UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus menyaksikan kegembiraan, kebaikan, kerendahan hati orang Mongolia

September 8, 2023

Paus menyaksikan kegembiraan, kebaikan, kerendahan hati  orang Mongolia

Paus Fransiskus melambaikan tangan kepada para peziarah saat audiensi umum mingguannya di Lapangan Santo Petrus di Vatikan pada 6 September. (Foto: AFP)


Paus Fransiskus mengatakan dia mengetahui bahwa orang-orang akan bertanya mengapa dia mengadakan  perjalanan  ke Mongolia untuk mengunjungi komunitas Katolik yang hanya berjumlah 1.450 orang.

“Karena justru di sana, jauh dari sorotan, kita sering menemukan tanda-tanda kehadiran Tuhan yang tidak melihat penampilan, tapi hati,” ujarnya kepada ribuan orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk menghadiri audiensi umum mingguan pada 6 September.

Menyusul  kebiasaannya berbicara tentang perjalanan pada audiensi pertama setelah kepulangannya, paus mengatakan selama kunjungannya pada 1-4 September di  Ulaanbaatar, ibu kota negara itu, ia bertemu dengan “sebuah Gereja yang rendah hati dan gembira.”

“Saya telah berkunjung ke jantung Asia, dan hal itu memberikan manfaat bagi saya,” kata paus.

Para misionaris yang tiba di Mongolia tahun 1992 “tidak pergi ke sana untuk melakukan pewartaan,” kata paus. “Mereka hidup seperti masyarakat Mongolia, berbicara dalam bahasa mereka, mempelajari nilai-nilai masyarakat Mongolia, dan memberitakan Injil dalam gaya Mongolia, dengan kata-kata Mongolia.”

Universalitas Gereja Katolik, katanya, bukanlah sesuatu yang “menghomogenkan” iman.

“Ini adalah katoliksitas: sebuah universalitas yang diwujudkan, yang mencakup kebaikan di mana kebaikan itu ditemukan dan melayani orang-orang yang hidup bersamanya,” kata paus.

“Beginilah kehidupan Gereja: memberikan kesaksian tentang kasih Yesus dengan lemah lembut, dengan hidup tenang, bahagia dengan kekayaan sejatinya, yang merupakan pelayanan kepada Tuhan dan kepada saudara-saudari kita.”

Gereja Katolik mengakui Tuhan bekerja di dunia dan pada orang lain, katanya. Visinya, dan hatinya, seluas langit di atas padang rumput Mongolia.

Kelompok misionaris internasional yang bekerja di Mongolia telah menemukan “keindahan yang sudah ada di sana,” katanya. “Saya juga bisa menemukan keindahan ini” dengan bertemu orang-orang, mendengarkan cerita mereka dan “menghargai pencarian keagamaan mereka.”

“Mongolia memiliki tradisi Buddha yang hebat, dengan banyak orang yang menghayati religiusitas mereka dengan cara yang tulus dan mengakar, dalam keheningan,” kata paus.

“Bayangkan saja betapa banyaknya benih-benih kebaikan yang tersembunyi membuat taman dunia tumbuh subur, padahal biasanya kita hanya mendengar suara pohon tumbang!”

Orang-orang hanya memperhatikan keributan dan skandal, kata paus, tetapi umat Kristiani harus mencoba membedakan dan mengenali apa yang baik dalam diri orang lain dan dunia di sekitar mereka.

“Hanya dengan cara ini, dimulai dari pengakuan atas apa yang baik, kita bisa membangun masa depan bersama,” ujarnya. “Hanya dengan menghargai orang lain kita dapat membantu mereka berkembang.”

Paus Fransiskus mengatakan satu hal yang sangat jelas adalah bagaimana masyarakat Mongolia “menghargai akar dan tradisi mereka, menghormati orang tua dan hidup harmonis dengan lingkungan.”

“Memikirkan hamparan Mongolia yang tak terbatas dan sunyi, marilah kita tergugah oleh kebutuhan untuk memperluas batasan pandangan kita –  lihatlah lebar dan tinggi, lihatlah dan jangan terjebak pada hal-hal kecil,” kata paus. Itulah satu-satunya cara “untuk melihat kebaikan orang lain dan mampu memperluas wawasan kita serta memperluas hati kita untuk memahami dan dekat dengan setiap bangsa dan setiap peradaban.”

Sumber: Pope recounts joy goodness humility he saw in Mongolia

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi