UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik berdoa bagi perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea

Juni 30, 2022

Umat Katolik berdoa bagi perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea

Umat Katolik menghadiri sebuah Misa khusus untuk perdamaian di Semenanjung Korea di Katedral Myeongdong di Seoul, ibukota Korea Selatan pada 25 Juni. (Foto: Keuskupan Agung Seoul)

Uskup Agung Seoul, Mgr Peter Chung Soon-taick menyerukan agar pemerintah Korea Selatan dan Korea Utara mencari rekonsiliasi saat umat Katolik di seluruh Korea Selatan bergabung dalam doa untuk perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea.

“Pemerintah Korea Selatan dan pemerintah Korea Utara harus menemukan berbagai alternatif untuk perdamaian di Semenanjung Korea dan di timur laut Asia karena memperkuat kekuatan militer tidak akan pernah menjadi pilihan yang tepat. Mari kita menyatukan hati kita untuk menyatakan cinta, pengampunan, dan kedamaian sejati yang ditunjukkan Kristus kepada kita di kayu salib,” katanya.

Prelatus itu menyampaikan seruan itu saat homilinya pada sebuah Misa khusus untuk perdamaian di Katedral Myeongdong di Seoul, ibukota Korea Selatan pada 25 Juni untuk menandai 72 tahun Perang Korea, demikian menurut pernyataan pers dari Keuskupan Agung Seoul.

“Marilah kita berdoa bersama agar hari perdamaian umat manusia dan Semenanjung Korea dapat terwujud melalui Doa Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda,” kata Uskup Agung Chung, yang juga menjabat sebagai administrator Pyongyang di Korea Utara.

Asosiasi Katolik Korea yang dikelola negara Korea Utara mengklaim negara itu memiliki sekitar 3.000 umat Katolik, sementara pengamat independen mengatakan jumlahnya sekitar 800.

Gereja harus membaharui berbagai upaya untuk misinya bagi perdamaian dan kerukunanan di dunia yang dilanda permusuhan dan kekerasan hari ini, kata prelatus itu.

“Meskipun kerusuhan, perang, permusuhan dan perpecahan di seluruh dunia terus meningkat, Gereja tidak boleh berpaling dari atau melepaskan misinya untuk perdamaian, kerukunan dan persatuan di planet ini. Kami, Gereja Katolik di Korea, perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dengan segenap hati kami untuk rekonsiliasi dan persatuan antara kedua Korea, serta untuk mengakhiri perang tragis di Ukraina,” katanya.

Ratusan umat Katolik bergabung dalam Misa bersama dengan para imam, biarawati dan Msgr Thomas Aquinas Choi Chang Hoa, mantan ketua Komite Rekonsiliasi Nasional. Kardinal pertama Korea, Stephen Kim Sou-hwan, membentuk komite tersebut tahun 1995 dengan tujuan untuk perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea.

Konferensi Waligereja Korea (CBCK) telah menjadikan perdamaian dan rekonsiliasi dengan Korea Utara sebagai prioritas utama pastoral. Tahun 1965, CBCK menetapkan tanggal 25 Juni sebagai Hari Doa tahunan untuk rekonsiliasi nasional dan unifikasi.

Selama 27 tahun terakhir, setiap Kamis pukul 07.00 malam, umat Katolik di Katedral Myeongdong menghadiri Misa khusus dan berdoa untuk rekonsiliasi dan persatuan rakyat Korea.

Selain Seoul, sejumlah keuskupan lain seperti Gwangju, Daegu, Incheon, dan lainnya merayakan Misa dan mendaraskan doa-doa untuk perdamaian dan unifikasi pada 25 Juni.

Selama bertahun-tahun, paroki-paroki telah menyelenggarakan Misa, novena, aksi unjuk rasa, program penyadaran dan bantuan selama kekeringan, kelaparan, dan bencana alam bagi orang-orang di Korea Utara.

Organisasi dan LSM Katolik Korea Selatan membantu para pembelot Korea Utara untuk menetap dan membangun kehidupan baru.

Para uskup selalu vokal tentang perlunya resolusi damai atas masalah yang memecah belah kedua negara. Gereja Katolik di Koresa Selatan selalu berada di garis depan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada warga Korea Utara.

Dalam pertemuan baru-baru ini dengan Menteri Unifikasi Korea Selatan, Kwon Young-se, Uskup Agung Hyginus Kim Hee-jong dari Gwangju menekankan perlunya meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi orang-orang Korea Utara yang terguncang di bawah kekeringan parah dan Covid-19.

Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada 27 Juli 1953, menciptakan zona demiliterisasi (DMZ) dan memungkinkan kembalinya para tahanan. Namun, tidak ada perjanjian damai yang ditandatangani, menciptakan kekuatan diam-diam yang dimainkan di antara kedua negara itu.

Sejak 2018, tiga putaran KTT di antara kedua Korea dan dua putaran KTT Amerika Serikat-Korea Utara, serta pertemuan antara presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat itu, presiden AS Donald Trump saat itu dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, telah merevitalisasi prospek perdamaian di Semenanjung Korea.

Namun, ketegangan telah meningkat di kawasan itu dalam beberapa pekan terakhir setelah rentetan uji coba rudal diikuti oleh laporan media yang menunjukkan uji coba nuklir yang akan datang oleh Korea Utara.

Sumber: Catholics pray for peace and reconciliation on Korean Peninsula

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi