UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Orang awam menunggu partisipasi dalam Gereja di Pakistan

Agustus 4, 2023

Orang awam menunggu partisipasi dalam Gereja di Pakistan

Orang muda Katolik Pakistan berjalan menuju tempat ziarah di Mariamabad, Pakistan dalam file foto ini. (Foto disediakan)

Mushtaq Asad termasuk di antara lima orang awam Pakistan pertama yang dikirim untuk program studi dua tahun di Roma pada awal 1980-an untuk memastikan partisipasi awam. Program itu terjadi dua dekade setelah Konsili Vatikan II (1962-1965), yang menekankan peran kaum awam dalam misi Gereja.

Hanya dua dari lima orang itu yang kembali ke negara mereka. Dan sejak saat itu, hierarki berhenti mensponsori orang awam untuk belajar di luar negeri, kata Asad, 65, yang lebih suka mengenakan shalwar kameez tradisional (tunik dengan celana lipit) seperti pria Pakistan lainnya.

Setelah kembali ke rumah, Asad mengajar selama lebih dari satu dekade di Pusat Pelatihan Katekis Nasional di Khushpur, distrik Faisalabad. Sekarang dia menghabiskan waktu memberikan renungan di saluran YouTube-nya kepada lebih dari 4.000 pelanggan, dari rumahnya yang sederhana di Malkhanwala, sebuah desa di Provinsi Punjab.

Tujuh dekade setelah Vatikan II, “tidak ada partisipasi kaum awam dalam badan-badan pembuat keputusan Gereja. Satu-satunya tugas mereka adalah datang ke gereja, mendengarkan dan pulang. Seolah-olah kita dilahirkan untuk mendengarkan, sementara para klerus berbicara,” kata Asad.

Di negara mayoritas Muslim itu, peran umat awam “secara sadar terbatas pada doa, mengumpulkan puluhan dan mengalungkan karangan bunga kepada para imam dan uskup,” katanya.

“Bahkan katekis tidak diajak berkonsultasi saat membuat keputusan. Mereka dianggap sebagai pekerja bayaran. Gereja tidak menerima partisipasi kaum awam, terutama perempuan masih belum terlihat dalam peran kepemimpinan,” kata Asad, seorang teolog awam.

Parveen Bibi (kanan), seorang wanita awam dari Provinsi Punjab yang berperan aktif dalam kegiatan Gereja dan membantu pembangunan gereja, berbicara dengan umat paroki di sebuah gereja Katolik di desa Qila Natha Singh. (Foto: Kamran Chaudhry / UCA News)

Kurangnya visi pastoral

Emmanuel Neno, satu-satunya katekis lain yang kembali ke negaranya setelah belajar di Roma, mengatakan Gereja di Pakistan tidak memiliki visi pastoral yang jelas sehingga partisipasi awam yang buruk.

“Umumnya tidak ada visi pastoral. Katekese terbatas pada anak-anak saja. Banyak kepala sekolah merasa itu adalah tugas mereka untuk menjalankan institut tanpa memahami identitas Katolik mereka,” kata Neno, yang belajar dengan Asad di College of Mater Ecclesia, di bawah Universitas Kepausan Urbaniana di Roma.

Neno, sekretaris eksekutif Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Pakistan, mengatakan para uskup perlu meninjau rencana pastoral mereka setidaknya dalam satu dekade.

Dia menjadi direktur awam pertama dari Pusat Kateketik Karachi tahun 1992, posisi yang dia pertahankan hingga tahun 2002.

“Kita tidak punya ide yang jelas. Tidak ada upaya kolektif untuk memutuskan apa yang harus dilakukan atau ke mana harus memimpin Gereja kita,” kata Neno.

Menurut Asad, masalah besar lainnya adalah ketidakmampuan Gereja lokal memperbarui diri. “Klerus Pakistan masih hidup di era sebelum Vatikan II,” katanya.

“Umat awam selalu diingatkan bahwa para uskup dan imam adalah pilar Gereja. Mereka tidak ingin berbagi atau mendorong pernyataan pro-awam dari Paus Fransiskus,” tambahnya.

Komunitas Basis Gerejawi (KBG) yang didirikan oleh Tarekat Oblat Maria Tak Bernoda (OMI) Sri Lanka pada akhir 1980-an untuk mengangkat dan mengembangkan masyarakat lokal, dapat memperluas visi dan memberikan kejelasan tentang partisipasi kaum awam. Tapi itu tidak didorong.

“Banyak klerus percaya KBG berarti lonceng kematian bagi kekuatan mereka,” kata Asad.

Pastor Emmanuel Asi, seorang teolog terkemuka di Pakistan, setuju. “Kebanyakan komisi Gereja dipimpin oleh para imam karena para uskup tidak mempercayai umat awam. Orang awam diperlakukan sebagai pelayan atau relawan.

Para imam tetap menjadi bagian dari Gereja yang institusional, hierarkis, dan sangat terpusat,” katanya.

Kanwal Rashid, seorang Katolik, mengajar putranya di rumah mereka di Lahore pada 22 Maret. (Foto: Kamran Chaudhry/UCA News)

Tidak signifikan dan miskin

Pakistan memiliki sekitar 3 juta orang Kristen, diperkirakan setengah dari mereka beragama Katolik. Tapi bersama-sama mereka adalah minoritas kecil 1,27 persen dari sekitar 230 juta orang, 96 persen Muslim.

Para pemimpin agama minoritas – Kristen, Hindu, Sikh, dan Ahmadiyah – yang bersama-sama membentuk hampir empat persen dari populasi, mengatakan mayoritas Muslim mengabaikan mereka secara sosial dan politik.

Selain pengabaian politik, 1,3 juta umat Katolik juga mengalami penindasan sosial dan ekonomi karena mayoritas dari mereka adalah keturunan komunitas Dalit yang miskin secara sosial, berpindah agama selama era kolonial Inggris.

Selama beberapa dekade setelah Inggris meninggalkan negara itu tahun 1947, Gereja-gereja Kristen di Pakistan berjuang mempertahankan citra Inggris dalam bahasa dan pakaian, demikian pengakuan para pemimpin Gereja.

Hingga tahun 1980-an, hierarki tersebut sebagian besar dipimpin oleh para imam dan uskup berbahasa Inggris, misionaris asing, atau keturunan mereka yang bermigrasi dari wilayah Goa, India barat, bekas jajahan Portugis.

“Untuk waktu yang lama, mayoritas orang miskin dan kurang berpendidikan di Gereja diabaikan. Bahkan saat ini, hierarki malu untuk memproyeksikan wajah asli Gereja Pakistan – umatnya hanya merupakan pembersih limbah dan penyapu jalan,” kata Asad.

“Umat kami berpakaian lusuh dan tidak bisa bersuara. Mereka tidak tahu dan tidak tertarik untuk mengetahui teologi atau eklesiologi. Prioritas mereka adalah perjuangan hidup sehari-hari. Hierarki perlu bekerja lembur untuk membuat mereka merasa menjadi bagian dari Gereja,” katanya.

“Perubahan mulai terjadi ketika beberapa pemimpin Gereja mulai menekankan ajaran Konsili Vatikan II tahun 1980-an. Tapi itu tetap menjadi proses yang sekarang diabaikan oleh mayoritas dalam hierarki,” tambahnya.

Shafiq Masih seorang pekerja sanitasi Katolik di Pakistan terlihat di sini sedang membersihkan selokan. (Foto: Penyapu adalah Pahlawan)

Perubahan dimulai tetapi bergerak lambat

Sebagian besar anggota klerus sekarang setuju bahwa umat awam penting dalam Gereja tetapi suka membatasi peran mereka pada tugas-tugas manual di paroki seperti membersihkan dan meletakkan karpet atau mengatur kursi dan bangku, kata Asad.

Namun, dua dekade setelah Konsili Vatikan II, Gereja mulai mempekerjakan kaum awam untuk posisi puncak. Kurikulum seminari diubah untuk menambah mata pelajaran tentang keterlibatan awam dalam Gereja. Para uskup mulai menyelenggarakan seminar dan kursus tentang partisipasi awam.

Tahun 1993, tiga dasawarsa yang lalu, para peserta dari Komisi Kerasulan Awam FABC menyimpulkan bahwa Gereja Pakistan masih muda dan karena itu tidak terjebak dalam konvensi dan tradisi kuno yang sering menghambat pembaharuan dan perubahan.

Seminar itu adalah program nasional pertama yang diselenggarakan dalam bahasa Urdu, bahasa nasional. Seminar itu dihadiri 45 delegasi dari enam keuskupan – termasuk 24 awam. Para pemimpin Gereja memproyeksikannya sebagai “pergeseran paradigma” dalam keterlibatan kaum awam.

Tahun 1997, Konferensi Waligereja Pakistan mendirikan National Catholic Institute of Theology (NCIT), institut teologi Katolik pertama yang membantu umat awam memperoleh gelar sarjana dalam bidang teologi.

Institut yang berbasis di Karachi ini menerima enam sampai delapan mahasiswa setiap tahun untuk kursus sertifikat tiga tahunnya. Kebanyakan dari mereka menjadi katekis atau guru agama di sekolah-sekolah Katolik.

Peter John, yang lulus tahun 2021, bekerja sebagai katekis paruh waktu di Paroki St. James. Tapi tidak semua orang mendapat pekerjaan.

“Setidaknya enam orang dari paroki saya, yang mendapat sertifikat institut teologi, sedang menunggu panggilan untuk bekerja di paroki mana pun. Ijazah mereka mulai berdebu,” kata John, yang juga bekerja di sebuah perusahaan mobil sebagai administrator.

“Umat awam umumnya diabaikan tetapi mereka tidak dapat dilibatkan dalam setiap aspek pengelolaan Gereja,” katanya.

Dalam foto yang diambil pada 10 Maret 2022 ini, pekerja komunitas Kristen dari Perusahaan Pengelolaan Sampah Lahore sedang membersihkan sebuah jalan di Lahore. (Foto: AFP)

Seruan paus diabaikan

Tarekat OMI Sri Lanka bersama KBG juga membentuk 25 organisasi awam untuk mengembangkan umat di Paroki Gojra, Keuskupan Faisalabad.

Namun, komunitas-komunitas ini menghilang tak lama setelah para OMI menyerahkan Paroki Gojra kepada para imam diosesan tahun 1996, kata Asad.

“KBG adalah satu-satunya hal yang konkret bagi kami. Orang Sri Lanka adalah pahlawan kami. Sayangnya, percobaan tetap terbatas di Gojra dan Keuskupan Agung Karachi,” kata Asad.

“Tidak ada dorongan dari para imam diosesan. KBG memudar karena orang tidak pernah siap untuk itu. Gereja-gereja kami sekarang direduksi menjadi pertunjukan satu orang dari para imam,” tambahnya.

Uskup Indrias Rehmat, ketua Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Paksitan, setuju bahwa perubahan itu sulit. Dia memprakarsai reksa pastoral lima tahun sejak 2021. Tapi itu belum selesai.

“Para imam kami tidak bisa melakukannya. Mereka tetap terpaku pada perencanaan dan kegiatan paroki mereka sendiri, meskipun saya mendorong mereka untuk lebih banyak melakukan kunjungan pastoral,” kata Uskup Rehmat.

Dia percaya bahwa “baik imam maupun awam memiliki peran yang sama dalam memberikan kesaksian tentang iman mereka.”

Sebagai bagian dari persiapan Gereja Pakistan untuk milenium baru, sebuah forum Gereja menerbitkan terjemahan bahasa Urdu dari 24 buku pegangan tentang metode Pendekatan Pastoral Terintegrasi Asia (ASIPA). Buku-buku itu diterbitkan setelah memberikan pelatihan kepada para imam di Keuskupan Agung Lahore dan Keuskupan Agung Karachi serta umat awam di enam keuskupan tahun 1999.

Buku pegangan itu bertujuan membangun komunitas Kristiani melalui kolaborasi klerus dan awam, mengadaptasi metode pastoral konteks Asia, kata Pastor Emmanuel Asi, koordinator forum itu.

“Meskipun mengetahui bahwa paroki tidak dapat tumbuh tanpa kaum awam, mereka belum benar-benar berpikir untuk menjadi Gereja sinodal. Saat ini Gereja terlalu didominasi oleh institusionalisme dan klerikalisme, tanpa mempertimbangkan suara awam,” tambah Pastor Asi.

“Gereja lokal telah menutup telinga terhadap ide-ide yang diberikan oleh Paus Fransiskus,” tambahnya.

“Tidak ada yang merujuk pada ajaran, khotbah, dan pesannya. Beberapa uskup mengutipnya, sisanya lebih suka mendekorasi kamar mereka dengan fotonya,” kata Pastor Asi.

Namun, Uskup Agung Islamabad-Rawalpindi, Mgr. Joseph Arshad mengatakan Gereja lokal telah berkomitmen mendukung peran umat awam dalam karya Gereja.

“Kami telah membentuk banyak kelompok pemuda dan wanita di Gereja-gereja lokal,” katanya.

Arshad, yang menyampaikan tanggapan Gereja lokal atas sinode ke Tahap Kontinental Sinode tahun lalu, tidak pernah mempublikasikannya. FABC harus mempublikasikannya, katanya.

Shunila Ruth (tengah), seorang wanita Kristen, pemimpin Partai Tehreek-e-Insaf (PTI) Pakistan bersama para pendukungnya, mengangkat salib di Bundaran Liberty di Lahore pada 28 Oktober 2022 untuk menyambut Imran Khan, perdana menteri Pakistan yang digulingkan. (Foto: Shunila Ruth)

Tuntutan awam yang tidak sehat

Perlakuan buruk terhadap umat awam adalah “kelanjutan dari warisan Paus Benediktus XVI” yang mendorong Gereja yang lebih tradisional, kata Suster Genevieve Ram Lal, ketua Wanita Katolik Pakistan.

“Meskipun mengalami kemunduran, ada beberapa tanda keterlibatan umat awam, berkat ensiklik Paus Fransiskus.

Para biarawati mengatakan beberapa tarekat religius, termasuk tarekatnya, sekarang mengadakan retret bersama dengan rekan-rekan awam,” katanya.

Neno mengatakan orang awam juga harus disalahkan karena mereka tidak dipercaya oleh para imam “akibat perilaku dan tindakan mereka.”

Misalnya, tiga dari lima orang yang dikirim ke Roma untuk belajar tidak kembali.

“Sayangnya kesempatan untuk belajar di Mater Ecclesiae sekarang terbatas hanya untuk para biarawati,” katanya.

Kebanyakan orang awam yang menyelesaikan kursus singkat tentang teologi ingin melihat “diri mereka setara atau bahkan lebih tinggi dari para imam. Mereka menuntut hak istimewa yang mengaku sebagai teolog.”

Meskipun rencana awal hierarki adalah menahbiskan setidaknya beberapa orang yang terlatih secara teologis sebagai diakon yang menikah, tuntutan yang tidak beralasan mengakibatkan hierarki mengabaikan rencana untuk diakon yang menikah.

“Sekarang, tidak ada diakon awam di Pakistan. Lambat laun peran orang awam yang terlatih pun tidak akan berarti apa-apa,” katanya.

Sumber: Lay people await participation in Pakistan church

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi