UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Keluarga pegawai Katolik yang tewas mengenaskan di Semarang surati Presiden Jokowi

Nopember 8, 2022

Keluarga pegawai Katolik yang tewas mengenaskan di Semarang surati Presiden Jokowi

Romo Aloysius Budi Purnomo, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Penciptaan Kevikepan Semarang, berdoa bersama istri dan anak-anak dari Almarhum Paulus Iwan Budi Prasetijo di Gereja St. Ignatius Loyola Banjardowo, Semarang pada 3 November. (Foto disediakan)

Keluarga dari seorang  pegawai pemerintah beragama Katolik di Semarang yang meninggal dunia mengenaskan dan diduga terkait dengan statusnya sebagai saksi dalam sebuah kasus dugaan korupsi, meminta perhatian Presiden Joko Widodo agar memberi perhatian pada pengusutan kasus itu.

Theresia Alvita Saraswati, salah satu putri dari Paulus Iwan Budi Prasetijo, 51, pegawai Pemerintah Kota Semarang yang ditemukan tewas terbakar mewakili keluarganya mengirim surat kepada Presiden Widodo pada 4 November.

“Yang Terhormat Bapak Presiden RI, Bapak Joko Widodo, Kami keluarga korban memohon agar kasus yang diduga melibatkan oknum alat negara ini dikawal dan diselesaikan seadil-adilnya,” tulisnya dalam surat tersebut.

“Kami dengan hormat memohon agar kasus ini bisa dituntaskan tanpa intervensi dari beberapa pihak yang ingin menutupi kesalahan keji para pelaku,” tambahnya dalam surat itu yang salinannya diperoleh UCA News.

Iwan hilang pada 24 Agustus, sehari sebelum dijadwalkan menjadi saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan tanah di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Kota Semarang, tempat dia bekerja. Sebuah LSM lokal pertama kali melaporkan kasus dugaan korupsi ini pada bulan April, yang memicu penyelidikan polisi.

Tubuhnya yang hangus ditemukan oleh pekerja yang pergi untuk membersihkan semak-semak di pinggiran kota pada 8 September, kata polisi. Tubuhnya dimutilasi, dan kedua tangan dan kaki kanannya ditemukan setelah pencarian di sekitar lokasi.

Saraswati mengatakan, kematian ayahnya “sungguh menjadi pukulan berat bagi kami keluarga yang ditinggalkan.”

“Saat ini yang bisa membuat kami kuat untuk terus menjalani kehidupan selanjutnya hanya melihat para pelaku bertanggung jawab di hadapan hukum atas perbuatan biadab mereka terhadap nyawa berharga almarhum,” katanya.

Ia mengatakan, “kami sebelumnya adalah keluarga yang harmonis yang penuh kehangatan.”
“Bagi keluarga, almarhum adalah sook kepala keluarga yang penuh tanggung jawab, bijaksana dan penyayang,” katanya.

Romo Aloysius Budi Purnomo, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan Semarang yang mendampingi keluarga korban mengatakan, “saya mendukung setiap upaya positif yang dilakukan keluarga untuk mengusut tuntas tindakan yang biadab terhadap almarhum.”

“Harapan saya, Presiden Jokowi merespons positif seruan Saraswati dengan memberikan atensi pada kasus ini dan memerintahkan para pihak terkait untuk bekerja secara profesional,” katanya kepada UCA News.

Ia mengatakan bahwa dirinya selalu memberitahu keluarga korban bahwa dalam upaya penuntasan kasus ini, “prinsip dasarnya adalah empati berdasarkan iman, harapan, dan kasih.”
“Saya terus mendampingi mereka agar tidak dikuasai rasa benci dan dendam, melainkan tetap mengedepankan cinta kasih demi keadilan,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknua juga terus mendukung dan mengawal polisi agar bisa serius mengusut kasus ini.

Ia mengatakan, pada 4 November, ia mendampingi keluarga korban dan pengacara mereka menjumpai penyidik di Polisi Kota Semarang untuk “mendorong agar mengusut kasus ini secepatnya dan seadil-adilnya secara tuntas.”

Romo Purnomo menambahkan, ia juga mendampingi keluarga korban dan menjumpai Sekda Pemkot Semarang untuk memenuhi janji memberi beasiswa kepada tiga anak korban – dua yang masih kuliah hingga dan satu yang masih di Taman Kanak-kanak.

Ia menyatakan, Gereja juga membantu menunjuk pengacara Yunantyo Adi Setyawan, seorang Muslim yang hingga kini besedia bekerja sukarela.

Iqbal Alqudusy, juru bicara Kepolisian Provinsi Jawa Tengah mengatakan, sampai saat ini, mereka sudah memeriksa 30 saksi.

Salah satunya, kata dia, adalah AG, saksi kunci yang bertugas menjaga pintu masuk Pantai Marina Semarang, tempat korban diduga dibunuh.

Kasus ini juga menyeret dua orang orang tentara yang telah diperiksa.

Setyawan, pengacara keluarga korban mengatakan, mereka berencana mengirim surat khusus kepada Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa untuk meminta perhatiannya, termasuk tindakan tegas terhadap anggotanya yang diduga terlibat.

Beka Ulung Hapsara, komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengatakan, meski tidak melakukan penyelidikan kasus ini, namun mereka membantu koordinasi dalam proses penyidikan, “agar tidak terjadi obstruction of justice” atau upaya menghalangi proses mencapai keadilan.

Sumber: Family of slain Indonesian Catholic seeks prez support

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi