UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Katolik di Sri Lanka yang diburu polisi minta perlindungan

Agustus 4, 2022

Imam Katolik di Sri Lanka yang diburu polisi minta perlindungan

Pastor Amila Jeewantha Peiris berpidato di depan protes anti-pemerintah di Sri Lanka. (Foto: Amila Udagedera)

Seorang imam Katolik di Sri Lanka yang diburu polisi mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung untuk mencegah upaya penangkapan terhadap dirinya dan dan melindungi hak-hak asasinya.

Pastor Amila Jeewantha Peiris, yang telah menjadi tokoh kunci selama protes anti-pemerintah yang berlarut-larut di negara kepulauan yang dilanda krisis itu, menyatakan kekhawatirannya bahwa polisi mungkin ingin menangkapnya lagi dengan tuduhan palsu.

Polisi telah mengunjungi sebuah gereja di Keuskupan Ratnapura selatan dan mengklaim mereka mendapat perintah untuk menangkap Pastor Jeewantha setelah pengadilan mengeluarkan larangan bepergian ke luar negeri terhadapnya.

Lebih dari 1.600 imam, biarawati dan bruder  telah mengeluarkan pernyataan menentang upaya menekan Pastor Jeewantha dan pengunjuk rasa lainnya.

Pastor Jeewantha telah mengatakan dia secara aktif berkontribusi pada perjuangan secara damai untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Jinowa Rasanthi, seorang mahasiswa yang bekerja dengan imam itu, mengatakan beberapa oknum  berada di balik upaya menangkap imam itu.

“Pastor Jeewantha selalu mendukung anti-kekerasan dan tidak pernah  merusak fasilitas publik,” kata Rasanthi mengacu pada tuduhan yang dibuat terhadap imam tersebut.

Pihak berwenang menangkap Dhaniz Ali, pengunjuk rasa terkemuka lainnya, ketika dia akan naik pesawat dari Kolombo pada 26 Juli.

Pria tak dikenal berpakaian preman menculik Veranga Pushpika, mantan aktivis mahasiswa dan jurnalis, yang juga aktif dalam protes anti-pemerintah.

Polisi telah meluncurkan penyelidikan terhadap Kayleigh “Kayz” Fraser, seorang wanita Inggris yang dikatakan secara aktif terlibat dalam berbagai protes, setelah Departemen Imigrasi menyita paspornya pada 2 Agustus.

Pihak berwenang mengatakan dia telah membawa masalah bagi Sri Lanka dan pasukan keamanannya di panggung internasional.

Human Rights Watch (HRW) mengatakan pemerintah Sri Lanka menggunakan peraturan darurat untuk mengganggu dan secara sewenang-wenang menahan para aktivis yang mencari reformasi politik dan akuntabilitas atas krisis ekonomi negara itu.

“Pemerintah perlu mengakhiri kebijakan dan praktik represifnya dan bertindak cepat  memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, mendapat kepercayaan publik, dan menegakkan supremasi hukum dengan meminta akuntabilitas dari  mereka yang bertanggung jawab,” kata Meenakshi Ganguly, direktur HRW Asia Selatan.

Shehan Malaka, seorang aktivis yang diculik untuk mencari keadilan bagi para korban serangan Paskah, mengatakan perlu ada perlindungan bagi para imam, biarawati, aktivis, mahasiswa dan pengacara yang terlibat dalam protes anti-pemerintah.

Sumber: Sri Lankan priest seeks court protection against arrest

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi