UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

‘Dosa kelalaian’ Gereja Asia terhadap pornografi anak

Pebruari 6, 2023

‘Dosa kelalaian’ Gereja Asia terhadap  pornografi anak

Gambar yang diambil pada 21 Maret 2013 ini menunjukkan sekelompok orang sedang duduk menggunakan ponsel pintar mereka di sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok. Sebuah studi yang disponsori oleh Facebook baru-baru ini menunjukkan bahwa pemilik ponsel pintar sering terhubung sepanjang hari. (Foto: Nicolas ASFOURI/AFP)

Para remaja di Asia terkenal menghasilkan terabyte konten seksual setiap hari yang membuat gelombang besar di semua platform media sosial dengan konsumen, tidak semuanya muda, yang berlokasi di luar negeri. Itu menambah konten pornografi anak yang sudah banyak tersedia di web gelap yang bisa diakses dengan mudah di ujung jari orang.

Tidak mengherankan, sifat alami dari video tersebut telah melampaui upaya untuk menghilangkannya, memaksa korban pornografi anak untuk hidup dengannya selamanya.

Di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, perdagangan video porno dan seksual yang melibatkan anak-anak mencapai 114,26 miliar rupiah (7,3 juta dolar AS) tahun 2022.

Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Indonesia, yang melacak pencucian uang, mengatakan sebagian besar konsumen adalah orang-orang yang berbasis di luar negeri. Karena tidak dapat mengunjungi negara-negara di Asia di mana prostitusi anak tumbuh subur, para maniak pornografi ini memilih apa yang dikenal sebagai “sextortion” (eksploitasi seksual) untuk memikat seorang anak agar mengirimkan selfie yang membahayakan, menurut para ahli.

Begitu anak itu mulai keberatan, pelaku mengancam akan memposting selfie-nya di media sosial atau ke kontak orang-orang dekatnya, yang biasanya termasuk para anggota keluarga.

Dalam sebuah laporan, Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan mengatakan lokasi para konsumen di luar negeri tidak mencegah mereka untuk memiliki konten cabul karena aplikasi fintech seperti Gopay, Ovo, dan Dana membantu mereka membayar tagihan secara online.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia meluncurkan serangkaian tindakan tahun ini untuk mengekang permintaan pornografi anak yang tak ada habisnya dari Indonesia. Ai Maryati Solihah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), telah meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengambil langkah-langkah memblokir akun digital yang membantu transaksi pornografi anak.

Di negara tetangganya Malaysia, terungkap pada September 2022 bahwa lebih dari 100.000 alamat protokol internet (IP) yang terdaftar di Malaysia terlibat dalam pornografi anak.

Tren tersebut berkembang, menurut sebuah studi oleh National Population and Family Development Board karena kontrol orang tua terhadap penggunaan internet anak-anak mereka semakin berkurang dari hari ke hari.

Seorang guru sekolah dasar di Singapura, Loh Wei Qi, dipenjara pada 9 Desember setelah ia ditemukan memiliki 7.786 film cabul, termasuk lebih dari 100 video pornografi anak.

Qi adalah pengguna besar aplikasi seluler Kanada – Kik – sebuah platform chat Kanada, yang memberinya dosis harian “CP”, singkatan dari Child Porn (pornografi anak). Dia dijemput oleh polisi Singapura setelah mendapat informasi dari Kanada.

Para pakar pelecehan seksual anak mengatakan ketika seseorang tersebur ke dalam pornografi anak, maka ia akan terus-menerus mengunduh gambar, menyimpannya, dan memposting ulang sesuka hati dan mereka tidak akan berhenti kecuali ditangkap oleh penegak hukum. Qi, selama pemeriksaan, mengaku telah melihat film porno yang melibatkan remaja perempuan sejak 2017.

Negara-negara Asia lainnya juga pantas disalahkan. Tahun 2019, Bangladesh menduduki peringkat kelima di dunia karena memaksa anak-anak bekerja untuk konten pornografi, menurut National Center for Missing and Exploited Children yang berbasis di AS.

India memimpin indeks dengan lebih dari 1,9 juta kasus pornografi anak tahun 2019, sementara tetangganya Pakistan berada di urutan kedua dan Irak serta Aljazair ketiga dan keempat.

Para penyelidik sepakat bahwa lonjakan laporan pornografi anak oleh perusahaan dengan platform Internet terbuka seperti Facebook menunjukkan peningkatan besar dalam volume materi pelecehan seksual anak di internet, yang dikaitkan dengan kemajuan teknologi.

Sekarang lebih mudah dan lebih murah untuk menyimpan pornografi anak dalam jumlah besar di hard drive dan server jarak jauh.

Para penyidik sering menemukan pornografi anak dengan “file berukuran terabyte“. Satu terabyte dapat menampung ratusan jam video dan dapat disimpan hanya dengan 25 dolar AS per bulan di server jarak jauh. Itu dapat disimpan di hard drive eksternal yang saat ini harganya kurang dari 100 dolar AS.

Ketika volume materi pelecehan seksual anak di internet melonjak, demikian pula jumlah lembaga yang bekerja untuk mengekangnya.

Pejabat Keamanan Dalam Negeri dari AS mengatakan sebagian besar siaran langsung, yang dilakukan untuk penonton AS dan Eropa Barat, juga live di Filipina karena Bahasa Inggris umum digunakan di negara Asia yang mayoritas beragama Katolik itu.

Kadang-kadang, keluarga di Asia mendorong anak-anak ke bisnis seksual anak di bawah umur yang menguntungkan karena kondisi ekonomi yang sulit.

Orang tua ini sering mengutip status influencer remaja kelahiran Florida Jenny Popach dan ibunya, yang sensasional, yang sering muncul dalam video putri remajanya yang tidak pantas dengan pakaian yang tidak pantas.

Bintang sosial berusia 16 tahun ini saat ini memiliki lebih dari 7 juta penggemar di media sosial dan menghasilkan banyak uang dari status influencernya dan video di aplikasi berbagi video pendek. Industri menyebut postingannya sebagai “konten bernilai kejutan”.

Nama aslinya adalah Roselie Arritola dan dia menjadi terkenal sejak tahun 2020 pada usia 14 tahun. Belum jelas mengapa dia memilih untuk mengganti namanya.

Berbagai penelitian telah menyatakan para remaja Asia menghabiskan lebih dari 10 jam sehari di perangkat elektronik. Dari jumlah tersebut, setidaknya empat jam sehari disisihkan untuk situs media sosial, yang memudahkan pemangsa untuk mengidentifikasi calon korban dengan sedikit usaha, dengan menghindari risiko tertangkap.

Para korban dipersiapkan secara online melalui platform chat dan game. Paling sering, predator jarak jauh menggunakan teknik “catfishing“, menyamar sebagai remaja untuk mendapatkan kepercayaan dari calon korban. Namun, raksasa teknologi yang menjalankan situs media sosial populer menunjukkan sedikit minat dalam menangani pornografi anak.

Partisipasi dalam aktivitas seksual oleh siapa pun yang berusia di bawah 18 tahun merupakan sebuah kejahatan di banyak negara. Aksi itu juga merupakan sebuah pelanggaran hukum dunia maya internasional untuk menggambarkan anak di bawah umur dengan pakaian minim, sinkronisasi bibir, lirik lagu yang eksplisit secara seksual, atau melakukan gerakan tarian seperti twerking, menggoyangkan payudara, dan mendorong panggul.

Para remaja Asia menjadi “influencer” dengan harapan pada akhirnya akan terbayar dengan imbalan uang.

Usia bukanlah halangan untuk pasar influencer global, yang diproyeksikan mencapai 84,89 miliar dolar AS tahun 2028, setelah menyentuh 13,8 miliar dolar AS tahun 2021.

Gereja di Asia belum mengalihkan perhatiannya pada ancaman sosial yang berkembang ini. Sudah saatnya Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia membentuk komisi terpisah untuk misi digital dengan tujuan membantu orang muda dan orang dewasa di Asia untuk membuat dan menggunakan konten digital dengan iman, harapan, dan cinta kasih Kristiani.

Mendesak orang untuk menjalani kehidupan yang baik dan mengutuk dosa tidaklah cukup. Kelambanan hierarki Gereja dalam memerangi pornografi, khususnya pornografi anak, adalah dosa besar karena mengabaikan perintah: jangan membunuh.

Setiap kejadian pornografi anak membunuh pikiran dan tubuh anak berkali-kali.  Jika Gereja, yang mencakup setiap orang Katolik yang dibaptis, membiarakannya, masing-masing dari mereka harus dianggap membantu pembunuhan, dan hierarki harus lebih disalahkan karena kepemimpinannya yang diam.

*Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan posisi redaksi resmi UCA News.

Sumber: Asian churchs sin of omission on child porn

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi