UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pentingnya uskup pribumi pertama di Papua

Nopember 8, 2022

Pentingnya uskup pribumi pertama di Papua

Uskup Emeritus Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, (kiri) mengumumkan nama Pastor Yanuarius Theofilus Matopai You (kanan) sebagai penggantinya pada 29 Oktober. (Foto: YouTube)

Oleh: Siktus Harson

Setelah bertahun-tahun menunggu dengan penuh doa, akhirnya umat Katolik di Papua mendapatkan apa yang mereka harapkan – seorang uskup dari antara Orang Asli Papua.

Hampir 70 persen atau sekitar 3 juta dari total 4,3 juta penduduk provinsi terbelakang ini beragama Kristen. Sekitar 675.000 adalah Katolik. Selain itu, ada sekitar 90.000 umat Katolik di Provinsi Papua Barat dari total 1,1 juta penduduk.

Umat Katolik di Papua tinggal di Keuskupan Jayapura, Keuskupan Timika, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats-Asmat, dan Keuskupan Agung Merauke. Di antara kelimanya, Keuskupan Jayapura adalah yang tertua.

Selama beberapa tahun terakhir, terutama sejak Uskup Leo Laba Lajar, OFM, berusia 75 tahun empat tahun lalu, umat Katolik di Keuskupan Jayapura telah meminta Vatikan melalui Konferensi Waligereja Indonesia untuk mengangkat orang asli Papua sebagai uskup baru. Seruan serupa datang dari umat Katolik Timika setelah wafatnya Uskup John Philip Saklil tahun 2019.

Vatikan baru-baru ini mengabulkan permintaan umat Katolik Jayapura dengan mengangkat Uskup terpilih Yanuarius Theofilus Matopai You, 61, untuk menggantikan Uskup Ladjar.

Penunjukan Uskup terpilih You bukan hanya kabar baik bagi umat Katolik Papua. Hal itu mengangkat identitas budaya mereka yang selama beberapa dekade diremehkan dan juga menunjukkan pengakuan atas kedewasaan iman masyarakat lokal yang memeluk agama Kristen lebih dari satu abad lalu.

Misi Katolik di Papua dimulai tahun 1894 ketika dua misionaris Jesuit tiba di daerah yang sekarang dikenal sebagai Fakfak. Tak lama kemudian, wilayah itu diserahkan kepada Ordo Misionaris Hati Kudus (MSC) yang pada awal 1900-an mengirim kelompoknya untuk bekerja di antara orang-orang Papua. Belakangan, para misionaris dari Ordo Fransiskan (OFM) bergabung dengan mereka.

Tahun 1949, Gereja Katolik yang lebih terstruktur dimulai dengan pembentukan Prefektur Apostolik Hollandia, yang kemudian menjadi Keuskupan Jayapura.

Tidak memiliki seorang uskup pribumi merupakan keprihatinan besar bagi orang Papua yang telah hidup selama beberapa dekade di bawah bayang-bayang kekerasan.

Kemiskinan, kekerasan dan diskriminasi sejak Papua dianeksasi hampir 60 tahun lalu memaksa mereka untuk mencari semacam pengakuan, yang sulit didapat dari pemerintah Indonesia.

Satu-satunya harapan mereka adalah Gereja Katolik. Tetapi bagi banyak orang Papua, Gereja itu “dekat namun jauh”.

Mereka merasa seolah-olah para uskup Indonesia telah meninggalkan mereka dan membangun mosi tidak percaya kepada hierarki.

Tahun lalu, umat Katolik di Papua bahkan mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan lima uskup di Papua dan Konferensi Waligereja Indonesia pada umumnya. Mereka menuntut agar semua uskup di wilayahnya digantikan oleh orang asli Papua yang lebih mengetahui dinamika geografis, antropologis, dan sosial kehidupan orang Papua.

Ini menjadi masalah serius dengan kekecewaan terhadap Gereja Katolik yang tumbuh dengan tajam.

Kini, keinginan mereka terkabul. Tetapi, apakah memiliki uskup asli Papua adalah tujuan akhir? Apakah ada perbedaan antara memiliki prelatus asli dan bukan asli Papua?

Uskup terpilih You adalah uskup suku Papua pertama, tetapi bagaimana rasanya memiliki uskup “Papua” yang muncul dalam diri Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil. Ia diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II ketika Keuskupan Timika berpisah dari Jayapura.

Uskup Saklil lahir di Papua, tetapi karena orangtuanya berasal dari Maluku, ia tidak dianggap sebagai uskup asli.

Keberpihakannya pada rakyat, bahkan secara terbuka menentang korporasi Indonesia yang merambah hutan Papua, membuatnya dicintai oleh orang Papua.

Orang-orang Papua ingin para uskup lain di wilayah itu bertindak dengan berani.

Akankah Uskup terpilih You dapat memenuhi harapan mereka? Hanya waktu yang akan menentukan.

Umat Katolik di Keuskupan Jayapura mengakui uskup baru itu sebagai sosok yang setia dan berkomitmen melayani umat.

Ditahbiskan menjadi imam tahun 1991 setelah menyelesaikan pedidikan empat tahun di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, di mana ia saat ini menjadi ketuanya, Uskup terpilih You telah melayani umat Katolik Papua di berbagai paroki.

Memiliki gelar doktor dalam bidang antropologi dari sebuah universitas di Papua, ia diyakini sebagai orang yang tepat untuk mengambil peran uskup. Dia tahu perjuangan rakyat.

Ini tidak berarti uskup non-pribumi Papua bukanlah gembala yang baik.

Situasi Papua lebih kompleks daripada di bagian lain negara ini. Penunjukan Uskup terpilih You mempersempit jurang pemisah antara umat Katolik kelahiran Papua dan orang luar Papua.

Pengangkatan seorang asli Papua sebagai uskup memberikan sinyal kuat bahwa Gereja Universal mendengarkan suara mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Gereja Katolik mengakui Papua sebagai bagian dari Gereja Universal.

Dampaknya luar biasa. Di tengah ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian, akibat intimidasi, diskriminasi, dan kekerasan selama puluhan tahun, Gereja Katolik tidak meninggalkan mereka.

Penting bagi orang Papua bahwa Gereja berpihak pada umatnya. Diyakini bahwa ini akan membantu memulihkan kepercayaan umat kepada klerus.

Kehadiran uskup asli Papua dapat membangun kembali harapan yang hancur dari umat Katolik Papua yang merasakan dominasi kehadiran umat dan rohaniwan dari luar Papua.

Bukan berarti umat Katolik juga mendorong Papua untuk berpisah dari Indonesia.

Mereka menginginkan seorang uskup asli Papua, bukan untuk tujuan politik atau untuk mendukung kemerdekaan. Mereka hanya menginginkan Gereja yang semakin mengakar dalam budaya Papua.

Mereka hanya menginginkan pemimpin yang memahami situasi dan perjuangan hidup mereka.

*Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi UCA News.

Sumber: Significance of first native bishop in Indonesia’s Papua

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi