UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok lintas agama di Bangladesh terganggu dengan pemenjaraan pria Hindu

Mei 25, 2023

Kelompok lintas agama di Bangladesh terganggu dengan  pemenjaraan pria Hindu

Para aktivis sosial yang memakai masker memegang poster dalam protes di Dhaka menentang kekerasan agama terhadap komunitas Hindu di Bangladesh, pada 4 November 2021. (Foto: AFP)

Sebuah kelompok lintas agama dan aktivis mengecam pengadilan Bangladesh yang “tidak adil” dengan memenjarakan seorang pria Hindu karena ia diduga menghina Islam melalui postingan media sosial yang memicu serangan di desanya tahun 2017.

Pengadilan dunia maya di Distrik Rangpur, sekitar 300 kilometer dari Dhaka, ibukota negara itu menghukum Titu Roy selama 10 tahun penjara dan denda 50.000 taka (466 dolar AS) pada 23 Mei, dalam kasus yang dilakukan di bawah Undang-Undang (UU) Informasi dan Teknologi Komunikasi (TIK), kata Ruhul Amin, jaksa penuntut umum di pengadilan.

UU TIK diganti dengan UU Keamanan Digital yang kontroversial tahun 2018, yang ketentuannya untuk mencegah penistaan agama dikritik oleh Laporan Kebebasan Beragama Internasional AS yang dirilis awal bulan ini.

Dalam postingan tersebut, Roy dikabarkan telah menghina Ka’bah, tempat suci umat Muslim di Mekkah, dan Nabi Muhammad. Pengadilan dunia maya menjatuhkan hukuman setelah mendengarkan 17 saksi, kata Amin, seraya menambahkan dua kasus lain yang diajukan atas penyerangan di desa Hindu di Thakurpara, Rangpur, pada November 2017 masih tertunda.

Namun, kelompok lintas agama percaya bahwa tuduhan terhadap Roy kemungkinan besar salah.

“Roy adalah seorang buta huruf yang tidak mungkin memiliki akun Facebook atau mengetik postingannya,” kata Rana Dasgupta, sekretaris jenderal Dewan Persatuan Kristen Hindu Buddha Bangladesh.

Setelah dugaan postingan Roy menjadi viral, sekitar 20.000 warga Muslim menyerang Thakurpara. Seruan terakhir untuk menyerang desa dilakukan setelah sholat Jumat.

Rana mengatakan para penyerang membakar setidaknya 30 rumah, menjarah desa yang sebagian besar terdiri dari petani Hindu dan menghancurkan kuil. Rumah Roy juga dibakar.

Polisi menangkap Roy di Fatulla, di Narayanganj, sekitar 30 km dari Dhaka, dan hampir 500 orang disebutkan dalam daftar dakwaan.

“Kami heran. Korban dihukum sementara ribuan penyerang yang terlibat dalam pembakaran dan penjarahan di seluruh lingkungan Hindu masih belum dihukum,” kata Monindra Kumar Nath, sekretaris bersama Dewan Persatuan Kristen Hindu Budha Bangladesh.

Para aktivis HAM mengatakan hukuman Roy sebagai “taktik murahan” yang digunakan oleh Liga Awami yang berkuasa untuk menyenangkan mayoritas penduduk Muslim di negara itu menjelang pemungutan suara pada Januari 2024.

“Hukuman itu mengingatkan penyalahgunaan UU Keamanan Digital dan juga melanjutkan represi terhadap minoritas,” kata Kajal Bandyopadhyay, seorang aktivis HAM.

“Rasa supremasi Islam terlihat jelas dalam semua tindakan para pemimpin negara dan mayoritas penduduk Muslim,” katanya.

“Terdakwa dalam dua kasus lainnya dengan jaminan,” kata Amin, jaksa penuntut umum, seraya menambahkan dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengakhiri persidangan ini.

Laporan surat kabar mengatakan kasus-kasus ini, yang diajukan setelah serangan pembakaran di desa Hindu, memasukkan banyak nama fiktif. Jadi, polisi tidak dalam posisi membidik para pelaku.

Polisi juga menetapkan sebagai tersangka aktivis Partai Nasionalis Bangladesh dan Jamaat-e-Islami – dua penentang utama pemerintah Liga Awami.

Sumber: Hindu mans jailing irks Bangladeshi interfaith group

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi