UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kebijakan sekolah perumahan adalah ‘genosida’, kata Paus Fransiskus

Agustus 1, 2022

Kebijakan sekolah perumahan adalah ‘genosida’, kata Paus Fransiskus

Paus Fransiskus berbicara selama konferensi pers di atas pesawat kepausan dalam penerbangannya kembali setelah ia mengunjungi Kanada, 29 Juli. (Foto: AFP)

Paus Fransiskus mengatakan penghancuran yang direncanakan terhadap keluarga, bahasa, budaya dan tradisi masyarakat adat di Kanada melalui sistem sekolah perumahan adalah bentuk “genosida”.

Ditanya seorang reporter pribumi Kanada, mengapa dia tidak menggunakan kata genosida saat berada di Kanada, paus mengatakan, “Saya tidak menggunakan kata itu karena [kata itu] tidak terlintas dalam pikiran, tetapi apa yang saya gambarkan adalah genosida.”

“Dan, saya mengecam itu,” katanya saat konferensi pers dalam penerbangan ke Roma pada 29 Juli.

Seorang wartawan Kanada lainnya bertanya kepada paus tentang “Doktrin Penemuan,” sebuah kumpulan ajaran kepausan yang dimulai pada abad ke-14, yang memberkati upaya para penjelajah untuk menjajah dan mengklaim tanah orang-orang yang bukan Kristen, menempatkan tanah dan orang-orang di bawah kedaulatan penguasa Kristen Eropa.

Paus Fransiskus mengatakan selalu menjadi godaan bagi penjajah untuk berpikir bahwa mereka lebih unggul dari pemilik tanah yang mereka jajah.

Bahkan, katanya, ada “seorang teolog, yang agak gila,” yang mempertanyakan apakah masyarakat adat di Amerika memiliki jiwa?

“Ini adalah masalah setiap kolonialisme, bahkan hari ini,” katanya, menunjuk pada bentuk-bentuk  “kolonialisme ideologis” modern, yang menggunakan permintaan bantuan asing untuk memaksa negara-negara miskin mengadopsi kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi rakyat setempat.

“Doktrin kolonialisme ini benar-benar jahat, tidak adil,” kata paus.

Dalam kesempatan itu, paus juga berbicara soal kemungkinan kunjungan ke Kyiv, Ukraina, dengan mengatajan  “kita akan lihat apa yang mungkin terjadi” — serta pergi ke Kazakhstan pada September untuk pertemuan lintas agama.

Dia juga mengatakan dia ingin menjadwal ulang perjalanan ekumenisnya ke Sudan Selatan dengan Uskup Agung Anglikan Justin Welby dari Canterbury dan Pendeta Iain Greenshields, moderator Gereja Skotlandia. Mereka seharusnya pergi pada awal Juli, tetapi paus terpaksa membatalkannya untuk merawat lututnya.

“Saya memiliki semua niat baik” untuk terus bepergian, kata paus, “tetapi kita harus melihat masalah  kaki saya.”

Mengenai isu pensiun, Paus Fransiskus mengatakan kepada wartawan: “Pintu terbuka. Ini adalah salah satu opsi normal, tetapi sampai sekarang saya belum memikirkannya.”

“Saya tidak merasa perlu mempertimbangkan kemungkinan ini,” tegasnya, “tetapi itu tidak berarti bahwa lusa saya tidak akan mulai memikirkannya.”

“Mengundurkan diri,” kata paus, tidak akan menjadi “malapetaka. Anda bisa mengganti paus, tidak masalah.”

Dia menegaskan lagi bahwa dia tidak akan menjalani operasi pada lututnya karena, katanya, dia bereaksi buruk terhadap anestesi pada Juli 2021 ketika dia menjalani operasi usus besar.

“Tapi, saya akan berusaha  terus melakukan perjalanan dan dekat dengan masyarakat, karena menurut saya itu adalah cara untuk melayani,” ujarnya.

Paus  juga ditanya tentang “Deklarasi Takhta Suci” yang tidak ditandatangani mengenai Jalan Sinode Gereja Jerman yang diterbitkan pada 21 Juli. Deklarasi tersebut memperingatkan bahwa Gereja Katolik di Jerman mencoba  “memulai struktur atau doktrin resmi baru di keuskupan-keuskupan sebelum adanya sebuah pemahaman yang disepakati di tingkat Gereja universal,” bahwa itu akan menjadi “luka bagi persekutuan gerejawi dan ancaman bagi kesatuan Gereja.”

“Komunike itu ditulis oleh Sekretariat Negara,” kata Paus Fransiskus. “Itu bukan kesalahan,  tapi itu adalah kelalaian dan “bukan karena niat buruk.”

Paus Fransiskus mengatakan dia telah menghabiskan satu bulan berdoa, membaca dan berkonsultasi dengan berbagai orang sebelum dia menulis surat kepada umat Katolik Jerman pada tahun 2019 yang mendesak mereka untuk memastikan Jalan Sinode mereka adalah proses doa dan penegasan dan bukan hanya mencari jalan yang efisien cara untuk menangani tantangan yang dihadapi Gereja di Jerman.

“Saya menulisnya sebagai seorang gembala untuk sebuah Gereja yang mencoba menemukan jalannya ke depan,” katanya.

Dalam tanggapannya, Paus Fransiskus tidak berbicara tentang ajaran Gereja yang menentang penggunaan kontrasepsi buatan.

Sebaliknya, ia berbicara tentang peran para teolog di Gereja dan tentang perkembangan doktrin.

Ajaran Gereja “selalu  berkembang,”  melalui penegasan dan konsolidasi dari waktu ke waktu atau dengan dipahami lebih tepat dalam kaitannya dengan masalah baru atau pemahaman yang lebih dalam, katanya.

Tugas para teolog, kata paus, adalah mengeksplorasi kemungkinan, sementara tugas paus adalah “membantu mereka memahami batasan.”

Sebagai contoh bagaimana ajaran Gereja berkembang, kata Paus Fransiskus, “hari ini, secara resmi, Gereja telah menyatakan bahwa penggunaan atau kepemilikan senjata nuklir tidak bermoral.”

Sumber: Pope says residential school policy was genocide

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi