UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Jepang dorong aborsi meskipun protes dari kelompok pro-kehidupan

April 28, 2023

Jepang dorong aborsi meskipun protes dari kelompok pro-kehidupan

Anak-anak terlihat di sebuah sekolah di Jepang dalam foto tak bertanggal ini. Jepang telah berjuang demi penurunan demografis. (Foto: AFP)

Pemerintah Jepang berencana memperkenalkan pil aborsi yang dijual bebas di negara itu, mengabaikan protes dari kelompok pro-kehidupan di tengah penurunan demografis akibat    tingkat kelahiran yang rendah.

Panel Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang telah menyetujui penggunaan pil yang memungkinkan wanita hamil untuk mengakhiri kehamilannya secara kimia hingga minggu kesembilan kehamilan, lapor Catholic News Agency pada 25 April.

Menteri Kesehatan negara itu diharapkan menyetujui penggunaan pil yang akan memungkinkan jutaan perempuan memiliki akses ke opsi aborsi yang diinduksi secara kimia yang sampai sekarang tidak tersedia.

Ligaya Acosta, direktur   Human Life International  di Asia dan Oseania mengecam langkah pemerintah negara tersebut.

“[Persetujuan panel atas pil aborsi] ini membuat kami sangat sedih,” kata Acosta.

Jepang mencatat kurang dari 800.000 kelahiran tahun lalu, terendah di negara berpenduduk 125 juta sejak pencatatan dimulai.

Langkah untuk menyetujui pil aborsi telah memicu kekhawatiran di antara kelompok pro-kehidupan dan masyarakat sipil.

Kazuo Sasaki, seorang aktivis pro-kehidupan berusia 73 tahun, dan ratusan lainnya telah mengadakan protes di depan kantor kementerian kesehatan menentang langkah tersebut.

Sasaki telah memimpin aksi unjuk rasa setiap hari dan bahkan melakukan mogok makan untuk memprotes proposal kontroversial tersebut.

Acosta mengatakan keluarga dan kehidupan “sangat penting bagi orang Jepang”, tetapi banyak yang tetap diam terkait masalah aborsi.

Orang Jepang “adalah orang yang sangat berkomitmen untuk mempromosikan dan membela kehidupan dan keluarga,” kata Acosta, seraya menambahkan “orang Jepang adalah orang yang sangat mendukung kehidupan, tetapi kebanyakan diam.”

Dilaporkan, ratusan aktivis pro-kehidupan mengadakan March for Life tahunan di Tokyo.

Acosta mengatakan penyelenggara reli berharap jumlah peserta meningkat tahun ini.

Menurut Acosta, banyak wanita melakukan aborsi tanpa pengetahuan yang memadai tentang efek samping seperti sindrom stres pasca-aborsi.

Sindrom pasca-aborsi adalah sebuah gejala yang diyakini sebagian orang berkembang karena penghentian kehamilan, lapor Medical News Today.

Mereka yang percaya bahwa aborsi berbahaya dapat memiliki gangguan kesehatan mental tertentu, seperti depresi, dengan gejala yang meliputi rasa bersalah, malu, dan membenci diri sendiri.

Pil yang merupakan kombinasi dari dua obat — mifepristone dan misoprostol — telah dikembangkan oleh Linepharma, sebuah perusahaan farmasi Inggris, dan secara luas dianggap sebagai obat paling umum untuk menginduksi aborsi kimia.

Mifepristone pertama kali tersedia di Eropa lebih dari 30 tahun lalu.

Di Jepang, aborsi diperbolehkan hingga usia kehamilan 21 minggu dan enam hari, tetapi hanya jika seorang wanita dapat membuktikan bahwa ada risiko terhadap kesehatannya atau kemungkinan mengalami kesulitan keuangan jika dia melahirkan anak tersebut.

Seorang wanita yang sudah menikah dapat memperoleh akses ke aborsi hanya jika dia mendapat persetujuan dari suaminya.

Acosta mengatakan pemerintah Jepang telah mempromosikan aborsi selama krisis ekonomi Perang Dunia II dan mendesak perubahan pendekatan negara itu terhadap aborsi.

Jepang sekarang adalah “negara yang sangat kaya” dan harus “mulai memikirkan kembali posisi mereka” dalam aborsi, kata Acosta.

Sumber: Japan pushes abortion pill despite pro life protests

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi