UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Caritas Bangladesh didesak lanjutkan peran ‘Orang Samaria yang baik hati’

Nopember 15, 2022

Caritas Bangladesh didesak lanjutkan peran ‘Orang Samaria yang baik hati’

Gadis-gadis muda membawakan tarian tradisional selama upacara penutupan perayaan yubileum emas Caritas Bangladesh di ibukota Dhaka pada 12 November. (Foto: Stephan Uttom/UCA News)

Caritas Bangladesh  didesak melanjutkan peran vitalnya dalam pembangunan masyarakat terpinggirkan di negara Asia Selatan yang mayoritas Muslim itu saat menutup perayaan yubileum emas yang telah berlangsung selama setahun.

“Peran Caritas sama seperti Orang Samaria yang baik hati, yang melihat kebutuhan orang lain dan tanpa pamrih memperhatikan mereka, dan dengan penuh kasih membantu mereka,” kata Msgr. Marinko Antolovic, penanggung jawab urusan di Kedutaan Besar Vatikan di Bangladesh.

“Caritas mengangkat kehidupan orang-orang biasa – orang-orang yang terkena dampak bencana, orang-orang yang tertekan, dan orang-orang yang menderita, dan membawa harapan ke dalam hidup mereka,” katanya.

Msgr. Antolovic berbicara selama program penutupan tingkat nasional dari perayaan yubileum di ibukota Dhaka pada 12 November. Acara itu bertemakan “Caritas Bangladesh: 50 Tahun Perjalanan Cinta dan Pelayanan.”

Dia mengatakan Paus Fransiskus telah mengirimkan salam khusus karena dia “tertarik dengan pelayanan Caritas Bangladesh.”

“Dia sangat tersentuh oleh peran vital Caritas dalam menyambut, melindungi, dan membantu para pengungsi Rohingya sejak awal peristiwa tragis tahun 2017,” katanya, seraya menambahkan Bapa Suci berharap agar Caritas melanjutkan pekerjaan baik dengan lebih banyak lagi – solidaritas, dan amal.

“Dia mendorong Anda untuk memberi diri sendiri, terbuka untuk orang lain, dan terus-menerus melayani orang-orang yang hidup di pinggiran masyarakat.”

Sekitar 2.000 orang bergabung dalam perayaan penutupan. Mereka termasuk Menteri Pertanian Abdur Razzak, Menteri Negara Kesejahteraan Sosial Ashraf Ai Khan Khosru, Kardinal Patrick D’Rozario, Ketua Caritas Asia Benedict Alo D’Rozario, dan perwakilan dari lembaga donor termasuk Caritas Prancis, CAFOD dan Catholic Relief Services (CRS).

Program sepanjang hari menampilkan parade warna-warni, pelepasan balon dan merpati, pameran oleh kantor regional Caritas dan perwakilan, pembagian penghargaan Caritas, video dokumenter tentang kegiatan Caritas, presentasi laporan penelitian dan pertunjukan budaya.

Razzak, tamu utama, memuji Caritas atas perannya dalam pembangunan sosial-ekonomi sejak Bangladesh memperoleh kemerdekaan tahun 1971.

“Ketika Bangladesh berdiri, banyak ahli memperkirakan bahwa negara itu tidak akan mampu bertahan sebagai negara merdeka karena kemiskinan endemik dan akan selalu bergantung pada bantuan asing. Bangladesh disebut sebagai ‘keranjang tanpa dasar.’ Tapi kami telah membuktikan bahwa mereka semua salah,” kata menteri itu.

“Hari ini, kami telah mengurangi kemiskinan menjadi 20 persen dari 56 persen dan ketergantungan kami pada bantuan luar negeri telah turun dari 20 persen menjadi hanya 2 persen hari ini. Selain pemerintah, lembaga pembangunan seperti Caritas telah memainkan peran yang luar biasa,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Caritas Sebastian Rozario mengatakan dalam 50 tahun terakhir, Caritas telah mendukung sekitar 45 juta orang dalam bantuan kemanusiaan untuk pembangunan sosial ekonomi.

Ini termasuk menyediakan 818.000 rumah murah, 45.000 sumur tabung, 4.600 sumur bor, 255 tempat perlindungan siklon, menanam 650.000 pohon, dan membangun jalan sepanjang 16.645 kilometer dan 698 jembatan. Selama Covid-19, Caritas mendukung 97.000 keluarga.

Caritas juga mengelola 16 pusat pecandu narkoba, pekerja seks, anak jalanan dan orang cacat, 92 tempat penitipan anak, 5 pusat TB dan kusta, 2 pusat rehabilitasi narkoba, 11 sekolah pelatihan kejuruan daerah, 32 sekolah teknik keliling, dan 4 sekolah terbuka untuk anak-anak.

Di kamp pengungsi terbesar di dunia di Cox’s Bazar, Caritas telah secara langsung mendukung lebih dari 200.000 pengungsi Rohingya.

Rozario mengatakan Caritas saat ini menjalankan 112 proyek dan 3 badan perwalian yang melayani 1,6 juta orang di 53 dari 64 distrik di Bangladesh.

“Pelayanan kami untuk yang termiskin dari yang miskin dan orang-orang yang terpinggirkan akan terus berlanjut,” katanya.

Richard Sloman, perwakilan dari CAFOD, badan bantuan resmi Gereja Katolik di Inggris dan Wales, mengatakan organisasi tersebut bangga telah menjadi mitra pembangunan Caritas Bangladesh sejak 1986.

“Caritas Bangladesh telah memberikan cinta dan harapan kepada jutaan orang di seluruh negeri. Dari orang-orang yang terlantar akibat banjir dan angin topan hingga petani miskin, perempuan, dan anak-anak yang tinggal di daerah kumuh atau pengungsi yang tinggal di Cox’s Bazar,” kata Sloman.

Penerima manfaat mengatakan intervensi Caritas telah membuat perbedaan dalam hidup mereka.

Nimai Talukder, 58, seorang Hindu dari Rangunia di Chittagong, adalah buruh harian berpenghasilan rendah hingga tahun 2000 dan berjuang untuk menghidupi keluarganya. Ia menjadi anggota proyek pertanian organik Caritas dan belajar budidaya sayur-sayuran dan ikan serta teknik membuat pupuk kompos menggunakan cacing tanah.

Sekarang dia menghasilkan sekitar 17.000 Taka (161 dolar AS) per bulan dari menjual sayuran dan pupuk dan dapat menghemat 1.500 Taka.

“Dulu saya tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga saya. Itu sekarang adalah masa lalu. Saya telah mencapai kesuksesan dengan bekerja keras bersama istri dan anak-anak saya di bidang pertanian. Saya berterima kasih kepada Caritas atas dukungannya,” katanya.

Caritas cabang timur di Pakistan dimulai tahun 1967 ketika Bangladesh masih menjadi bagian dari Pakistan.

Menyusul topan mematikan tahun 1970 yang menewaskan sekitar 500.000 orang di Pakistan Timur, Keuskupan Chittagong memobilisasi upaya bantuan di daerah pesisir melalui Chittagong Organization for Relief and Development (CORD).

Sesaat sebelum kemerdekaan Bangladesh menyusul perang saudara berdarah tahun 1971, CORR menjadi organisasi nasional. Itu menjadi organisasi sukarela terdaftar tahun 1972. Kemudian berganti nama menjadi Caritas Bangladesh.

Caritas memiliki kantor nasional di ibukota Dhaka dan delapan kantor regional yang berbasis di delapan keuskupan di Bangladesh.

Sumber: Caritas Bangladesh urged to continue good Samaritan role

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi