UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Religius wanita ‘menginspirasi dan memotivasi’ anggota geng di Meksiko

Agustus 28, 2023

Religius wanita ‘menginspirasi dan memotivasi’ anggota geng di Meksiko

Suster Sandra López García ngobrol dengan para anggota geng muda Los Monckis dalam salah satu kunjungan mingguan timnya di tempat nongkrong mereka di Monterrey, Meksiko, pada Mei. (Foto: Nuri Vallbona/GSR)

Suster Sandra López García menjelajahi tempat-tempat parkir yang tersedia di sejumlah jalan yang remang-remang di Monterrey.

Ditemani oleh tim misionaris awam, dia dan Suster Sanjuana Morales Nájera melakukan kunjungan mingguan mereka ke “Los Monckis”, sebuah geng jalanan yang terdiri dari kaum muda berusia antara 7 hingga 26 tahun.

Mereka mendekati sekelompok remaja yang berkumpul lebih dari selusin. Musik akordeon dari lagu ranchera menggelegar. Saat para biarawati  dari Kongregasi Suster-suster María de Nazareth (Serikat Maria dari Nazareth) mendekat, mereka disambut dengan lambaian tangan dan senyuman.

Suster García tidak menyebut mereka sebagai anggota geng, melainkan sebagai “chavos banda“, atau geng muda yang tidak berafiliasi dengan kartel narkoba.

Kelompok-kelompok ini, katanya, mengadakan tawuran dengan batu, bukan senjata api, dan meskipun banyak yang tidak menjual narkoba, penyalahgunaan zat sering terjadi di antara mereka.

Seorang anggota Los Monckis Fernando Barrientos, 20, menelepon Suster García, dengan penuh semangat menunjukkan foto terbaru putranya, Liam.

“Ketika para misionaris awam dan  suster itu datang dan berbicara kepada saya tentang firman Tuhan dan sebagainya, mereka menginspirasi saya; mereka memotivasi saya,” kata Barrientos kepada Global Sisters Report, sambil menunjukkan tato yang menandai kelahiran Liam.

Suster García mengatakan jalanan adalah tempat dia menemukan Yesus. Dia dan tim
misionarisnya secara teratur menginjili  chavos banda yang terdapat di lingkungan Monterrey.

Misi

Misi Suster Garcia dan timnya adalah memberikan bimbingan spiritual dan mencoba menjauhkan orang-orang tersebut dari narkoba dan kekerasan.

Ini adalah hasrat yang dia miliki sejak dia berusia 16 tahun ketika dia menemani para suster dari tarekat tersebut  selama kunjungan mereka dengan anggota geng di negara bagian asalnya, Chiapas. Ketika para suster kembali ke Monterrey, Suster García ikut bersama mereka.

“Saat itulah saya mengatakan, ‘Saya ingin hidup seperti mereka,’” kata Suster  García. “Saya ingin menjadi seperti suster-suster tersebut.”

Dia memulai pekerjaannya di Monterrey sebagai misionaris awam penuh waktu tahun 2004; setahun kemudian dia bergabung dengan ordo religius itu dan tahun 2014 mengikrarkan kaul kekalnya.

Dengan harapan dapat melayani mereka yang paling membutuhkan, ia belajar psikologi sambil bekerja dengan kelompok misionaris awam dan berkolaborasi dalam pembinaan para novis.

“Pertama kali saya keluar ke jalan, saya merasa takut karena kami bertemu dengan seorang pria berjuluk Rogan yang mempunyai reputasi sebagai orang yang berbahaya,” kenang Suster García.

“Dia terkejut karena kami menyapanya dan bertanya kepada kami, apakah menurut kami dia jahat? Salah satu misionaris memberi tahu dia bahwa kami tidak takut dan meyakinkan dia bahwa Tuhan mengasihinya. Setelah itu, Rogan menangis dan memberi tahu kami bahwa tidak ada seorang pun pernah mengatakan hal seperti itu.”

Dampak pertama ini menyebabkan perubahan radikal dalam kehidupan Suster García. Dia merasa bersalah karena selama bertahun-tahun dia bertemu dengan anggota geng, dia tidak pernah mengatakan Tuhan mengasihi mereka. Pada saat itu, dia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya agar orang-orang seperti Rogan tidak mati tanpa mendengar bahwa Tuhan mengasihi mereka.

“Saya dipanggil dengan la banda,” kata Suster García.

Populasi wilayah metropolitan Monterrey sekitar 5,3 juta orang, menurut data sensus tahun 2020 yang disajikan oleh Data Meksiko, sebuah situs pemerintah.

Namun, tidak mungkin untuk menebak berapa banyak geng dan banda yang beroperasi di wilayah tersebut karena beberapa geng dan banda bertahan selama beberapa tahun sementara yang lain diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kata Pastor José Luis Guerra Castañeda, penasihat Raza Nueva en Cristo, yang menyediakan pelayanan pastoral kepada anggota geng.

“Bagi mereka, geng menjadi tempat aman mereka,” kata Pastor Guerra Castañeda.

“Beberapa orang berpikir, ‘Di rumah saya mereka memukuli saya dan tidak di sini.’ Itu sebabnya mereka tetap di banda.”

Meskipun sangat sedikit anggota banda yang mengambil langkah selanjutnya untuk bergabung dengan kartel narkoba, ketika mereka melakukannya, mereka tidak bisa keluar, kata imam itu. “Jalan keluarnya adalah penjara atau kematian.”

Perlu keterlibatan

Keterlibatan  para suster dan misionaris adalah “suatu keharusan,” tambahnya. “Merupakan kebutuhan mendasar bahwa orang-orang itu didampingi.”

Faktor lain yang memicu geng ini adalah kemiskinan. Daerah sekitar St. Philomena, salah satu paroki tempat para suster beroperasi, termasuk dalam kelas sosial ekonomi rendah, menurut Pastor José Gonzalo Chaires Acosta.

Hal ini menciptakan kesulitan dan tantangan yang terkadang dapat menyebabkan keanggotaan geng, kecanduan narkoba, pengangguran atau ketidakamanan.

Dia memuji para suster atas keinginan mereka untuk “meninggalkan bait suci dan bertemu dengan saudara yang menderita. Komunitas mengetahui pekerjaan mereka dan sangat menghargai mereka.”

Sejak didirikan 30 tahun lalu, pelayanan suster-suster  María de Nazareth berfokus pada pelayanan dan penginjilan kepada kaum muda, remaja dan anak-anak yang terjebak dalam kecanduan narkoba, geng atau kekerasan.

Ketika para suster menyapa anggota banda untuk pertama kalinya, mereka memegang tangan mereka, menatap mata mereka dan seraya mengatakan, “Kamu berharga dan penting,” kata Suster Guillermina Burciaga Mata, pendiri komunitas itu. “Tidak peduli siapa kamu atau apa yang telah kamu lakukan, Tuhan mencintaimu.”

“Saat mereka bertemu dengan kami, kami meminta izin untuk kembali ke tempat mereka berada,” kata Suster Burciaga Mata.

Pelayanan para suster itu menarik perhatian para misionaris awam, dengan mendalami kehidupan mereka sendiri, memutuskan untuk berkomitmen pada misi tersebut.

“Anak saya satu-satunya, Juan Manuel, adalah seorang chavo banda,” kata misionaris Yolanda Martínez Hernández kepada Global Sisters Report.

“Suatu hari dia bersama beberapa anak laki-laki yang lebih muda dan geng lain mencari mereka untuk memprovokasi mereka. Putra saya yang berusia 23 tahun ingin membela teman-temannya, dan anggota banda lainnya membunuhnya dengan pisau.”

Sejak saat itu, dia mengatakan dia memandang geng-geng muda dengan pandangan berbeda dan mulai mengunjungi mereka serta mempersiapkan mereka untuk menerima sakramen.

Dua kali seminggu sekitar jam 9 malam, para suster dan misionaris turun ke jalan dengan mengenakan salib dan kaos seragam dengan tulisan, “A tu lado” (“Dukung Anda”) di bagian belakang.

Sister García mendorong tim untuk melakukan pendekatan seolah-olah akan bertemu dengan seorang teman baik. Meski warga sekitar mengenal mereka, namun hal ini tidak memungkinkan mereka memasuki semua gang di lingkungan sekitar.

Selama tamasya di bulan Mei, kelompok tersebut diperingatkan untuk mengunjungi rumah terdekat. “Ada beberapa pria bersenjata di sana,” kata Suster Morales Nájera.

Di jalan tempat nongkrongnya Los Bronx, rival Los Monckis, kunjungan tersebut terasa lebih suram.

Di seberang reruntuhan bangunan yang terbakar, para suster berkumpul di depan sebuah tugu peringatan yang didedikasikan untuk dua anggota Bronx yang meninggal baru-baru ini dalam kecelakaan sepeda motor.  Suster García mengumpulkan anak-anak muda dalam bentuk setengah lingkaran dan memimpin mereka berdoa.

“Dalam kegelapan sepertinya tidak ada kehidupan, namun kami tiba dalam kegelapan dan menemukan bahwa ya, ada banyak kehidupan,” kata Martínez Hernández.

Namun kurang dari satu jam setelah kunjungan para suster, para misionaris mendapat kabar bahwa Los Monckis dan Los Bronx  saling melempar batu. Hal ini tidak menghalangi rombongan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi ketiga.

Suster García tahu bahwa transformasi bisa menjadi sebuah proses yang panjang, namun dia mengatakan itulah yang Tuhan minta: kesediaannya untuk melayani chavos banda dalam proses pribadi mereka.

Misi di jalanan, tambahnya, telah memberinya kesederhanaan iman yang luar biasa, memungkinkan dia untuk bertemu Yesus di kalangan masyarakat paling bawah dan di antara mereka yang termarginal.

Sumber: Women religious inspire motivate gang members in Mexico

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi