UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Katolik tuntut keadilan atas kematian buruh migran jelang Piala Dunia

Nopember 22, 2022

Kelompok Katolik tuntut keadilan atas kematian buruh migran jelang Piala Dunia

Kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan pelecehan dan kematian para buruh migran di Qatar menjelang Piala Dunia FIFA 2022. (Foto: John Holmes untuk Human Rights Watch)

Ketika Piala Dunia dimulai di Qatar pada hari Minggu, sebuah kelompok Katolik internasional  meminta keadilan dan doa bagi ratusan buruh migran Asia yang tewas  saat negara Asia Barat itu bersiap untuk perhelatan internasional sekali dalam empat tahun tersebut.

Kelompok doa “Bread 4 Today” dari Kongregasi Redemptoris di Oceania menerbitkan video berjudul ‘Doa Piala Dunia’ di saluran YouTube-nya yang mana berbicara menentang pelanggaran hak para buruh migran, diskriminasi terhadap komunitas LGBTQ, dan emisi CO2.

Doa, yang dirilis pada 19 November, termasuk kata-kata solidaritas dari kelompok itu terhadap para buruh migran yang dilecehkan dan kini sedang dipromosikan di media sosial dengan tagar #PayUpFIFA.

“Kegelapan ditemukan dalam para buruh imigran murah yang bekerja keras membangun piramida modern ini.”

“Kami berdoa bersama Paus Fransiskus untuk kegiatan perekonomian melayani semua umat manusia, terutama yang miskin,” bunyi doa itu.

Kampanye doa itu diluncurkan beberapa hari setelah Human Rights Watch (HRW) merilis sebuah laporan yang menyoroti pelecehan yang dilakukan terhadap para buruh migran di Qatar.

“Saat Piala Dunia dibuka, para pekerja migran dan keluarga mereka, pemain, dan penggemar akan merasakan beban berat dari korban jiwa turnamen tersebut,” kata Michael Page, wakil direktur Human Rights Watch di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Pejabat itu juga menunjukkan kegagalan FIFA memberi kompensasi kepada para pekerja meskipun menghasilkan pendapatan miliaran dolar.

Dia mengatakan pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh mereka akan menjadi “pengingat para pekerja migran yang membangun dan mengirimkan permainan tetapi tidak menerima upah atau meninggal tanpa kompensasi untuk keluarga mereka.”

Laporan HRW merangkum berbagai kasus pelecehan yang dihadapi oleh pekerja migran.

Mengutip laporan investigasi Guardian tahun 2021, HRW menyatakan dari periode 2010-2020, ada lebih dari 6.751 orang tewas di Qatar dari lima negara Asia Selatan, yang tidak dikategorikan berdasarkan pekerjaan.

Pada periode 2010-2020, sekitar 69 persen buruh migran yang tewas berasal dari India, Nepal, dan Bangladesh.

Laporan tersebut menyoroti bahwa dalam banyak kasus kematian pekerja migran dikaitkan dengan “penyebab alami” seperti serangan jantung, gagal napas, dan penyakit yang tidak mungkin memahami apakah kematian tersebut disebabkan oleh kondisi kerja.

Banyak kematian seperti itu dikategorikan sebagai tidak terkait pekerjaan sehingga menghalangi banyak keluarga menerima kompensasi yang layak.

Pencurian upah juga merajalela di negara ini karena jutaan buruh datang ke negara tersebut setelah membayar biaya yang besar dan bahkan menjual aset mereka.

Dalam laporan Agustus 2020, HRW menemukan bahwa 93 butuh migran dari 60 perusahaan melaporkan beberapa bentuk pelanggaran upah dari Januari 2019 hingga Mei.

Bentuk-bentuk pelecehan yang paling umum dilaporkan oleh para pekerja termasuk lembur yang tidak dibayar, pemotongan yang sewenang-wenang, upah yang tertunda, pemotongan upah, upah yang tidak dibayar, atau upah yang tidak akurat.

Pemerintah Qatar telah meluncurkan Sistem Perlindungan Upah (WPS) untuk mengekang malpraktik semacam itu, memastikan upah melalui transfer bank langsung dan menjatuhkan sanksi kepada para pekerja atas pelanggaran.

Namun, sistem tetap lebih sebagai metode pemantauan hanya dengan celah mencolok dalam kapasitas pengawasan.

Upah minimum resmi per bulan di Qatar adalah 1.000 Qatari Rials (274,69 dolar AS). Buruh migran telah melaporkan kerja shift yang berlangsung antara 14-18 jam sehari.

Pemerintah juga meluncurkan Worker’s Support and Insurance Fund (WSIF) untuk membayar gaji pekerja yang terutang ketika perusahaan gagal membayar atau gulung tikar.

Berdasarkan data yang diberikan oleh Kementerian Tenaga Kerja Qatar, pada Juli 2022 sebanyak 36.373 pekerja dari 17 negara baik di dalam maupun di luar Qatar menerima kompensasi dengan total 597,5 juta Rial Qatar (164 juta dolar AS).

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melaporkan pada 30 September 2022, kompensasi ini meningkat menjadi lebih dari 320 juta dolar AS.

Basanta Sunuwar, seorang Nepal yang bekerja selama enam tahun di Qatar, mengatakan kepada HRW bahwa dia beruntung bisa hidup dan mereka yang kehilangan nyawa harus menerima kompensasi yang adil.

Mereka (buruh) memberikan tenaganya dan sebagai gantinya, mereka harus mendapatkan haknya,” katanya. “Apa hak mereka sekarang setelah kehilangan nyawa? Ini adalah kompensasi.
Ini adalah permintaan rendah hati saya kepada FIFA dan Qatar, sebagai penggemar sepak bola.”

Sebuah studi tahun 2019 di jurnal Cardiology mengungkapkan “sebanyak 200 dari 571 orang tewas (dari pekerja Nepal) selama 2009-2017 dapat dicegah” dengan tindakan perlindungan panas yang efektif.

Dalam laporan Oktober 2022, HRW menyatakan ada 11 kasus perlakuan buruk dalam penahanan terhadap orang-orang LBGTQ dari tahun 2019-2022.

Dikatakan pasukan Departemen Keamanan Pencegahan Qatar telah secara sewenang-wenang menangkap orang-orang LGBT dan perlakuan buruk dalam penahanan termasuk enam kasus “pemukulan berat dan berulang dan lima kasus pelecehan seksual dalam tahanan polisi dari tahun 2019-2022”.

Sebagai persyaratan pembebasan mereka, aparat keamanan mengamanatkan agar tahanan waria mengikuti sesi terapi konversi di fasilitas pemerintah. Pihak berwenang Qatar mengesampingkan keberadaan pusat “konversi gay” di negara tersebut.

Pemerhati lingkungan juga telah menyuarakan keprihatinan mereka tentang emisi karbon dan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh jejak karbon besar yang akan ditinggalkan oleh infrastruktur.

FIFA memperkirakan Piala Dunia 2022 akan menghasilkan hingga 3,6 juta ton karbon dioksida dalam laporannya.

Sumber: Catholic group seeks justice for World Cup laborers death

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi