UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Penduduk desa Katolik di Myanmar terus hidup dalam ketakutan

Agustus 3, 2022

Penduduk desa Katolik di Myanmar terus hidup dalam ketakutan

Para pengungsi Myanmar mengambil air di Desa Pang di Negara Bagian Mizoram, India timur pada 11 September. 24, 2021. (Foto: AFP/ UCAN)

Di Minggu pagi yang cerah pada 17 Juli, umat Katolik menghadiri Misa dan kembali ke rumah-rumah mereka dengan damai. Namun, pada sore harinya, mereka mendengar berita tentang serangan militer di sebuah desa Buddhis terdekat.

Huru-hara pun segera terjadi di Mon Hla, sebuah desa Katolik bersejarah di wilayah Sagaing yang ikut diserang militer Myanmar. Penduduk bergegas untuk mengemas makanan, pakaian, dan kebutuhan pokok apa pun yang dapat mereka kumpulkan dan melarikan diri dengan sepeda motor, becak, mobil pick-up, dan gerobak yang ditarik sapi.

Orang muda dan mereak yang berbadan sehat mengkawal  para lansia, wanita dan anak-anak meninggalkan desa sebelum  serangan junta untuk bersembunyi di sawah terdekat di sebelah timur desa mereka dan berdoa untuk keselamatan.

Pada pagi hari  18 Juli, mereka mendengar jet tempur dan helikopter mendekati lapangan dan mulai menembak tanpa pandang bulu.

“Kami gemetar ketakutan saat beberapa dari kami merayap  di tanah, sementara yang lain bersembunyi di bawah pohon-pohon besar. Kami tidak berani berbicara sepatah kata pun dan berdoa dalam diam,” kata Martha Tin.

Tin mengatakan seperti kebanyakan penduduk desa, dia belum pernah menyaksikan serangan udara militer sebelumnya dan pengalaman itu membuat mereka trauma.

“Kami tidak bisa tidur nyenyak dan kemungkinan besar akan melarikan diri dari desa itu jika kami mendengar suara tembakan lagi,” katanya.

Penduduk desa Katolik dan Buddha di Mon Hla telah berulang kali meninggalkan rumah-rumah mereka karena takut diserang oleh pasukan junta dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan udara pada 18 Juli terjadi setelah lebih dari 500 rumah di Chan Thar dan sedikitnya 320 rumah di Chaung Yoe, keduanya desa Katolik, dibakar oleh pasukan junta masing-masing pada 7 Juni dan 20 Mei.

Sedikitnya sepuluh orang tewas dalam penggerebekan tersebut. Beberapa mayat tidak dapat diidentifikasi karena hangus tidak dapat dikenali, menurut sumber lokal dan laporan media.

Sebuah desa mayoritas Muslim di Kyi Su juga menjadi sasaran pada 18 Juli.

Laporan mengatakan puluhan tentara diterjunkan ke desa  Muslim dan Buddha tinggal bersama. Mereka menembak dan menangkap beberapa orang sebelum membakar rumah, masjid, dan gedung sekolah.

Mon Hla, Chan Thar dan Chaung Yoe adalah bagian dari Keuskupan Agung Mandalay dan dikenal sebagai desa Bayingyi yang penduduknya mengaku keturunan  Portugis yang datang pada abad 16 dan 17.

Desa-desa itu telah menghasilkan banyak uskup, imam, biarawati dan bruder.

Junta dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan serangan di wilayah Sagaing yang menyebabkan ribuan orang mengungsi ke daerah yang lebih aman. Telepon seluler dan saluran Internet terputus di sebagian besar kota di wilayah tersebut.

Kebrutalan militer Myanmar telah terjadi untuk waktu yang lama di wilayah etnis Kristen termasuk sejumlah negara bagian – Kachin, Karen, Kayah dan Chin – di mana penggerebekan di desa-desa, pembunuhan warga sipil tak berdosa, penangkapan sewenang-wenang dan kekerasan seksual terhadap perempuan terus berlanjut.

“Saya sangat prihatin mengetahui tentang penderitaan ribuan orang, terutama dari desa-desa, termasuk umat Katolik yang rumahnya dibakar, harta benda dijarah dan yang menjadi tunawisma, terlantar dan sangat membutuhkan makanan dan tempat tinggal,” kata Uskup Agung Mandalay, Mgr. Marco Tin Win  dalam pesan video pada 17 Juli.

Seperti Kardinal Charles Bo, Uskup Agung  Yangon, Uskup Agung Tin Win adalah penduduk asli Mon Hla, di mana umat Buddha dan Katolik telah hidup bersama dengan damai selama beberapa dekade.

“Selama serangan udara baru-baru ini, ada pembagian makanan di antara penduduk desa karena beberapa orang tidak dapat membawa jatah termasuk beras,” kata Tin.

Penduduk desa Katolik dan Buddha kembali ke rumah setelah menghabiskan tiga malam di sawah. Mereka beruntung karena rumah, gereja, dan biara mereka tidak diserang.

Namun, beberapa di antara mereka memilih untuk pergi ke rumah-rumah kerabat mereka di kota-kota seperti Mandalay, sementara yang lain telah memutuskan untuk berlindung di dalam gedung gereja di kota-kota terdekat.

“Kami tidak tahu kapan pasukan akan datang lagi dan apakah akan ada cukup waktu untuk melarikan diri,” kata Mary Htar.

Wanita Katolik itu mengatakan desa itu lebih tenang sejak serangan itu. Toko-toko tetap tutup dan warga memilih untuk tetap berada di dalam rumah.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konflik yang sedang berlangsung di Myanmar telah membuat lebih dari 783.400 orang mengungsi.

Konflik sebelumnya di negara yang bermasalah itu telah mengakibatkan 346.600 orang mengungsi.

*Beberapa nama telah diubah untuk alasan keamanan.

Sumber: Myanmars Catholic villagers live in mortal fear

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi