UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Di COP27, para suster Katolik dorong kompensasi kerugian bagi negara paling terdampak perubahan iklim

Nopember 21, 2022

Di COP27, para suster Katolik dorong kompensasi kerugian bagi negara paling terdampak perubahan iklim

Matahari terbenam di belakang logo konferensi iklim COP27 di Pusat Konvensi Internasional di Sharm el-Sheikh di Resort Laut Merah di Mesir pada 11 November. 14. (Foto: AFP)

Ketika konferensi iklim PBB hampir berakhir, Uni Eropa (UE) mengusulkan solusi potensial untuk masalah dana ganti kerugian dan kerusakan yang sedang berlangsung, di mana beberapa negara akan memberikan kompensasi kepada negara-negara yang paling rusak akibat perubahan iklim.

Proposal UE, diajukan pada 18 November, pada hari terakhir konferensi itu, menyarankan agar dana tersebut berasal dari negara manapun yang berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Dana itu bisa berasal dari negara-negara ekonomi baik dengan polusi tinggi seperti China, bukan hanya negara-negara kaya yang secara historis berkontribusi paling besar terhadap pemanasan global, lapor kantor berita Inggris, Reuters.

Reuters menambahkan kesepakatan di konferensi iklim PBB harus dilakukan dengan dukungan dari hampir 200 negara yang terlibat.

Para suster Katolik termasuk di antara ribuan aktivis yang mendorong para pemimpin dunia untuk berkomitmen mengurangi emisi dan membayar kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim di Dunia Selatan.

“Mari kita bertindak sekarang atau tidak sama sekali. Kita tidak memerlukan pembicaraan lagi karena kita tahu situasinya,” kata Suster Durstyne Farnan, seorang suster dari Kongregasi Dominikan Adrian dari Michigan.

“Para pemimpin dunia harus segera menyepakati cara memerangi perubahan iklim untuk menyelamatkan planet ini dari kerusakan,” katanya, seraya mencatat penting bagi “negara-negara kaya seperti Amerika Serikat” untuk “menemukan cara bekerja dengan mitra lain di dunia, terutama pulau-pulau kecil yang sedang tersapu laut dan hanyut.”

Suster Farnan, yang berpartisipasi dalam demonstrasi jalanan di COP27, mengatakan tidak adil bagi negara-negara kaya untuk gagal mengimplementasikan dana mitigasi iklim, dan mendanai perusahaan bahan bakar fosil.

“Sebagai religius, kami memiliki tanggung jawab untuk berbicara dan setidaknya hadir di acara COP27. Kami memiliki banyak suster di Dunia Selatan, dan mereka telah mengatakan kepada kami apa yang terjadi di tanah air mereka — ada kekeringan dan banjir, dan orang-orang kehilangan mata pencaharian akibat perubahan iklim,” katanya kepada EarthBeat, sebuah proyek lingkungan Katolik yang berbasis di AS.

Suster Paola Moggi, dari Kongregasi Misionaris Comboni di mana kongregasinya memiliki rumah biara di 16 negara Afrika, mengatakan dia bingung bahwa dimasukkannya kerugian dan kerusakan dalam agenda COP27 tetap menjadi “isu panas” dan “permainan politik”.

“Saya melihat negosiasi sangat sulit di sini, dan kemajuan sangat lambat karena ada kepentingan, terutama kepentingan keuangan, menang,” kata Suster Moggi, mewakili VIVAT International, sebuah organisasi berbasis religius yang bekerja untuk membawa suara komunitas akar rumput ke tingkat yang lebih tinggi di PBB.

“Fokus khusus pada keuangan dan perdebatan tentang kerugian dan kerusakan dapat ditangani tidak hanya dari sudut pandang material tetapi juga dari sudut non-material – kerusakan budaya dan spiritual perlu dipertimbangkan.”

Suster Ernestine Lalao, mewakili Kongregasi St. Perawan Maria Cinta Kasih Gembala Baik dari Madagaskar, memohon kepada negara-negara kaya yang bertanggung jawab atas krisis iklim untuk bersimpati dengan negara-negara berkembang yang sangat terpengaruh oleh ketidakadilan iklim, dan setuju memberikan kompensasi kepada mereka.

Dia mengatakan Madagaskar adalah salah satu negara di dunia yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, meskipun menghasilkan sedikit emisi gas rumah kaca.

Dia mengatakan negara itu telah mengalami kelaparan, angin topan, pemindahan paksa, dan hilangnya nyawa serta mata pencaharian karena dampak perubahan iklim.

Menurut CDP, sebuah badan amal nirlaba, Afrika menghasilkan kurang dari 4 persen emisi gas rumah kaca global. Sebaliknya, laporan tersebut menunjukkan China bertanggung jawab atas 23 persen, AS bertanggung jawab atas 19 persen dan Uni Eropa sebesar 13 persen dari gas rumah kaca global.

“Biarkan hasil dari semua negosiasi dan janji diwujudkan, dan tindakan sangat mendesak,” kata Sister Lalao kepada EarthBeat.

“Setiap orang di planet ini memiliki tanggung jawab besar atas tantangan global yang besar ini dalam perang melawan perubahan iklim. Negara-negara berkembang benar-benar diajak untuk mendukung negara-negara terbelakang seperti Madagaskar, termasuk yang paling banyak menjadi korban perubahan iklim.”

Suster Moggi mengatakan para suster Katolik “dapat membawa perspektif spiritualitas alternatif ke COP27 ini sehingga kita mengatasi bias teknologi.”

Sumber: Catholic sisters pushing for loss and damage at COP27

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi