UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Politisasi salib adalah masalah rumit di Pakistan

Nopember 21, 2022

Politisasi salib adalah masalah rumit di Pakistan

Shunila Ruth (tengah), seorang pemimpin wanita Kristen dari partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) bersama para pendukungnya memegang salib di Bundaran Liberty di Lahore pada 28 Oktober. (Foto milik Shunila Ruth)

Politisi Pakistan Shunila Ruth dan kelompok pendukungnya mengangkat salib-salib saat mereka menyambut Imran Khan – perdana menteri yang digulingkan yang baru-baru ini – mengadakan pawai ke ibukota negara itu dalam upaya mendapatkan kembali kekuasaan.

“Saya mengagumi semangat orang-orang Kristen dan minoritas lainnya atas dukungan mereka. Kami berada di sini untuk menyambut dan menemaninya ke Islamabad,” kata Ruth, seorang anggota Majelis Nasional beragama Kristen saat berpidato di depan massa di kota Gujranwala pada 31 Oktober.

Video klip Ruth dan para pendukungnya menimbulkan reaksi keras di media sosial di mana banyak orang Kristen mengkritiknya karena ia tidak menghormati salib.

Pastor Morris Jalal, pendiri dan direktur eksekutif TV Katolik yang berbasis di Lahore, menyebutnya “pertunjukan identitas Kristen tersebut adalah salah tempat.”

Dia jelas menentang pencampuran iman dengan politik dan ingin politisi itu menghindari penggunaan simbol agama Kristen untuk tujuan politik.

“Salib itu sendiri mengandung misteri keselamatan. Salib itu seharusnya tidak menjadi sarana untuk melayani kepentingan politik,” katanya kepada UCA News.

Namun, Ruth, yang memakai dua kalung salib, menyebutnya sebagai perisai, simbol perlindungan terhadap kejahatan dan bahaya.

“Salib sangat penting bagi keberadaan kita. Kita percaya salib itu akan melindungi kita dalam perang ini. Pendukung saya dan saya juga menyanyikan lagu-lagu pujian dan memohon bantuan Tuhan. Ada yang salah mengartikan sikap kami,” katanya.

Ruth menunjukkan orang-orang Kristen memajang salib di dalam rumah mereka dan bahkan di kendaraan mereka.

“Ini adalah kesaksian kami di negara ini,” katanya kepada UCA News.

Selama beberapa dekade, para pemimpin Gereja di Republik Islam itu telah melarang praktik kontroversial tersebut.

Namun terlepas dari semua kritik, simbol Kekristenan yang paling terlihat terus menjadi fitur reguler dari acara-acara politik, terutama ketika diselenggarakan oleh sayap minoritas dari partai-partai dengan keanggotaan Kristen yang substansial.

Salib, kadang-kadang, ada di mana-mana seperti bendera politik.

Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika salib menduduki tempat yang menguntungkan di Bundaran Liberty Lahore pada 28 Oktober, hari di mana Partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), partainya Khan, meluncurkan ‘Haqeeqi Azadi March‘ (Pawai Kebebasan Sejati) di Islamabad.

Para pengamat politik mengatakan mantan bintang kriket itu berfokus pada kaum muda, dan untuk mendapatkan dukungan mereka, dia telah mengunjungi perguruan tinggi, terutama yang dikelola orang Kristen.

Para pendukungnya memasang salib di spanduk-spanduk di tempat pertemuannya dan persimpangan jalan utama Lahore. Banyak salib ditemukan berserakan di pinggir jalan keesokan harinya.

Salib telah dipolitisasi sejak berdirinya Pakistan 75 tahun lalu. Banyak migran, tidak semuanya orang Kristen, memakainya untuk menyelamatkan hidup mereka selama kerusuhan.

Salik, mantan menteri federal untuk minoritas, mempopulerkan penggunaan politik salib tahun 1970-an. Sebagai seorang maverick, dia dikenal melakukan aksi aneh seperti mengikat dirinya ke salib atau burung merpati raksasa, meletakkan abu di kepalanya, dan bahkan membakar barang-barang rumah tangganya sebagai bentuk protes.

Tahun 2003, dia mengadakan demonstrasi bersama umat Kristen yang memperlihatkan salib di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Islamabad untuk menuntut diakhirinya perang di Irak.

Tren itu berlanjut dan Ruth serta partai PTI bukan satu-satunya yang bersalah.

Anggota parlemen Kristen dari saingan Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PML-N) telah melakukannya pada beberapa kesempatan seperti demonstrasi tahunan untuk menandai Hari Solidaritas Kashmir di Lahore atau protes anti-inflasi tahun lalu.

Ada empat orang Kristen yang saat ini sebagai anggota Majelis Provinsi Punjab. Di Majelis Nasional juga ada empat anggota parlemen Kristen, termasuk Ruth.

Azam Mairaj, seorang aktivis dan penulis Kristen, menyalahkan partai politik karena mempolitisasi salib.

“Ini bukan politik yang baik dan mengisyaratkan krisis identitas komunitas kita yang buruk,” katanya.

Dia merasa para politisi Kristen memamerkan salib hanya untuk melayani tujuan dan ambisi politik pribadi mereka.

“Alih-alih mendapatkan posisi berdasarkan prestasi dan kapasitas pribadi, mereka berusaha untuk mendapatkan perhatian dengan menunjukkan salib. Mereka harus lebih fokus untuk memastikan kemajuan komunitas mereka,” katanya.

Umat Kristen di Pakistan telah lama mengeluh dikesampingkan dalam politik dan masyarakat karena status agama mereka yang minoritas.

Umat Kristen merupakan bagian kecil dari populasi Muslim Pakistan yang berjumlah sekitar 220 juta. Menurut sensus negara tahun 2017, jumlahnya sekitar 1,27 persen.

Mereka masih sangat kurang terwakili dalam sistem pemerintahan tiga tingkat yang terdiri dari pemerintah pusat, provinsi, dan daerah.

Sumber: Politicizing the cross is a thorny issue in Pakistan

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi