UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kebebasan beragama di Hong Kong ‘hadapi bahaya besar’

Juli 1, 2022

Kebebasan beragama di Hong Kong ‘hadapi bahaya besar’

Jonathan Aitken, seorang pastor Anglikan dan mantan menteri kabinet Inggris mengecam Presiden China Xi Jinping dan rezimnya terkait penganiayaan terhadap kelompok-kelompok agama dan etnis. (Foto: Islington Tribune)

Pastor Anglikan dan mantan menteri kabinet Inggris, Jonathan Aitken mendesak  masyarakat internasional untuk mengkritisi dan mengambil tindakan karena kebebasan beragama di Hong Kong menghadapi ancaman berbahaya dari kekuatan destruktif Partai Komunis Tiongkok (CCP).

Aitken, 79, memperingatkan bahwa “ada tanda-tanda yang semakin tidak menyenangkan” bahwa kebebasan beragama di Hong Kong adalah “target berikutnya dalam daftar dari kekuatan destruktif” rezim CCP Presiden Xi Jinping.

Mantan anggota parlemen dari Partai Konservatif (1994-1997) itu menyampakam komentar tersebut dalam pidatonya di National Club di London pada 29 Juni, dua hari sebelum peringatan 25 tahun penyerahan Hong Kong oleh Inggris ke Cina.

Aitken mengatakan “langit semakin gelap untuk kebebasan beragama di Hong Kong.” Pemberlakuan Undang-Undang Keamanan Nasional yang kejam di Hong Kong dua tahun lalu telah menyebabkan kebebasan hakiki yang dijanjikan “hampir sepenuhnya dihilangkan,” katanya.

Peraturan hukum, tambahnya, “telah dirusak dan setiap otonomi yang berarti telah terkikis”, tambahnya. Banyak mantan legislator dipenjara, kebebasan pers telah dihancurkan, kebebasan akademik dan kebebasan berekspresi “dibatasi.”

Imam itu mencatat bahwa Hong Kong diserahkan ke Cina dengan “janji-janji muluk” yang dibuat oleh Beijing untuk melindungi otonomi tingkat tinggi Hong Kong, kebebasan dan supremasi hukum, yang diabadikan dalam sebuah perjanjian internasional, Deklarasi Bersama Tiongkok-Inggris, yang diajukan di PBB.

“Hari ini, seperempat abad sejak penyerahan kota itu, seluruh dunia melihat bahwa rezim Komunis Tiongkok telah secara sistematis melanggar janji-janji dan kesepakatan,” kata Aitken.

Menyebut Presiden Xi Jinping “secara ideologis seorang Nasionalis Marxis dan secara politis merupakan orang gila kontrol yang brutal,” Aitken mengatakan dia berdedikasi untuk memastikan bahwa CCP  mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan.

“Dia kejam dalam membungkam semua orang yang menggunakan kebebasan berekspresi untuk bersuara, apalagi pandangan yang berbeda dari rezim.”

Dia mencatat bahwa Presiden Xi dan rezimnya sangat memusuhi khususnya kelompok-kelompok agama.

Orang-orang Kristen di daratan Tiongkok sekarang menghadapi penganiayaan terburuk sejak Revolusi Kebudayaan Mao tahun 1960-an, katanya, seraya menambahkan  penganiayaan terhadap umat Buddha di Tibet, praktisi Falun Gong dan umat Muslim Hui telah meningkat. Awal bulan ini kubah dan menara masjid di Kota Zhaotong, provinsi Yunnan diledakkan.

Dia juga mencontohkan penganiayaan brutal Cina terhadap Uighur, yang diakui oleh para kritikus internasional sebagai genosida.

Presiden Xi dan rezimnya berperilaku seperti “penjahat totaliter yang tangguh” terhadap kelompok-kelompok agama dan tentu saja terhadap semua kelompok di Cina yang mencari tingkat kebebasan pribadi, katanya, seraya mencatat pendekatan totaliter ini telah menimpa Hong Kong dalam beberapa tahun terakhir.

Media pro-Beijing seperti Ta Kung Pao telah menerbitkan artikel yang menyerang gereja-gereja di Hong Kong dan mengancam pembatasan lebih lanjut, Aitken mencatat, dan satu gereja, Good Neighbor North District Church, telah digerebek oleh polisi dan rekening bank gereja dan pendetanya dibekukan oleh HSBC di bawah tekanan dari otoritas.

Segera setelah pengenalan Undang-Undang Keamanan Nasional, Kardinal John Tong mengeluarkan peringatan kepada para pastor Katolik untuk berhati-hati dalam khotbah dan “menjaga tutur kata mereka.”

Pada Mei tahun ini, Kardinal Joseph Zen berusia 90 tahun ditangkap, yang digambarkan Aitken sebagai “simbol sikap anti-kepercayaan  dari rezim dan  sikap tidak hormat  Beijing terhadap pemimpin spiritual berusia 90 tahun yang dihormati itu.”

Dia meminta komunitas global untuk waspada karena persekusi agama di Hong Kong diperkirakan akan meningkat dalam hari-hari mendatang.

“Sementara kita menunggu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya pada adegan penganiayaan agama di Hong Kong, mari kita memberikan perhatian, berdoa, dan mencermatinya,” katanya.

Sumber:  Hong-Kongs-religious-freedom-faces-great-danger

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi