UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pastor John Mansford Prior, SVD: Menjembatani agama-agama lewat dialog

Juli 5, 2022

Pastor John Mansford Prior, SVD: Menjembatani agama-agama lewat dialog

Pastor John Mansford Prior, SVD meninggal dunia pada 2 Juli 2022 setelah selama hampir lima dekade mengabdikan hidupnya sebagai misionaris di Indonesia. (Foto: Disediakan)

Pastor John Mansford Prior lahir dan mengenyam pendidikan di Inggris, tetapi ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Indonesia. Menjadi akademisi, teolog dan sosiolog terkemuka, memperjuangkan dialog antaragama dan mendorong studi Kitab Suci adalah beberapa di antara berbagai prestasinya yang luar biasa.

Misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) itu tinggal dan bekerja di Pulau Flores sejak kedatangannya di Indonesia pada tahun 1973. Hidup selama hampir lima dekade di negara itu memberinya kesempatan untuk memahami secara mendalam tentang suku bangsanya yang beragam. Selama masa hidupnya, ia berbagi banyak keprihatinan rakyat, terutama ketika agama mereka dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan.

Katolik adalah agama minoritas di Indonesia yang mayoritas Muslim. Namun, agama itu adalah mayoritas di beberapa tempat, seperti Pulau Flores, dimana sekitar 90 persen dari sekitar dua juta orang beragama Katolik. Hal ini menjadikan pulau ini sebagai wilayah dengan penduduk beragama Katolik paling banyak.

Kondisi semacam ini menunjukkan mengapa Indonesia adalah salah satu negara yang paling menginspirasi untuk dialog antaragama, terutama di antara Muslim dan Kristen. Dialog adalah kunci, seperti jembatan yang menghubungkan perbedaan.

Lahir di Ipswich, Inggris tahun 1946, John belajar Filsafat dan Sosiologi di Donamon Castle, Irlandia (1965-1968), dan Teologi dan Antropologi Sosial di Missionary Institute London, Inggris (1968-1972). Ia ditahbiskan menjadi imam tahun 1972.

Setibanya di Flores, ia mendirikan dan memimpin beberapa paroki di Keuskupan Maumere. Dia mengajar misiologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) – kini menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) –  Ledalero, Maumere selama beberapa dekade.

Ia memperoleh gelar doktor dalam bidang Teologi Interkultural dari Universitas Birmingham pada tahun 1987.

Dr. Prior adalah anggota dewan Intercultural Bible Collective yang berbasis di Amsterdam, mantan Penasehat Dewan Kepausan untuk Kebudayaan (1993-2008) dan konsultan untuk Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC).

Selain sejumlah peran tersebut, ia juga bertandang ke Melbourne setahun sekali sejak tahun 1990-an untuk mengajar teologi di Yarra Theological Union (YTU). Dalam kuliahnya ia selalu menekankan dialog antaragama, menyadari betapa pentingnya dialog dalam kehidupan sehari-hari.

Pada 25 Oktober 2008, ia mengadakan seminar di Pusat Spiritualitas Janssen, Boronia, Victoria, Australia, dengan tema “Understanding Islam Today: faces and feelings behind the headlines.” Itu adalah sebuah hari untuk mendengarkan harapan dan ketakutan umat Islam di Indonesia dan Australia ketika mereka berjuang untuk menghidupkan iman mereka di sebuah dunia yang semakin kurang bersahabat. Orang-orang dari berbagai latar belakang menghadiri seminar sehari itu yang diadakan secara inklusif, menarik, dan interaktif.

Suasana yang hangat dan bersahabat memungkinkan para peserta saling bertukar wawasan dan pengalaman. Setiap peserta diminta untuk secara singkat mengucapkan sebuah kata, positif atau negatif, yang terlintas langsung di benak mereka ketika mendengar kata “Muslim” atau “Islam”, “Kristen” atau “Kristianitas”.

Kunci untuk memahami orang lain adalah menempatkan diri di sisi yang lain untuk mencoba memahami sebeberapa dalam pengetahuan mereka.

Sebagai orang Kristen, sangat penting untuk memahami dan menghormati harapan dan ketakutan umat Muslim sebagai cara untuk lebih memahami harapan dan ketakutan kita sendiri. Memang, harapan dan ketakutan umat Islam, terlepas dari apa pun itu, mungkin tidak eksklusif untuk mereka. Hidup di era globalisasi, dimana interaksi global menjadi tak terelakkan, hampir tidak mungkin membayangkan apa pun hanya dimiliki oleh satu keyakinan tertentu. Harapan dan ketakutan menjadi milik bersama. Kesamaan ini, terlepas dari perbedaan doktrin, harus menjadi sebuah landasan bagi dialog antaragama.

Umat Muslim dan umat Kristiani sama-sama mencakup lebih dari setengah populasi dunia. Ini memberikan dasar yang cukup untuk dialog terus-menerus di antara Muslim dan Kristen. Dialog antaragama ini seharusnya tidak hanya dipromosikan di negara-negara dengan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Brunei, Pakistan, Bangladesh, dan Republik Asia Tengah, tetapi lebih secara global.

Pastor Prior mengenang bahwa pada tahun-tahun awalnya di Flores, ia memiliki hubungan yang erat dengan masjid dan para ulama Muslim setempat. Kadang-kadang ia diundang untuk memberikan lokakarya bagi umat Islam.

Dia kemudian kecewa bahwa hari-hari ini hubungan akrab seperti itu sayangnya sulit dibangun, akibat dari politisasi hampir setiap dimensi hubungan di antara Muslim dan Kristen.

Ketika orang-orang rentan secara ekonomi, mereka bisa menjadi sasaran empuk manipulasi politik. Keyakinan mereka dengan mudah digunakan sebagai alat politik untuk agenda tertentu. Contoh hal ini banyak ditemukan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tempat lain di dunia ini.

Pastor Prior sangat menyadari permainan kekuatan politik di Indonesia yang mengadu domba satu keyakinan dengan keyakinan lain. Misalnya, dalam sebuah seminar pada 2008, ia mencontohkan bahwa orang Kristen cenderung merasa tidak nyaman dengan sistem politik yang dikuasai oleh mayoritas Muslim. Orang Kristen, sebaliknya, pada umumnya berada dalam posisi ekonomi yang lebih kuat, yang menyebabkan umat Islam berpikir negatif tentang dominasi ekonomi oleh orang Kristen. Tak mengherankan, faktor politik dan ekonomi tersebut memicu konflik antaretnis dan antaragama.

Baca juga: Pastor John Prior Kritik Cara Vatikan Tangani Skandal dalam Gereja

Secara umum, ketegangan antara kekuatan yang berbeda dapat dikelola dan kedua belah pihak dapat hidup rukun satu sama lain melalui dialog, kata Pastor Prior. Dialog membutuhkan pemahaman dan rasa hormat satu sama lain, kendati ada perbedaan.

Seminar semacam itu memang membuka mata para peserta, memberikan pengetahuan praktis tentang berbagai dimensi Islam dan Kristen, dan menekankan pentingnya dialog antaragama yang berkelanjutan.

Fakta bahwa kemanusiaanlah yang menyatukan kita semua harus menjadi dasar bagi dialog antaragama yang bermakna.  Semua komunitas agama harus merasakan rasa memiliki pada agama yang sama – sebuah agama kemanusiaan.

Dialog dan perdamaian telah menjadi prioritas misi Pastor Prior sepanjang hidupnya yang dibuktikan melalui kata-kata, tulisan, dan tindakannya. Misionaris yang tak kenal lelah itu menulis banyak buku, sekitar 145 artikel di jurnal dan mempresentasikan makalah di sekitar 165 seminar dan konferensi.

Ia meninggal dunia pada 2 Juli 2022 dalam usia 76 tahun, di Ledalero, Flores, tempat beliau mengajar sejak 1987.

Wafatnya merupakan sebuah kehilangan besar yang tidak dapat tergantikan bagi teologi dan sosiologi di daerah tersebut. Yang pasti bahwa kontribusinya yang besar sebagai seorang imam misionaris dan cendikiawan telah meninggalkan sebuah warisan emas.

Kesederhanaan dan komitmennya telah menyentuh banyak orang dan mereka akan mengenangnya selamanya.

Ditulis oleh Dr. Justin L. Wejak, dosen Kajian tentang Indonesia dan Associate Researcher pada Asia Institute and Indigenous Knowledge Institute, Universitas Melbourne, Australia

Sumber: British missionary bridged faiths through dialogue in indonesia

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi