UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja di Filipina galang dana untuk membangun kembali setelah gempa

Oktober 28, 2022

Gereja di Filipina galang dana untuk membangun kembali setelah gempa

Foto ini diambil pada 26 Oktober, atas izin Pastor Christian Edward Padua di halaman Facebook-nya, menunjukkan Gereja Iglesia Independiente yang rusak di kota La Paz, Provinsi Abra, utara Manila, sehari setelah gempa berkekuatan 6,4 skala Richter melanda provinsi itu pada 25 Oktober. (Foto: Christian Edward Padua/AFP)

Setidaknya dua keuskupan di Filipina telah meminta sumbangan untuk melakukan perbaikan gereja setelah gempa bumi baru-baru ini yang melanda beberapa provinsi di negara itu.

Keuskupan Bangued di Provinsi Abra dan Keuskupan Agung Tuguegarao di Provinsi Cagayan, di Filipina utara, telah meminta bantuan untuk memperbaiki tembok gereja yang retak dan menara lonceng yang runtuh akibat gempa pada 25 Oktober itu.

“Kami mengetuk hati sesama kami warga Filipina untuk menyalurkan bantuan untuk memulihkan gereja kami yang rusak. (Gempa bumi) ini menambah penderitaan umat kami saat ini masih belum pulih akibat dampak pandemi,” kata Uskup Bangued, Mgr. Leopoldo Jaucian kepada UCA News.

Uskup Jaucian mengatakan orang Filipina seharusnya tidak hanya mendengar seruan bantuan dari umat Katolik, tetapi juga dari umat Protestan yang gereja-gereja mereka juga rusak akibat gempa tersebut.

“Umat Katolik dan Protestan adalah satu dalam doa dan memohon bantuan. Kedua Gereja kami rusak akibat gempa dahsyat pada Selasa lalu. Ini hanya membuktikan bahwa terlepas dari agama, orang Filipina memperlakukan tempat ibadah sebagai tempat suci,” tambah prelatus itu.

Uskup Jaucian mengacu pada Gereja Iglesia Independiente yang juga dikenal sebagai Gereja Aglipayan, yang gerejanya berusia seabad runtuh saat gempa.

Gereja Santo Tomas di Provinsi Tuguegarao juga retak-retak. Salib seukuran aslinya jatuh dan juga beberapa gambar orang kudus.

“Rantai salib itu putus. Gambar antik rusak ketika jatuh. Demikian juga, patung Kristus patah lengan kiri. Ini perlu kita perbaiki karena gambar ini merupakan simbol kepercayaan masyarakat kota,” kata kepala Paroki St. Nino, Pastor Lorenzo Caguioa, kepada UCA News.

Gedung-gedung pemerintahan juga tidak luput dari gempa. Otoritas pemerintah terpaksa menutup sekolah dan kantor pemerintah setelah mengalami retak-retak dan jendela pecah di kedua provinsi itu.

“Ruang komputer kami hancur bersama dengan lebih dari 30 laptop. Dinding dan langit-langit runtuh menimpa sejumlah laptop kami,” kata Esterio Apolinar, kepala sekolah di sebuah kota di Provinsi Abra, kepada wartawan pada 26 Oktober.

Apolinar telah meliburkan para siswa selama beberapa hari hingga departemen pendidikan mengumumkan gedung mereka aman bagi para siswa mereka untuk kembali ke sekolah mereka.

Badan sosial Gereja Katolik telah mengumumkan pihaknya telah mengerahkan tim untuk menilai kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi.

Caritas Filipina juga telah mulai membawa bahan bangunan untuk didistribusikan di sejumlah keuskupan di mana gereja-gereja rusak.

“Pusat-pusat aksi sosial kami sudah memiliki kapasitas untuk mulai bertindak. Mereka pasti sudah tahu bagaimana menanggapinya,” kata kepala Caritas, Uskup Jose Colin Bagaforo, dalam sebuah pernyataan.

Prelatus itu juga telah menarik dana Caritas dari program Prapaskah Alay Kapwa, sebuah program amal ketika umat Katolik Filipina menyumbangkan dana untuk korban bencana alam.

“Kami telah mengalokasikan dana dari kantong umat kami sendiri. Kami memiliki dana perwalian untuk keadaan darurat semacam ini tetapi itu tidak cukup terutama dengan harga bahan bangunan saat ini,” tambah Uskup Bagafuro.

Sumber: Filipino church seeks funds to rebuild after quake

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi