UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Katolik Singapura tekankan pentingnya perlindungan terhadap perkawinan dan keluarga

Agustus 4, 2022

Gereja Katolik Singapura tekankan pentingnya perlindungan terhadap perkawinan dan keluarga

Sebuah keluarga berdoa di kuil peninggalan gigi Buddha pada malam Tahun Baru Imlek Harimau di Distrik Chinatown di Singapura pada 31 Januari. (Foto: AFP)

Keuskupan Agung Singapura kembali menekankan perlindungan terhadap perkawinan dan keluarga di tengah langkah pemerintah yang  berencana mencabut undang-undang yang hingga sekarang menkriminalisasi sesama jenis di negara itu.

“Keuskupan Agung Singapura ingin menekankan kembali pendirian Gereja dan posisinya, bahwa pernikahan adalah antara seorang pria dan seorang wanita yang tergabung dalam komunitas kehidupan dan cinta yang intim, di mana kedua pasangan saling melengkapi,” kata Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Singapura dalam sebuah pernyataan pada 31 Juli.

“Keberhasilan pernikahan juga mengharuskan pernikahan yang pada hakekatnya terbuka untuk prokreasi (keturunan),” demikian isi pernyataan itu.

Pernyataan itu juga mengatakan keuskupan agung dan umat Katolik  menghormati harkat dan martabat kaum LGBTQ.

Keuskupan agung mengingatkan orang-orang LGBTQ untuk juga menghormati “hak untuk mempertahankan posisi kami dalam pernikahan” dan “unit keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka.”

Keuskupan agung itu mengatakan negara mungkin mempertimbangkan untuk mencabut Pasal 377A dari KUHP yang mengkriminalisasi sesama jenis, tetapi Gereja tetap pada posisinya untuk menjaga pernikahan dan kehidupan keluarga.

Pasal 377A menetapkan adanya hukujman penjara untuk jangka waktu yang dapat diperpanjang hingga dua tahun terhadap hubungan sesama jenis.

Pasal tersebut mendapat  kritikan di dalam dan luar negara itu karena dianggap ketinggalan zaman dan diskriminasi.

“Jika Pasal 377A KUHP dicabut, perhatian kami adalah agar perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita tetap menjadi institusi alamiah yang dijaga dan bahkan diabadikan dalam Konstitusi negara sebagai struktur alami masyarakat manusia,” kata keuskupan agung.

Pernyataan itu dikeluarkan seminggu setelah acara bertajuk Protect Singapore Townhall diadakan pada 23 Juli. Acara tertutup itu menimbulkan kontroversi karena dipandang sebagai perlawanan terhadap pencabutan Pasal 377A KUHP Singapura yang mengkriminalisasi seks sesama jenis.

Keuskupan agung itu menyatakan “penyelenggara dan peserta adalah individu yang memiliki hak berbicara dan mempertahankan pernikahan selama tidak merendahkan orang lain,” merujuk pada acara tersebut.

Acara itu hanya menyoroti “dampak kegiatan  LGBTQ+ dan bukan untuk menyebarkan kebencian,” kata Jason Wong, pendiri Yellow Ribbon Project, dikutip Channel News Asia (CNA).

Kelompok-kelompok agama juga mendukung keputusan pemerintah memperbarui undang-undang untuk mempromosikan inklusivitas dalam masyarakat Singapura.

Majelis Agama Islam Singapura (MUIS) mengatakan mereka “menghargai penekanan pemerintah pada pelestarian kohesi sosial ketika mengelola keragaman sehingga masyarakat kita menjadi masyarakat yang inklusif,” lapor CNA.

Seorang juru bicara Dewan Penasihat Sikh mengatakan organisasi tersebut setuju dengan “pendekatan seimbang” yang telah diambil pengadilan untuk banding terhadap Pasal 377A.

Pejabat pemerintah mengisyaratkan meskipun seks sesama jenis dikriminalisasi, kecil kemungkinan pernikahan sesama jenis akan diizinkan.

Sementara peraturan sedang ditinjau, “pada saat yang sama kami mempertimbangkan bagaimana kami dapat melindungi posisi hukum saat ini tentang pernikahan dari tantangan di pengadilan,” kata Menteri Hukum dan Dalam Negeri K. Shanmugam dalam sebuah video di Facebook.

“Kami sekarang sedang mempertimbangkan cara terbaik untuk mencapai keseimbangan ini.”

Sebuah survei yang dilakukan oleh Ipsos tahun ini menemukan 45 persen responden positif tentang hubungan sesama jenis, angka yang lebih tinggi dari survei tahun 2018. Juga ditemukan 20 persen menentang Pasal 377A, naik dari 12 persen tahun 2018.

Sumber: Church calls for safeguarding marriage family in Singapore

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi