UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kerakusan akan kekayaan menjadi pemicu perang, kata Paus Fransiskus

Agustus 2, 2022

Kerakusan akan kekayaan menjadi pemicu perang, kata Paus Fransiskus

Paus Fransiskus melambai tangan ketika dia berbicara kepada orang banyak selama Doa Angelus dari jendela istana apostolik yang menghadap ke Lapangan St. Petrus, di Vatikan, pada 31 Juli. (Foto: AFP)

Paus Fransiskus mengatakan keserakahan yang tak terkendali demi kekayaan dan harta benda adalah penyakit yang merupakan kekuatan pendorong di balik perang dan konflik di dunia.

“Kehausan akan harta benda menciptakan kecanduan” yang memperbudak orang dan akhirnya menyebabkan “ketidakadilan yang belum pernah terlihat dalam sejarah: di mana sedikit yang memiliki begitu banyak dan begitu banyak yang memiliki sedikit atau tidak sama sekali,” kata paus saat Doa Angelus pada 31 Juli.

“Mari kita mempertimbangkan perang dan juga konflik. Nafsu akan sumber daya alam dan kekayaan hampir selalu ada di belakang mereka. Berapa banyak kepentingan di balik perang! Tentu saja, salah satunya adalah perdagangan senjata. Perdagangan ini adalah skandal yang tidak boleh kita abaikan,” katanya kepada sekitar 12.000 peziarah yang berkumpul di Lapangan St. Petrus.

Sebelum Doa Angelus, Paus merenungkan bacaan Injil Hari Minggu dari St. Lukas di mana Yesus memperingatkan seseorang yang bertengkar tentang warisan agar berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Keinginan untuk menjadi kaya yang tiada henti, katanya, “adalah penyakit yang menghancurkan orang” karena “mereka yang memiliki banyak harta tidak pernah puas; mereka selalu menginginkan lebih dan hanya untuk diri mereka sendiri.”

“Yesus mengajarkan kita bahwa inti dari semua ini bukan hanya beberapa yang kuat, atau sistem ekonomi tertentu. Keserakahan yang ada di hati setiap orang adalah pusatnya,” kata paus.

Orang Kristen, lanjutnya, harus merenungkan hubungan mereka dengan uang dan bertanya pada diri sendiri apakah mereka bahagia dengan apa yang mereka miliki atau mengeluh tentang kekurangannya.

“Barang-barang materi, uang, dan kekayaan bisa menjadi kultus,” tambahnya. “Inilah sebabnya mengapa Yesus memperingatkan kita dengan kata-kata yang keras. Dia mengatakan Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, dan – mari kita berhati-hati.”

Namun, peringatan Yesus tidak berarti “tidak seorang pun ingin menjadi kaya.”  “Anda bisa” dan bahkan “berhak untuk menginginkannya.”

“Betapa indahnya menjadi kaya, tetapi kaya menurut Tuhan! Tuhan adalah yang terkaya di antara siapa pun. Dia kaya dalam kasih sayang, dalam belas kasihan. Kekayaannya tidak memiskinkan siapa pun, tidak membuat pertengkaran dan perpecahan, … kekayaan yang tahu bagaimana memberi, mendistribusikannya, berbagi,” kata paus.

Paus Fransiskus mengatakan kekayaan sejati bukanlah dalam “mengumpulkan barang-barang material”, tetapi dalam membina hubungan baik “dengan Tuhan, dengan orang lain dan dengan mereka yang memiliki kekurangan.”

“Semoga Bunda Maria membantu kita memahami apa kebaikan hidup yang sebenarnya, yang bertahan selamanya,” kata paus.

Sumber:  Greed for wealth is behind wars, pope says

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi