UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Emeritus Hubertus Leteng meninggal dunia dalam usia 63 tahun

Agustus 1, 2022

Uskup Emeritus Hubertus Leteng meninggal dunia dalam usia 63 tahun

Uskup Emeritus Hubertus Leteng meningeal pada 31 Juli di RS St. Borromeus di Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ia berusia 63. (Foto: tersedia)

 

Uskup Emeritus Hubertus Leteng, mantan Uskup Ruteng di Pulau Flores yang mengundurkan diri lima tahun lalu setelah diterpa skandal terkait masalah keuangan dan dugaan hubungan gelap dengan seorang wanita meninggal dunia.

Ia menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 31 Juli pagi, setelah selama sepekan dirawat di Rumah Sakit Borromeus Bandung, Jawa Barat.

Uskup itu bertugas di Paroki St Maria Garut, Keuskupan Bandung sejak 2018, setahun setelah ia mengundurkan diri sebagai Uskup Ruteng tempat ia bertugas sejak 2010 setelah protes dari para imamnya.

Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin mengatakan Uskup Leteng mengalami sesak nafas sebelum kemudian dirawat di rumah sakit selama sepekan terakhir.

Beberapa hari sebelum meninggal, kata dia, uskup itu sempat mengatakan kepada seorang imam di paroki tempat ia bertugas bahwa ia kelelahan.

“Ia berkata, ‘saya sudah capai, sepertinya saya segera selesai, inilah akhir hidup saya.’ Ia berkata, ‘umur saya memang 63 tahun, tapi sebetulnya saya lebih tua dari usia itu,’” ujar Uskup Bunjamin saat memimpin Misa Requiem di Bandung pada 31 Juli.

Uskup Leteng menjadi sorotan ketika pada 2017, 69 imam di Keuskupan Ruteng melakukan aksi protes terhadapnya, di mana dia diduga meminjam dana Rp 1,25 miliar dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Rp 400 juta dari keuskupan, tanpa memberikan laporan pertanggungjawaban.

Ia sempat mengakui bahwa uang itu digunakan untuk mendanai pendidikan pemuda miskin di Amerika Serikat, tetapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut. Para imam menduga uang itu diberikan kepada seorang wanita yang mereka duga memiliki hubungan gelap dengannya. Perihal informasi hubungan itu sempat muncul pada tahun 2014 setelah seorang mantan imam menyampaikan tuduhan kepada Uskup Leteng secara publik.

Vatikan kemudian menunjuk Uskup Bunjamin yang adalah sekeretaris jenderal KWI sebagai visitator apostolik untuk melakukan investigasi, yang berujung pada pengunduran Uskup Leteng.

Vatikan tidak memberikan alasan pengunduran diri tersebut. Namun, sumber gereja kemudian mengatakan Uskup Leteng disuruh mengembalikan uang dan memutuskan
hubungan dengan wanita itu.

Dalam Misa Requiem, Uskup Bunjamin sempat menyinggung masalah pengunduran diri itu, di mana dia menyebut Uskup Leteng melakukannya “dengan rela,” dan “demi kebaikan semua.”

Ia mengatakan, selama lima tahun di keuskupannya, ia mengenal uskup itu sebagai orang yang sangat peduli dengan nasib dan kesusahan orang lain dan “karena saking baiknya, ia dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu.”

Ia mengatakan, uskup itu mencari bantuan untuk orang lain, yang kadang membuat ia kepikiran dan gelisah, termasuk pada saat-saat terakhir hidupnya.

Ia mengatakan, sebelum meninggal, berbicara dalam kegelisahan dengan seorang frater yang menjaganya.

“Entah apa yang membuat gelisah dalam dirinya. Apakah ada orang yang meminta bantuan kepadanya, dan sampai sekarang belum terbantu, karena ia tidak berhasil mendapatkan bantuan dari orng lain. Tidak tahu!” kata Uskup Bunjamin.

Ia mengatakan, yang jelas bahwa Uskup Leteng tidak memikirkan kepentingannya sendiri.

“Lihat hidupnya, apa yang dipakai, apa yang dikenakan dalam tubuhnya! Adakah suatu kemewahan? Apa yang disimpan di dalam kamarnya, adakah satu kemewahan? Apa yang menjadi sarana pekerjaannya, apakah ada satu kemewahan? Tidak ada!”

Kabar kepergiannya telah membuat umat di Keuskupan Ruteng meratapinya, yang mengenangnya karena keberpihakannya pada masalah sosial sebelum diterpa skandal.
Uskup Leteng memang berdiri di garis depan menolak perusahan tambang di wilayahnya yang diprotes warga setempat. Ia juga pernah memimpin para imam dalam aksi protes menolak privatisasi pantai-pantai publik di Labuan Bajo, daerah pariwisata yang berkembang pesat.

“Terlepas dari semua kontroversi yang ada dan dilekatkan padanya karena kelemahan manusiawinya, harus jujur mengatakan bahwa ia adalah sosok gembala yang konsisten dengan apa yang diyakini dan dianggap sebagai sebuah pilihan dan jalan kebenaran,” tulis Pastor Alsis Goa Wonga, imam Fransiskan yang ikut dalam advokasi masalah sosial di Kuskupan Ruteng.

Menurut pernyataan resmi Keuskupan Ruteng, Uskup Leteng diberangkatkan ke Flores pada 1 Agustus dan dimakamkan pada 3 Agustus di samping Gereja Katedral Ruteng setelah Misa yang akan dipimpin oleh Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat.

Sumber: Indonesian scandal hit bishop dies at-63

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi