabat Nababan OFMCap, Pastor Paroki Santo Antonio Maria Claret Tomok saat menyampaikan permintaan maaf publik karena kata-kata kasarnya kepada pastor itu.

Seorang perwira polisi senior di Provinsi Sumatera Utara meminta maaf secara publik menyusul munculnya kecaman dari orang-orang Katolik karena kata-kata kasarnya terhadap seorang pastor.

Kompol Togap M. Lumbantobing, Wakil Kepolisian Resort (Wakapolres) Kabupaten Tomok, Provinsi Sumatera Utara menyampaikan permintaan maaf yang direkam dalam video dan disebarkan secara luas pada akhir pekan lalu karena telah menyampaikan kata-kata kasar kepada Pastor Saulus Sabat Nababan OFMCap, Pastor Paroki Santo Antonio Maria Claret Tomok.

“Saya telah bermaaf-maafan dengan pastor dan bahkan pastor sudah memaafkan dan mendoakan saya,” katanya dalam video itu, di mana di duduk bersebelahan dengan Pastor Sahat.

“Saya sudah tidak ada masalah dengan pastor,” tambah polisi itu.

Permintaan maaf ia sampaikan setelah menjadi sasaran protes sejak ia terekam mengeluarkan kata-kata kasar dan hinaan kepada Pastor Sahat pada 16 Juni karena menganggap pastor itu tidak menaati perintahnya untuk tidak melewati jalan raya yang diblokade di kota Tomok untuk memberi akses bagi rombongan petinggi polisi yang akan melintas.

Pastor itu beralasan bahwa ia hendak memberi sakramen minyak suci kepada seorang umat yang sedang sekarat, dan karena itu ia meminta izin untuk terus lewat.

Meski polisi lain memberi akses kepada imam itu, namun Lumbantobing memarahinya dan mencabut kunci sepeda motornya, yang membuat pastor itu terpaksa berhenti.

Polisi itu juga mengatakan kepadanya, “Kau pastor gadungan” meskipun pastor itu telah menunjukkan tanda pengenal dan jubahnya kepada polisi itu.

Dia juga terekam mengatakan, “Kau arogan sekali,” dan mengatakan, “Kau tidak tahu saya siapa? Saya Wakapolres.”

Peristiwa itu yang terekam oleh video warga sekitar dan disebar di media sosial segera memicu protes terhadap polisi itu, menganggapnya merendahkan martabat imam itu.

Pemuda Katolik dalam sebuah pernyataan resmi meminta agar polisi itu dicopot dari jabatannya.

“Kami tidak terima martabat seorang imam diobok-obok oleh seorang polisi di depan umum, di mana harusnya polisi hadir untuk menjaga martabat itu,” ujar Parulian Silalahi, Ketua Pemuda Katolik Cabang Sumatera Utara.

“Tunjukkan pada masyarakat bahwa polisi sudah berubah menjadi humanis. Buang sudah cara-cara lama mendidik masyarakat,” katanya.

Meski menerima permintaan maaf itu, Pastor Sahat mengatakan tidak bisa membatasi reaksi umat terhadap  masalah itu, terutama karena tudingan bahwa ia pastor gadungan.

“Dalam kebesaran jiwa, dan hati yang teduh saya katakan, saya memaafkannya, tetapi masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu akan menilai sendiri,” katanya.

Ia pun berharap agar polisi itu bisa menimba pesan moral dari peristiwa itu, yaitu bagaimana “belajar bersama menjadi pelayan masyarakat yang sungguh-sungguh baik.”

Sumber: Indonesian policeman ‘sorry’ for outburst against priest

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi