UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Gereja prihatin dengan serangan terhadap umat Kristen di Myanmar

Nopember 23, 2022

Kelompok Gereja prihatin dengan serangan terhadap umat Kristen di Myanmar

Foto ini yang diambil pada 13 Mei 2018 di mana para pengungsi internal dan penduduk desa setempat menghadiri kebaktian di gereja di Myitkyina, Negara Bagian Kachin. (Foto: AFP)

Para pemimpin Dewan Gereja Dunia (WCC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA) menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan baru-baru ini terhadap sebuah sekolah teologi dan gereja-gereja di negara bagian Kachin dan negara bagian Kayah yang mayoritas beragama Kristen.

“Serangan terhadap gereja dan lembaga terkait belum lama ini merupakan simbol dari memburuknya situasi kemanusiaan, hak asasi manusia dan politik di Myanmar sejak kudeta militer Februari lalu,” kata Dr Loan Sauca, sekretaris jenderal WCC dan Mathews George, sekretaris jenderal CCA, dalam pernyataan bersama yang dirilis pada 18 November.

“Kehidupan yang mulai dinikmati banyak orang di Myanmar setelah diperkenalkannya reformasi demokrasi sekali lagi telah dihancurkan dan negara itu hancur.”

Mereka mengatakan bentrokan dan serangan bersenjata sekarang terjadi di banyak bagian negara itu dan sejak kudeta militer, “tingkat kemiskinan di Myanmar telah naik mendekati 50 persen dan orang-orang di seluruh negeri telah turun ke tingkat kerentanan ekstrim.”

Keduanya juga menegaskan kembali dan menggarisbawahi kekhawatiran yang sebelumnya diungkapkan tentang kekerasan yang sedang berlangsung – termasuk kekerasan berbasis seksual dan gender – dan serangan brutal oleh pasukan keamanan.

Mereka menyerukan agar junta “mengembalikan kontrol yang telah mereka rebut secara tidak sah, menahan diri dari penggunaan kekuatan yang berlebihan terhadap pengunjuk rasa, menghormati hak berkumpul secara damai dan kebebasan berekspresi, membebaskan semua orang yang telah ditangkap secara sewenang-wenang mengabaikan proses hukum, dan mereka yang tetap dalam tahanan, dan memungkinkan akses kemanusiaan tanpa syarat dan tanpa hambatan ke semua wilayah dan semua orang yang terkena dampak konflik dan kekerasan.”

Para pemimpin itu mengimbau semua anggota masyarakat internasional menunjukkan solidaritas aktif dan dukungan kemanusiaan bagi rakyat Myanmar, dan “melipatgandakan advokasi dan komitmen mereka terhadap keadilan, perdamaian dan pemulihan demokrasi di Myanmar.”

Gereja-gereja dan organisasi terkait di seluruh dunia juga didesak “meningkatkan dukungan dan kemitraan mereka dengan gereja-gereja di Myanmar untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.”

Seruan itu muncul  ketika negara Asia Tenggara itu menghadapi krisis kemanusiaan, politik dan ekonomi yang dipicu oleh perebutan kekuasaan oleh militer.

Gereja, biara, dan institusi Kristen lainnya menjadi sasaran serangan udara dan penembakan oleh militer di basis Kristen di sejumlah negara bagian – Kachin, Kayah, Chin, dan Karen.

Sebanyak 92 situs keagamaan dan tempat yang disakralkan di seluruh negeri, khususnya di negara bagian Kachin, Kayah, dan Chin yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, dihancurkan atau dirusak antara Februari 2021 dan Mei 2022, menurut sebuah laporan oleh International Commission of Jurists.

Gereja, rumah sakit, dan sekolah di negara bagian Chin masuk dalam daftar target militer, menurut dokumen yang bocor yang dirilis oleh kelompok bersenjata etnis Chin dan laporan media lokal.

Mengabaikan seruan para pemimpin agama dunia untuk mengakhiri kekerasan, junta telah meningkatkan terornya dengan menyerbu banyak desa dan membakar rumah, menghancurkan harta benda dan membunuh warga sipil tak berdosa.

Sumber: Church  groups raise alarm over attacks on Myanmar Christians

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi