UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sikap diam Vatikan terhadap persidangan Kardinal Zen mencemaskan

Oktober 3, 2022

Sikap diam Vatikan terhadap persidangan Kardinal Zen mencemaskan

Kardinal Joseph Zen (kanan), salah satu tokoh agama Katolik terkemuka di Asia, tiba di pengadilan untuk diadili di Hong Kong pada 26 September. (Foto: AFP)

Oleh Ben Joseph

Kardinal Joseph Zen diadili pada saat yang sensitif ketika Vatikan sedang berupaya memperbarui perjanjian rahasianya yang kontroversial tentang penunjukan para uskup dengan Beijing bulan depan.

Kardinal Zen kelahiran Shanghai telah mengkritik kesepakatan Vatikan-China, yang pertama kali ditandatangani tahun 2018, menyebutnya sebagai “penjualan” umat Katolik bawah tanah di China, yang telah menghadapi penganiayaan karena tetap setia kepada Roma.

Rasa simpatinya ditujukan kepada umat Katolik yang menentang Asosiasi Patriotik Katolik yang didukung Partai Komunis China selama lebih dari enam dekade.

Kardinal Zen, uskup emeritus keuskupan Hong Kong, ditangkap bersama lima orang lainnya pada Mei lalu. Mereka dituduh gagal mengajukan permohonan pendaftaran serikat lokal untuk Dana Bantuan Kemanusiaan, yang memberikan bantuan kepada pengunjuk rasa pro-demokrasi tahun 2019.

Kardinal berusia 90 tahun itu tiba di pengadilan di Kowloon Barat pada 26 September dengan menggunakan tongkat.

Namun, persidangan itu ditunda hingga 26 Oktober setelah pengacara pembela minggu ini dilaporkan berupaya melawan para saksi polisi yang dipanggil oleh jaksa, secara signifikan menunda proses itu.

Mereka yang dituduh bersama Kardinal Zen adalah pengacara Margaret Ng, penyanyi-aktivis Denise Ho, akademisi studi budaya Hui Po-keung, aktivis Sze Ching-wee, dan mantan legislator Cyd Ho.

Semua terdakwa mengaku tidak bersalah dan dana kontroversial tersebut dibubarkan pada Oktober 2021. Namun, jaksa mengatakan dana tersebut menggunakan sebagian dari sumber dayanya untuk kegiatan politik dan acara non-amal.

Kardinal Zen dan yang lainnya sebelumnya didakwa berkolusi dengan pasukan asing, tetapi tuduhan itu dibatalkan. Sebaliknya, mereka dituntut karena pelanggaran yang lebih ringan karena gagal mendaftarkan dana mereka dengan benar sebagai sebuah serikat. Jika terbukti bersalah, mereka akan didenda hingga HK$10.000 (1.275 dolar AS).

Persidangan diperkirakan akan berakhir pada awal November. China telah mendakwa kardinal di bawah undang-undang yang kurang ketat agar tidak mengganggu Vatikan dan perjanjian rahasia itu akan diperbarui pada Oktober.

Kardinal Zen, seorang kritikus vokal China, menentang Undang-Undang Keamanan Nasional, diterapkan untuk menekan protes pro-demokrasi dan mengambil bagian dalam protes tahun 2019, 2014 dan 2003. Penangkapannya dan persidangannya telah menarik kritik dari komunitas Kristen dunia, meskipun Vatikan telah bersikap diam dalam tanggapannya.

Tetapi, beberapa pejabat senior Gereja telah berbicara untuk mendukung Kardinal Zen.

Kardinal Fernando Filoni, mantan Prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa, menulis untuk mendukung Zen pada 23 September.

“Kardinal Zen adalah seorang ‘manusia Tuhan’; kadang-kadang melampaui batas, tetapi tunduk pada kasih Kristus, yang menginginkan dia menjadi imamnya, sangat mencintai, seperti Don Bosco, bersama dengan kaum muda,” tulis Filoni.

Uskup Thomas Tobin dari Providence, Rhode Island, mengajukan banding pada 19 September saat persidangan Kardinal Zen dijadwalkan akan dimulai. Uskup Agung San Francisco, Mgr. Salvatore Cordileone berdoa untuk Kardinal Zen pada 26 September.

Uskup Athanasius Schneider, seorang uskup auksilier Maria Santissima di Astana, Kazakhstan, juga menyampaikan doanya pada 26 September.

Pada 1 September, Kardinal Gerhard Ludwig Muller, mantan Prefek Kongregasi Ajaran Iman, mengungkapkan rasa kecewaannya bahwa Kardinal Zen tidak hadir pada pertemuan Dewan Kardinal pada Agustus.

“Zen adalah simbol dan dia ditangkap dengan dalih, dia tidak melakukan apa-apa, dia adalah sosok yang berpengaruh, berani, dan sangat ditakuti oleh pemerintah,” katanya.

Kardinal Charles Bo, uskup agung Yangon, ketua Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia (FABC), memberikan dukungannya tak lama setelah penangkapan Zen pada Mei.

“Saudara-saudaraku para kardinal, Yang Mulia Joseph Zen, ditangkap dan menghadapi dakwaan hanya karena dia melayani sebagai penyandang dana yang memberikan bantuan hukum kepada para aktivis yang menghadapi kasus pengadilan,” tulis Kardinal Bo dalam sebuah pernyataan.

Advokat Hak Asasi Manusia David Alton, Baron Alton dari Liverpool, mentweet pada 26 September bahwa China telah mendirikan “pengadilan kanguru tua yang sama,” untuk menghancurkan Kardinal Zen dan lainnya.

Namun, Paus Fransiskus telah menolak untuk mengomentari penuntutan Kardinal Zen. Pengamat Gereja mengaitkan sikap diam Vatikan terkait dialog yang berlanjut dengan Beijing yang bertujuan memperbarui kesepakatan China-Vatikan, yang akan berakhir jika tidak diperbarui pada Oktober.

Perjanjian asli ditandatangani sebagai percobaan pada Oktober 2018, untuk periode dua tahun, dan diperpanjang pada Oktober 2020 selama dua tahun lagi.

Banyak yang menduga waktu penangkapan dan penundaan persidangan Kardinal Zen adalah bagian dari skema yang direkayasa untuk memperdaya para negosiator Vatikan karena Vatikan tampaknya bertekad untuk terus memiliki suara dalam penunjukan uskup.

Karena banyak umat Katolik tidak nyaman dengan tawaran Roma ke Beijing dan menunjuk ke masa lalu untuk menekankan bahwa berurusan dengan komunis China sama baiknya dengan tidak memiliki kesepakatan. Komunis China mengikuti jalan tindakan mereka sendiri, terlepas dari konvensi internasional dan perjanjian diplomatik.

Terlepas dari peringatan Kardinal Zen bahwa perjanjian tersebut akan membuka jalan bagi China untuk membajak Gereja Katolik, Vatikan telah berfokus pada hasil positif dari perjanjian tersebut, yang telah membantu 12 juta umat Katolik di China untuk bersatu sebagai satu Gereja Katolik. Vatikan mengklaim bahwa dengan kesepakatan itu “semua uskup Katolik di China saat ini berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma.”

Bagi Takhta Suci, Gereja bersatu yang baru lahir di China — mengakhiri perpecahan Gereja bawah tanah dan Gereja yang dikelola negara — adalah penting. Tetapi pertanyaannya tetap: jika semua Gereja Katolik China menjadi satu Gereja yang bersatu, apakah akan pernah lepas dari kendali komunis China?

Akankah hasil akhir dari kesepakatan itu sepadan dengan pengorbanan moral yang dilakukan Vatikan sekarang?

*Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi UCA News.

Sumber: Vatican silence on Cardinal Zen’s trial is disconcerting

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi