UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat awam Katolik Sri Lanka merasa diabaikan oleh hierarki atas kontribusi mereka

Agustus 15, 2023

Umat awam Katolik Sri Lanka merasa diabaikan oleh hierarki atas kontribusi mereka

Sekelompok 20 pemimpin awam, yang menyelenggarakan perayaan di Tempat Doa Madhu di Sri Lanka, foto bersama dengan Uskup Jude Nishantha Silva (baris depan, kedua kiri), uskup yang baru terpilih dari Keuskupan Badulla, dan beberapa imam. (Foto disediakan)

Hampir setiap bulan, Tempat Doa Madhu yang populer di Sri Lanka, sebuah situs ziarah Bunda Maria di dalam hutan, mengadakan perayaan yang sebagian besar atas prakarsa umat awam.

Setiap bulan Mei, giliran umat Katolik dari wilayah Negombo, sebuah benteng Kristen sekitar 260 kilometer dari tempat suci itu, untuk menyelenggarakan perayaan tersebut.

Sebuah tim beranggotakan 20 orang awam mengatur liturgi, akomodasi, makanan, dan obat-obatan gratis untuk sekitar 7.000 peziarah pada acara selama sepekan itu. Mereka juga mengundang sekitar 20 imam dan seorang uskup untuk merayakan Misa.

Nelson Dariju, seorang Katolik dari Paroki Bunda Maria Presentasi di Negombo telah menjadi bagian dari tim relawan yang beranggotakan 20 orang sejak 2010.

Dia mengatakan dia merasa kecewa karena “beberapa imam tidak mendorong tetapi mengabaikan upaya orang awam seperti itu.”

Pria berusia 57 tahun itu mengatakan kepada UCA News bahwa para imam tidak membantu mereka secara memadai dalam menyelenggarakan perayaan yang mempromosikan kerukunan antaragama di negara itu.

Perayaan di tempat suci nasional berusia 400 tahun itu melintasi agama dan etnis dan menarik mayoritas Buddha Sinhala dan Tamil yang mayoritas Hindu, yang merupakan musuh bebuyutan selama perang saudara selama 26 tahun di Sri Lanka yang berakhir tahun 2009.

“Beberapa imam bahkan tidak membuat pengumuman tentang perayaan itu selama Misa Minggu,” kata Dariju, yang bekerja untuk Sarvodaya (Kemajuan Semua), sebuah organisasi sukarela yang mempromosikan keharmonisan sosial.

Berbagai paroki dan daerah menyelenggarakan 11 pesta setahun di tempat doa itu — setiap bulan kecuali pada April dan November. Pada Maret, mereka menyelenggarakan dua perayaan.

Kebanyakan imam “mengabaikan umat awam dan kontribusi mereka di paroki mereka,” kata Dariju, yang telah terlibat dalam kegiatan Gereja sejak menjadi pelayan altar pada usia delapan tahun.

B. Nelson Dariju, 57, menjadi lektor dalam Misa pada sebuah perayaan di Tempat Doa Madhu pada Mei 2023. Dia termasuk di antara 20 tokoh awam yang menyelenggarakan perayaan di Tempat Doa Nasional Sri Lanka itu. (Foto disediakan)

Awam mengabaikan misi

Puspa Fernando, seorang guru Katolik yang berbasis di Keuskupan Ratnapura, yang mencakup wilayah terpencil di bagian selatan-tengah negara itu, mengatakan kegiatan misionaris awam “jarang di kebanyakan keuskupan” dan sebagian besar umat Katolik menganggap “pekerjaan misi adalah peran para imam.”

Sri Lanka adalah negara multi-etnis, multi-agama dengan perkiraan populasi 21 juta jiwa. Umat Buddha mencapai sekitar 70 persen, Hindu 12,6 persen, Muslim 9,7 persen dan Kristen 7,4 persen, menurut statistik resmi.

Negara ini menawarkan banyak ruang untuk dialog antaragama dan etnis, yang belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh Gereja, kata Dariju.

Dia mengatakan beberapa imam mulai bekerja dengan umat Muslim, Hindu, dan Protestan setelah serangan Minggu Paskah tahun 2019 yang menewaskan 269 orang ketika bom meledak di tiga gereja dan tiga hotel mewah.

“Tetapi mayoritas imam dan umat awam menganggap [pekerjaan antaragama] tidak relevan,” kata Dariju.

Fernando mengatakan lebih banyak umat awam perlu dilatih “untuk menjadi bagian dari misi Gereja” di Sri Lanka.

Beberapa keuskupan telah melatih umat awam dan memberi mereka “gelar, diploma, dan sertifikat teologis, tetapi pelatihan semacam itu seringkali tidak membuahkan hasil untuk memenuhi misi Gereja,” kata Fernando.

Hierarki dapat “memanfaatkan umat awam di keuskupan terpencil untuk bekerja dengan anak-anak dan orang dewasa,” katanya menyinggung kurangnya upaya untuk melibatkan umat awam dalam misi Gereja.

Umat awam mengorganisir nyanyian Pasan (lagu ratapan) di berbagai gereja dan sekolah selama masa Prapaskah. (Foto disediakan)

Para imam menaungi kaum awam

Beberapa pastor paroki mengizinkan umat awam untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan di paroki, kata Dariju, yang mencerminkan perasaan umum di kalangan awam Katolik di negara itu.

Kebanyakan orang awam yang didekati UCA News enggan untuk berbicara kritis tentang keterbatasan yang mereka hadapi dari para imam karena takut akan serangan balik dari hierarki.

Sangat disayangkan bahwa lebih dari satu juta umat Katolik awam di Sri Lanka dibayangi oleh sekitar 592 imam, kata Dariju.

Di seksi-seksi paroki, beberapa imam menunjuk perwakilan pilihan mereka tanpa pemilihan. Ini membantu imam untuk menerapkan “apa yang diinginkan imam” dan “menetapkan preseden yang salah” di paroki, katanya.

Penunjukan seperti itu juga menutup kesempatan bagi umat paroki untuk secara efektif menanggapi isu-isu sosial-politik dan agama yang mempengaruhi bangsa dan wilayah mereka.

Masalah sosial seperti kecanduan narkoba di kalangan anak-anak dan pelecehan anak tidak pernah dibahas oleh dewan paroki, tambahnya.

“Para imam melihat mereka sebagai masalah yang tidak perlu, di mana Gereja tidak boleh terlibat,” kata Dariju.

Orang awam seperti Dariju mengatakan karena para imam dan orang awam tidak memahami hubungan antara masyarakat dan kehidupan Kristiani, penipuan politik dan krisis ekonomi yang melumpuhkan negara menjadi bukan masalah bagi umat Katolik biasa.

Orang-orang berdoa di Tempat Suci Madhu yang berusia 400 tahun, yang menarik ribuan orang dari seluruh negeri itu, termasuk mayoritas Sinhala dan minoritas Tamil. (Foto disediakan)

Wanita dua kali diabaikan

Para pemimpin wanita seperti Fernando mengatakan ketika umat awam dianggap sebagai bagian dari kegiatan Gereja, hampir selalu pria – wanita hampir tidak mendapat kesempatan.

Bahkan untuk upacara basuh kaki Kamis Putih, “sangat jarang imam mengundang perempuan padahal Gereja mengizinkannya,” katanya.

Beberapa paroki mengizinkan perempuan untuk menjadi lektor, pelayan untuk membagikan Komuni. Ribuan wanita secara sukarela bekerja sebagai guru Sekolah Minggu, yang oleh para imam dilihat sebagai bentuk pemberdayaan wanita di Gereja, katanya.

Perempuan menuntut “perlakuan yang sama” dalam kegiatan Gereja dan di beberapa gereja “perempuan sekarang dipilih menjadi dewan paroki, tetapi suara mereka jarang terdengar dalam pengambilan keputusan,” tambahnya.

Tapi Dariju, yang menjadi anggota dewan paroki selama lebih dari satu dekade, mengatakan beberapa imam masih tidak akan “mengizinkan umat awam membaca pengumuman setelah Ekaristi hari Minggu.”

Pastor Reid Shelton Fernando, seorang dosen universitas, mengatakan bahwa wanita diperkirakan berjumlah 52 persen dari Gereja, serupa dengan proporsi mereka dalam populasi nasional, dan mereka berhak mendapatkan pemberdayaan yang lebih baik di Gereja.

“Sangat penting untuk memberikan lebih banyak kesempatan yang sama kepada perempuan dalam membuat keputusan” dalam berbagai Komisi Konferensi Waligereja Sri Lanka, kata imam itu.

Umat Katolik berkumpul di makam untuk berdoa bagi orang yang mereka cintai yang telah meninggal. (Foto disediakan)

Diperlukan pelatihan untuk kolaborasi

Pastor Fernando mengatakan beberapa imam enggan melibatkan umat awam dalam pelayanan karena takut mereka “harus dibayar” untuk pelayanan mereka.

Untuk “mendapatkan pelayanan umat awam di Gereja secara bermakna,” upaya harus dilakukan di tingkat paroki, regional dan nasional dengan melatih umat awam, kata imam itu.

Gereja perlu meningkatkan pemahaman para imam dan umat awam tentang ajaran sosial Gereja “sehingga mereka dapat menyadari misinya hanya dapat dipenuhi dengan upaya kolaboratif,” katanya.

Sekelompok orang awam dan imam khawatir bahwa keterlibatan dalam masalah sosial akan berdampak negatif pada masa depan mereka.

Pastor Sarto Nonis, seorang imam senior dan mantan direktur Komisi Awam Keuskupan Chilaw di timur negara itu juga sepakat.

“Untuk memberikan pengetahuan yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab mereka, Gereja harus menyelenggarakan berbagai program dan kursus,” kata Pastor Nonis.

Konsili Vatikan II menekankan pentingnya peran kaum awam dalam misi Gereja.

“Meskipun tidak semua dari kita ahli dalam segala bidang, dengan berbagi peran dan kemampuan satu sama lain kita semua dapat maju bersama dalam doa dan, melalui cinta satu sama lain,” kata imam itu.

Pastor Michael Rajendram, ketua Komisi Kerasulan Awam mengatakan sudah saatnya Gereja Sri Lanka merefleksikan keterlibatan kaum awam dalam misi Gereja. Dikatakannya, semua paroki telah diinstruksikan untuk memperkuat kerasulan awam.

Dariju, seorang tokoh awam, mengatakan jika Gereja bertujuan membangun “tatanan sosial baru” berdasarkan nilai-nilai Alkitab, “tidak ada alternatif selain memberdayakan kaum awam di Gereja.”

Sumber: Sri Lankan Catholics fight neglect to work with hierarchy

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi