UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus buka jalan bagi lebih banyak perempuan di Vatikan dan dalam Gereja

Maret 10, 2023

Paus buka jalan bagi lebih banyak perempuan di Vatikan dan dalam Gereja

Paus Fransiskus menyapa para wanita 'Donne Chiesa Mondo'. (Foto: Berita Vatikan)

Di akhir audiensi umumnya di Lapangan Santo Petrus pada 8 Maret, Hari Perempuan Internasional, Paus Fransiskus memimpin tepuk tangan untuk kaum perempuan.

Dia berterima kasih kepada kaum perempuan di seluruh dunia “atas komitmen mereka untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi” melalui kemampuan mereka untuk melihat dan memahami dunia “dengan tatapan kreatif dan hati yang lembut”.

“Adalah tepat bagi mereka untuk dapat mengekspresikan keterampilan ini di setiap bidang, tidak hanya di dalam keluarga,” tulisnya dalam kata pengantar sebuah buku, “More Women’s Leadership for a Better World: Caring as the Engine for Our Common Home.”

Dalam kata pengantar yang diterbitkan oleh Vatican News pada Hari Perempuan Internasional itu, paus menulis “Gereja juga dapat mengambil manfaat dari penghargaan terhadap kaum perempuan” dengan membiarkan mereka melakukan lebih dari sekadar melakukan fungsi atau pekerjaan tertentu dan benar-benar mengubah budaya menjadi lebih peduli.

Selama 10 tahun, Paus Fransiskus telah berusaha melibatkan lebih banyak perempuan dalam pekerjaan dan tata kelola komisi Vatikan dan kantor Kuria Roma.

Menurut statistik terbaru, perempuan telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam jumlah dan persentase dalam dekade terakhir, dan jumlah mereka di posisi kepemimpinan Vatikan juga bertambah.

Saat ini ada 1.165 perempuan yang bekerja di Vatikan dibandingkan dengan 846 tahun 2013, yang merupakan 23,4% dari total tenaga kerja, menurut Vatican News, 8 Maret.

Peran mereka di Kuria Roma, sekarang satu berbanding empat karyawan. Di dalam Kuria, lima perempuan sebagai wakil sekretaris, dan satu sebagai sekretaris: Suster Salesian Alessandra Smerilli, yang diangkat oleh paus untuk menduduki posisi nomor 2 di Dikasteri Mempromosikan Pembangunan Manusia Seutuhnya tahun 2021. Jabatan yang pernah dipegang oleh seorang perempuan di Takhta Suci.

Paus mengatakan dia akan menunjuk prefek perempuan pertama karena memungkinkan bagi orang awam. Untuk itu, perempuan bisa memimpin dikasteri, menurut “Praedicate Evangelium,” konstitusi paus yang mereformasi Kuria.

Paus Fransiskus juga, untuk pertama kalinya, mengangkat perempuan sebagai anggota penuh dikasteri Vatikan karena sebelumnya peran itu diberikan kepada para kardinal dan beberapa uskup. Anggota perempuan berperan penting dan memberikan suara bersama dengan prefek dan sekretaris di rapat pleno.

Jadi, sementara paus telah membawa lebih banyak perempuan ke “meja” di Roma, dia juga telah membuka cara baru agar suara perempuan didengarkan.

Sinode para Uskup tentang Sinodalitas telah mengilhami beberapa kelompok untuk membuat survei khusus kepada kaum perempuan dan mengumpulkan temuan mereka dan akan dikirim ke sinode. Proses sinodal bertujuan menjadi latihan berkelanjutan bagi seluruh Gereja untuk belajar bersatu, mendengarkan lebih saksama dan memahami apa yang dikatakan Roh Kudus.

The World Women’s Observatory’s of the World Union of Catholic Women’s Organizations (WUCWO) membuat survei tersebut, yang dibuka hingga 15 Maret, bagi perempuan yang memegang posisi kepemimpinan selama fase proses sinode untuk merefleksikan keprihatinan tentang peran perempuan dalam Gereja.

Selain itu, para peneliti dari Universitas  Newcastle Australia menghasilkan jaringan International Survey of Catholic Women for the Catholic Women Speak sebagai cara untuk menyumbangkan suara mereka ke sinode. Survei itu menerima lebih dari 17.000 responden dari 104 negara dan rekomendasi dikirim ke sinode pada September.

Laporan lengkapnya dipresentasikan di Vatikan pada 8 Maret oleh Tracy McEwan, seorang teolog dan sosiolog yang berafiliasi dengan Universitas Newcastle dan anggota tim peneliti.

Presentasi yang disponsori oleh Chiara Porro, Duta Besar Australia untuk Takhta Suci, serta María Lía Zervino, seorang sosiolog dan ketua WUCWO, yang memberikan temuan awal dari survei mereka terhadap lebih dari 400 perempuan yang berperan sebagai pemimpin selama proses sinode.

Zervino mengatakan 26% responden mengatakan mereka tidak mengalami hambatan selama proses sinode, sementara 43% responden mengatakan “hambatan utama” mereka adalah pelayan tertahbis dan 18% mengatakan anggota masyarakat lainnya adalah hambatan.

Persentase yang lebih kecil merasa kurangnya pengalaman atau kesulitan berbicara di depan audiensi resmi dari hierarki Gereja adalah kendala utama mereka.

Sekitar 69% responden merasa “terlibat secara efektif dalam pengambilan keputusan” selama proses sinode sementara 20% mengatakan tidak. Ditanya apakah pendapat mereka didengarkan: 21% menjawab “selalu”, 41% menjawab “ya”, 12% menjawab “beberapa kali”, sedangkan 23% menjawab “jarang” atau “tidak”.

Kedua survei tersebut memiliki temuan yang tumpang tindih, salah satu yang terpenting adalah pandangan perempuan bukanlah “monolit” dan keragaman pengalaman, tantangan, dan harapan mereka yang dapat memperkaya semua orang.

Beberapa benang merah terkait dengan temuan dan rekomendasi dalam kedua survei tersebut: kaum perempuan yang disurvei sangat antusias dan teridentifikasi secara mendalam dengan keyakinan mereka; mereka menginginkan lebih banyak inklusi, terutama mereka yang terpinggirkan; ada kebutuhan untuk pembinaan yang lebih besar bagi setiap orang, termasuk anggota pria dan pemimpin Gereja.

Kedua survei menemukan keinginan untuk pelayanan tertahbis bagi wanita lebih dominan di Amerika Utara dan beberapa negara Eropa.

Perempuan yang mereka survei “sangat prihatin” tentang transparansi dan akuntabilitas dalam kepemimpinan dan tata kelola Gereja, kata McEwan.

McEwan mengatakan dia menyerahkan laporan mereka kepada Paus Fransiskus di akhir audiensi umum, di mana dia bertemu dengan mereka serta beberapa dari 29 duta besar perempuan untuk Takhta Suci.

Zervino, yang juga salah satu dari tiga anggota perempuan ditunjuk paus untuk Dikasteri Uskup, mengatakan dia berharap semua “perkataan” yang terkandung dalam temuan ini berdampak.

Paus mengatakan, “Gereja tidak bisa dan tidak boleh hanya dengan kata-kata,” katanya, seraya menambahkan dia yakin waktunya untuk tindakan nyata.

“Saya yakin proses sinodal ini akan menghasilkan banyak hasil nyata yang akan sedikit mengubah cara kerja Gereja, mungkin dalam struktur, mungkin dalam kehidupan sehari-hari,” dalam menjangkau orang lain dan agama lain — semua bidang di mana perempuan sebenarnya sudah aktif, katanya.

Paus telah membuka jalan baru yang “fantastis”, katanya, jadi “mari kita maju” dan terus maju karena “kita dapat melakukan hal-hal yang nyata karena kita perempuan adalah nyata.”

Sumber: Pope opens path for more women at Vatican in church

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi