UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kunjungan paus menandai kelahiran kembali Gereja Katolik di Mongolia

Juli 28, 2023

Kunjungan paus menandai kelahiran kembali Gereja Katolik di Mongolia

Uskup Wenceslao Padilla (1949 – 2018), uskup pertama dan salah satu misionaris pertama yang melayani di Mongolia setelah kembalinya demokrasi tahun 1990-an terlihat bersama anak-anak Mongolia. (Foto: Caritas Mongolia)

Kunjungan Paus Fransiskus ke Mongolia mendatang mengakui kontribusi para misionaris yang bekerja untuk melahirkan kembali Gereja Katolik tiga dekade lalu, kata seorang imam misionaris.

Kunjungan paus pertama ke negara Asia Tengah itu yang mulai 31 Agustus-4 September terjadi 31 tahun setelah tiga imam dari Kongregasi  Hati Maria Tak Bernoda (CICM) tiba di Mongolia untuk melanjutkan misi tahun 1992.

Misi dimulai setelah negara itu kembali ke era demokrasi dan memulihkan hubungan diplomatik dengan Vatikan pada 4 April 1992.

Tiga imam CICM – Pastor Wenceslao Padilla, Pastor Robert Goessens, dan Pastor Gilbert Sales – tiba dua tahun setelah jatuhnya komunis, yang memerintah negara itu dari tahun 1924 dan melarang semua agama.

Pastor Sales berbicara kepada Fides, mengenang pengalaman misionaris mereka, dan memberikan penghormatan kepada Padilla, yang menjadi uskup pertama Ulaanbaatar.

Uskup Padilla, seorang Filipina, melayani di Mongolia hingga wafatnya tahun 2018 dan dipuji atas perannya dalam membantu pertumbuhan Gereja lokal. Saat ini, Gereja memiliki sekitar 1.500 umat Katolik di delapan paroki yang dilayani oleh sekitar 77 misionaris.

Uskup Padilla memberikan segalanya, memberikan dirinya tanpa pamrih untuk misi penginjilan di Mongolia, selalu menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan melakukan yang terbaik untuk memulai karya pastoral dan sosial yang baru,” kata Pastor Sales pada 15 Juli.

Sementara Pastor Goessens dan Pastor Sales pergi setelah beberapa tahun, Uskup Padilla melanjutkan. Pastor Goessens kembali ke Jepang dan Pastor Sales, orang Filipina seperti Uskup Padilla, menjadi rektor Universitas Saint Louis di Kota Baguio di Filipina.

Ketika Padilla tiba di Mongolia tahun 1992 dengan dua konfrater, tidak ada umat Katolik pribumi di negeri itu kecuali beberapa staf di kedutaan asing di ibu kota Ulaanbaatar.

Para misionaris memulai pertemuan doa di rumah-rumah pribadi dan merayakan Misa hari Minggu di rumah para misionaris. Seiring bertambahnya jumlah peserta, mereka menyewa kamar untuk Misa Hari Minggu. Gereja permanen dibangun bertahun-tahun kemudian.

Tahun 1996, ada 150 umat Katolik di Mongolia yang menghadiri peresmian gereja Katolik pertama di negara tersebut.

Terlepas dari sejumlah tantangan termasuk kemiskinan dan cuaca kontinental yang keras, para misionaris melakukan upaya terbaik mereka untuk memperkuat kehadiran Gereja dan penginjilan di antara komunitas nomaden Mongolia.

Mereka memastikan “kawanan kecil” itu kuat iman mereka, dekat dengan orang miskin, berkomitmen pada pendidikan dan berdialog dengan budaya dan agama lain, kata Pastor Sales.

Sejak awal, umat Katolik telah menjaga sikap hormat terhadap budaya lokal, menjalin hubungan baik dengan agama lain sambil memberikan pelayanan dan dukungan sosial kepada banyak orang yang kurang beruntung, miskin dan terpinggirkan.

Uskup Padila mengundang ordo-ordo religius asing dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin untuk melayani Mongolia, yang berpenduduk lebih dari tiga juta jiwa.

Kelompok misionaris telah meluncurkan sekolah teknik, panti asuhan, panti jompo, klinik, tempat penampungan kekerasan dalam rumah tangga dan taman kanak-kanak.

Layanan sebagian besar terkonsentrasi di daerah pinggiran kota di mana layanan dasar kurang, dan pusat-pusat ini menawarkan dukungan penting bagi orang-orang dan anak-anak dari keluarga miskin.

Dengan kehadiran kelompok misionaris yang beragam, dia berusaha untuk “memberi Gereja lokal wajah beragam dengan kekayaan berbagai karismanya,” kata Pastor Sales.

Tahun 2002, Padilla diangkat menjadi Prefek Apostolik Ulaanbaatar pertama yang mencakup seluruh negeri itu. Tahbisan uskupnya diadakan pada 3 Agustus 2003.

Dia memprioritaskan dialog antaragama, dan itu membuatnya menjadi pemimpin agama yang populer.

“Prioritasnya adalah menjaga hubungan baik dengan semua orang tanpa diskriminasi dan bersaksi tentang kasih Kristus kepada umat Buddha, umat Kristiani lainnya, Muslim dan semua orang di Mongolia,” katanya saat upacara pentahbisan.

Uskup Padilla memenangkan hati rakyat Mongolia dan sangat populer di kalangan Kristen Ortodoks Rusia, Buddha,  dan anggota denominasi non-Katolik, kata Pastor Sales.

Beliau juga menekankan pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

“Kami mendukung siswa dan mahasiswa agar mereka bisa pergi ke luar negeri dan lulus dari universitas asing, tetapi saya berharap anak-anak muda kita bisa mendapatkan pendidikan yang baik di sini, di negara mereka sendiri”, ujarnya.

Dia juga mendorong kaum muda Katolik Mongolia untuk memasuki pembinaan imamat.

Dorongan itu membuahkan hasil pertama pada 28 Agustus 2016, ketika Uskup Padilla menahbiskan Pastor Joseph Enkh Baatar, 29, imam pribumi pertama di Katedral Santo Petrus dan Paulus di Ulaanbaatar.

“Kami membutuhkan lebih banyak imam Mongolia karena mereka akan tahu bagaimana menerapkan ajaran Kristus dan Gereja dengan lebih baik di negara kami,” kata imam baru itu setelah pentahbisan.

“Hanya dengan begitu orang Mongolia akan mengerti bahwa Katolik bukan hanya agama asing tetapi sesuatu yang dekat dengan tradisi, budaya, dan cara hidup mereka,” tambahnya.

Uskup Padilla mendirikan berbagai organisasi pastoral, sosial, pendidikan, amal dan kemanusiaan yang dikelola Gereja selama bertahun-tahun, termasuk dua rumah untuk anak jalanan, sebuah panti jompo, dua taman kanak-kanak Montessori, dua sekolah dasar, sebuah pusat anak-anak cacat, sebuah sekolah teknik, lapor Fides.

Tiga perpustakaan dengan ruang belajar dan komputer didirikan, asrama untuk mahasiswa dengan fasilitas modern dan berbagai pusat kegiatan untuk kaum muda.

Prelatus itu memimpin dalam mendirikan dua pertanian pedesaan untuk mendukung masyarakat pedesaan, sebuah pusat kesehatan, dan sebuah klinik.

Pada masanya, Caritas Mongolia, cabang pelayanan sosial Gereja, didirikan dan menjalankan program penyediaan air bersih, membangun rumah bagi yang membutuhkan, pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, pemberdayaan sosial dan memerangi perdagangan manusia.

Para misionaris masa awal juga menemukan cara untuk memasukkan budaya dan tradisi Mongolia ke dalam kehidupan menggereja.

Misalnya, Uskup Padilla mengintegrasikan festival Tsagaan Sar (Bulan Putih), Tahun Baru Imlek Mongolia pada Februari. Ekaristi khusus dirayakan pada awal Tahun Baru untuk menyerahkan hidup semua orang kepada Tuhan dan berdoa untuk bangsa.

Namun tahun 2017, perayaan Tahun Baru bertepatan dengan dimulainya Prapaskah dan Rabu Abu. Untuk alasan ini, Uskup Padilla menunda pengenaan abu hingga Minggu pertama Prapaskah dan memberikan “pembebasan luar biasa dari puasa dan pantang Prapaskah” karena keluarga Mongolia secara tradisional mengonsumsi daging dalam jumlah besar selama hari-hari raya tersebut, lapor Fides.

Uskup Padilla sering berbicara tentang “kelahiran kembali” setiap kali dia menceritakan sejarah Gereja di Mongolia.

“Ketika kami bertiga tiba di sini  tahun 1992, kami tidak pernah berpikir untuk ‘merintis Gereja’ dari awal, tetapi kami percaya untuk membawa kembali pewartaan Kristus ke tanah ini, yakin  Tuhan selalu dekat dengan orang-orang Mongolia, yang menyambut Injil kembali dengan iman dan harapan,” katanya.

Tahun 2018, Gereja Katolik Mongolia memperingati 25 tahun kelahirannya kembali.

Selama upacara ulang tahun, Uskup Padilla mengungkapkan rasa terima kasih kepada para misionaris atas pelayanan mereka dan mengatakan  Gereja kini telah menemukan pijakan yang kuat di negara tersebut.

Dia mengatakan “Gereja di Mongolia stabil, dengan kehadirannya di berbagai distrik, dengan paroki yang berbeda, dengan layanan sosial-pendidikan dalam masyarakat.”

“Kedatangan para misionaris dari berbagai kongregasi religius, kerja sama dan iman banyak orang Mongolia telah membantu membangun kehadiran Gereja yang kokoh di Mongolia,” tambahnya.

Kurang dari setahun kemudian, Uskup Padilla meninggal karena serangan jantung pada 25 September 2018, di Ulaanbaatar pada usia 68 tahun. Ia dimakamkan di kota tersebut.

Gereja kecil itu menjadi sorotan global tahun lalu ketika Paus Fransiskus menunjuk misionaris Italia Uskup Giorgio Marengo, yang menggantikan Uskup Padilla, sebagai kardinal.

Misionaris di Mongolia memuji penunjukan itu dan mengatakan mereka menyukai dorongan Paus Fransiskus untuk pergi ke pinggiran Gereja.

Pada 3 Juni, Paus Fransiskus mengumumkan akan mengunjungi Mongolia, negara yang berbatasan dengan China dan Rusia.

Sumber: Papal visit marks rebirth of Mongolian church 30 years on

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi