UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sengketa liturgi Gereja India semakin dalam

Nopember 23, 2022

Sengketa liturgi  Gereja India semakin dalam

Orang awam di Keuskupan Agung Ernakulam-Angamly di negara bagian Kerala, India selatan, telah berjanji tidak mengizinkan Uskup Agung Andrews Thazhath, administrator apostolik masuk ke rumah uskup agung itu, pada 6 Oktober. (Foto disediakan)

Sebuah keuskupan agung Katolik di negara bagian Kerala, India selatan, mungkin akan memutuskan semua hubungan dengan Vatikan karena perselisihan liturgi selama puluhan tahun.

Para imam dan umat awam di Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly dari Gereja Siro-Malabar Ritus Timur telah memboikot Uskup Agung Andrews Thazhath, administrator yang ditunjuk Vatikan. Mereka juga melakukan blokade di rumah uskup agung hingga permintaan mereka untuk status liturgi Misa tradisional mereka, di mana imam menghadap umat, disetujui.

Provokasi terbaru terjadi setelah administrator mengeluarkan perintah kepada pastor paroki di Basilika Katedral St Maria di Ernakulam untuk memfasilitasinya pada perayaan Ekaristi pada 27 November, yang akan diadakan dalam format yang disetujui sinode, yang mengharuskan imam menghadap altar membelakangi umat dari doa Syukur Agung hingga Komuni.

Uskup Agung Thazhath selanjutnya meminta rektor Seminari Menengah Hati Kudus di keuskupan agung itu untuk mulai mempersembahkan Misa yang disetujui sinode alih-alih yang tradisional.

Sekitar 100 anggota dari berbagai paroki di keuskupan agung itu meminta pastor paroki dan rektor itu mengabaikan komunikasi dengan Uskup Agung Thazhath.

Kedua imam tersebut kabarnya menerima permintaan umat awam dan berjanji memberikan dukungan penuh untuk perjuangan mereka. Umat awam kemudian mengumumkan bahwa administrator Vatikan tidak akan diizinkan masuk ke lembaga Gereja mana pun sampai ia mencabut perintah itu.

“Ketika lebih dari 99 persen imam dan umat mendukung Misa tradisional, mengapa itu tidak diterima?” tanya seorang imam yang tidak ingin disebutkan namanya pada 22 November.

Imam itu juga mengisyaratkan jika administrator itu berupaya mengambil jalannya atau memulai tindakan terhadap pastor paroki dan rektor, itu dapat menyebabkan keuskupan agung “berjalan dengan caranya sendiri.”

Perselisihan selama hampir lima dekade tentang cara Misa dirayakan sebagian besar berpusat di markas besar Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly di Kerala. Cara itu dihidupkan kembali setelah sinode para uskup Gereja Siro-Malabar mengeluarkan seruan pada Agustus tahun lalu bahwa semua 35 keuskupannya harus merayakan Misa dengan cara yang seragam.

Ada penolakan awal di keuskupan lain, tetapi mereka mulai mengikuti Misa yang disetujui sinode November lalu.

Perlawanan berlanjut dan memburuk di Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly, yang merupakan keuskupan Katolik terbesar kedua di India dan juga pusat kekuasaan Kardinal George Alencherry.

Keuskupan agung, yang menampung sekitar 10 persen dari hampir 5 juta umat Katolik di Gereja Siro-Malabar, menuntut Vatikan menerima Misa tradisional mereka sebagai varian liturgi tetapi administrator menolak untuk menyetujuinya.

“Kami tidak akan menghentikan pertempuran kami sampai permintaan kami dipenuhi,” kata Pastor Sebastian Thaliyan, ketua Komite Perlindungan Keuskupan Agung, yang mengklaim dukungan dari sekitar 500.000 umat dan 460 imam di keuskupan agung tersebut.

Para imam dan kaum awam menuduh Uskup Agung Thazhath memainkan “politik kotor” dan “menyesatkan Vatikan”.

Banyak umat Katolik prihatin karena Uskup Agung Thazhath, selain menjadi uskup agung Trichur yang bertetangga, juga ketua baru dari Konferensi Waligereja India (CBCI), dan ingin Vatikan segera turun tangan dan menyelesaikan perselisihan tersebut.

“Bila gerakan protes dibiarkan berlarut-larut, ada kemungkinan Keuskupan Agung mendeklarasikan diri sebagai Gereja yang mandiri,” ujar seorang tokoh Katolik yang tidak mau disebutkan namanya.

Sumber: Indian churchs bitter liturgical dispute deepens

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2022. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi