UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus, sosok yang selamatkan ciptaan

Juli 19, 2022

Paus Fransiskus, sosok yang selamatkan ciptaan

Foto ini diambil dari udara pada 6 Juli yang menunjukkan penduduk membersihkan jalan yang terendam banjir setelah hujan lebat yang disebabkan oleh topan Chaba, di Yingde, kota Qingyuan, di Provinsi Guangdong, selatan China. (Foto: AFP)

Oleh Pastor Shay Cullen

Paus Fransiskus, yang mengambil nama seorang santo kelahiran Italia, telah berjanji untuk membela hak-hak orang miskin dan ciptaan. Ensikliknya tahun 2015, Laudato si’, merupakan panggilan untuk membangunkan kita semua dan sebuah inspirasi bagi umat Kristen dan dunia untuk menyelamatkan tumbuh-tumbuhan dan hewan dari kepunahan.

“Setiap tahun kita menyaksikan hilangnya ribuan spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan yang tidak akan pernah kita ketahui, yang tidak akan pernah dilihat oleh anak cucu kita karena mereka telah hilang selamanya,” demikian pesan paus itu yang sangat menggugah.

Dunia harus berubah, dan mereka yang mengendalikan industri minyak, gas dan batubara serta pembangkit listrik harus berubah. Mereka adalah akar penyebab kelebihan karbon dioksida di atmosfer yang menyebabkan planet ini menjadi terlalu panas. Bukti langsung dari hal ini adalah gelombang panas yang melanda bagian dunia saat ini. Ini membuat tumbuh-tumbuhan dan hewan menuju kepunahan.

Banyak berita benar-benar memprihatinkan. Terkadang saya tidak ingin membaca tentang kekeringan yang menghancurkan di Somalia, Sudan, Mozambik, Iran, Maroko dan tempat lain di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Banjir yang menghancurkan di China dan Bangladesh adalah bencana ekologis, menyebabkan rumah-rumah hanyut, jutaan hewan mati dan tanaman hancur. Kebakaran hutan di Portugal dan AS menambah kesengsaraan ekologis. Dalam dua tahun, kebakaran hutan menghancurkan 14.000 pohon sequoia di California – 20 persen dari pohon terbesar di dunia. Saya pernah ke Muir Woods National Monument (Monumen Nasional Hutan Muir) untuk melihat pohon-pohon redwood raksasa dan mereka benar-benar menakjubkan.

Paus Fransiskus mengatakan dalam Laudato si’: “Saya mendesak semua pihak untuk mengadakan dialog baru tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita. Kita membutuhkan diskusi-diskusi yang melibatkan  semua orang karena tantangan lingkungan yang kita alami, dan akarnya adalah manusia, menjadi perhatian dan mempengaruhi kita semua.”

Tidak semua orang akan terlibat dalam dialog tentang apa yang harus dilakukan. Keserakahan dan keegoisan manusia serta gaya hidup yang boros terus mengkonsumsi energi dengan membakar bahan bakar fosil – gas, minyak dan batubara. Setiap orang harus menuntut diakhirinya industri ini dan menggantinya dengan energi terbarukan: angin, matahari, panas bumi, dan listrik yang dihasilkan oleh gelombang laut.

Para taipan bisnis menginginkan keuntungan dari penjualan bahan bakar fosil yang merusak. Politisi korup juga diuntungkan. Beberapa pemerintah, sambil memuji perubahan ke energi terbarukan, membayar uang pembayar pajak kepada perusahaan minyak dan batu bara yang kaya untuk mengeksplorasi dan memproduksi lebih banyak bahan bakar fosil.

Sebagian besar negara-negara G7 membayar sebanyak 1 triliun dollar AS per tahun dalam bentuk subsidi kepada perusahaan minyak, batu bara, dan gas. Motif tersembunyi mereka adalah untuk menyenangkan pemilih mereka dan mendapatkan dana perusahaan untuk kampanye pemilihan ulang. Kemungkinan besar, para politisi memiliki investasi di perusahaan. Beberapa di antaranya ibarat kuburan putih, tampak bersih di luar tetapi busuk dan rusak di dalam.

Sebuah studi penting oleh Dana Moneter Internasional (IMF) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kerusakan jaminan dan biaya yang belum dibayar dari produksi bahan bakar fosil – batubara, minyak dan gas – mencapai 5,3 triliun dollar AS per tahun atau membayar 10 juta dollar AS per menit kepada perusahaan-perusahaan ini. Jika uang ini diinvestasikan untuk sumber energi bersih alternatif seperti angin, matahari, geothermal dan pembangkit listirk tenaga air, krisis iklim akan teratasi.

Ya, kita spesies manusia dengan otak cerdas, sangat ingin menyakiti diri sendiri dan merusak alam. Hari ini, kita menyebabkan kepunahan besar ketiga — satu juta atau lebih spesies tumbuhan dan hewan akan punah di tahun-tahun mendatang karena planet ini semakin panas yang membuat mereka tidak akan mampu beradaptasi dengan cukup cepat untuk bertahan hidup.

Sebuah laporan ilmiah baru berdasarkan studi ekstensif dan penelitian bernama ‘The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services’ mengatakan kepunahan hampir satu juta spesies tanaman, hewan dan ikan disebabkan oleh perubahan iklim dan bagaimana manusia mempengaruhi planet.

Laporan tersebut mengatakan bahwa secara global sekitar 50.000 spesies liar digunakan untuk makanan, energi, obat-obatan, bahan dan tujuan lain melalui penangkapan ikan, pengumpulan, penebangan dan pemanenan hewan darat. Lebih dari 10.000 spesies liar dipanen untuk makanan manusia dengan satu dari lima orang bergantung pada spesies tersebut untuk pendapatan dan makanan.

Sekitar 70 persen orang miskin di dunia secara langsung bergantung pada spesies liar dan bisnis yang dikembangkan oleh mereka. Manusia secara langsung mengkonsumsi atau menggunakan sekitar 7.500 spesies ikan liar dan invertebrata air, 31.100 spesies tumbuhan liar (termasuk 7.400 pohon, 1.500 spesies jamur dan 7.400 spesies pohon liar), 1.700 spesies invertebrata liar di darat, dan 7.500 spesies amfibi liar, reptil, burung dan mamalia.

Kita melakukan sekitar 8 miliar kunjungan ke kawasan perlindungan satwa liar setiap tahun, menghasilkan pendapatan pariwisata €600 miliar (600,8 miliar dollar AS). Sepertiga umat manusia — 2,4 miliar orang — bergantung pada kayu untuk memasak, termasuk 1,1 miliar orang tanpa akses listrik. Dua pertiga dari kayu bulat industri global disediakan oleh spesies pohon liar. Dua belas persen spesies pohon liar terancam oleh pembalakan liar.

Perburuan mengancam 1.341 spesies mamalia liar, termasuk 669 spesies yang sudah dinilai terancam.

Data ini didasarkan pada penelitian ilmiah yang ketat, yang menunjukkan jutaan orang bergantung pada dunia alami, hewan, ikan, dan tumbuh-tumbuhan yang hidup. Kita manusia dengan konsumsi kita yang tidak berkelanjutan sedang menghancurkan kehidupan tempat kita bergantung. Itu adalah penghancuran diri. Ini akan memiliki konsekuensi bencana kecuali kita bekerja sama untuk menyelamatkan alam dari perubahan iklim.

Paus Fransiskus mengatakan: “Kita semua dapat bekerja sama sebagai alat-alat Tuhan untuk memelihara ciptaan, masing-masing sesuai dengan budaya, pengalaman, keterlibatan, dan bakatnya sendiri.”

Minggu ini saya berangkat dengan tim untuk menanam 863 anakan pohon buah campuran di pegunungan Zambales di Luzon Tengah, dengan bantuan masyarakat adat Aeta. Mereka akan peduli dan memelihara dan mendapatkan manfaat dari pohon itu di tahun-tahun mendatang. Ini adalah yang pertama dari beberapa rencana penanaman di musim hujan ini.

**Pastor Shay Cullen adalah misionaris Columban Irlandia yang telah bekerja di Filipina sejak 1969. Pada 1974, ia mendirikan Preda Foundation, sebuah organisasi amal yang didedikasikan untuk melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak dan mengkampanyekan kebebasan dari perbudakan seks dan perdagangan manusia. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi UCA News

Sumber: Francis a pope who saves the creation

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi