UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik di Flores berkabung atas wafatnya misionaris Swiss yang banyak berjasa di bidang pendidikan

September 8, 2023

Umat Katolik di Flores berkabung atas wafatnya  misionaris Swiss yang banyak berjasa di bidang pendidikan

Pastor Waser Ernst Anton, SVD, yang bertugas di Indonesia sejak tahun 1977, mendapat pujian atas jasanya di bidang pendidikan dan pelayanan sosialnya. (Foto disediakan)


Umat Katolik  berkabung atas meninggalnya seorang misionaris kelahiran Swiss yang dikenal karena jasanya bagi pendidikan dan pembangunan berbagai infrasraktur di wilayah-wilayah pedalaman di Flores barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pastor Waser Ernst Anton, SVD, meninggal dunia pada 7 September di Wangkung, Kabupaten Manggarai. Dia berusia 94 tahun.

Dalam sebuah pernyataan, Keuskupan Ruteng menyebut pastor itu sempat dirawat pada 21 Agustus di rumah sakit dimana ditemukan cairan di paru-parunya. Namun, ia kemudian meminta untuk pulang dari rumah sakit sepekan lalu.

Kematian pastor itu, yang tiba di Indonesia pada 1977, membuat banyak umat Katolik menyampaikan ucapan belangsungkawa di media sosial, menulis ungkapan kesedihan dan kedekatan mereka dengannya.

Sembari melayani di sebuah paroki, pada 1983 pastor itu mendirikan SMP dan SMA Santo  Klaus Kuwu, salah satu sekolah swasta Katolik favorit di Kabupaten Manggarai, yang sering ia sebut merupakan bentuk perhatiannya pada pembentukan kader perempuan di tengah perhatian Gereja yang lebih fokus membangun sekolah khusus untuk kader Katolik laki-laki, seperti seminari.

Pada 2002, ia juga mendirikan sekolah yang sama di Werang, Kabupaten Manggarai Barat.

Sekolah-sekolah itu telah diserahkan kepada Keuskupan Ruteng pada 2004 di bawah naungan Yayasan Ernesto, diambil dari namanya, dan dia menjadi pembina hingga pensiun pada 2020.

Pastor itu juga membantu di bidang kesejahteraan sosial bagi masyarakat dengan membangun jalan dan air minum, di tengah keterbatasan pemerintah saat Indonesia mengalami krisis ekonomi hingga 1998.

“Hampir di seluruh Manggarai Raya, Pater Waser dikenal sebagai ‘pastor air minum’ dan ‘pastor sak semen.’ Dia telah membangun begitu banyak gereja dan gedung-gedung sekolah dan menyediakan saluran air minum bersih bagi warga,” tulis Keuskupan Ruteng.

Pastor Scalabrinian, Ansensius Guntur yang sekarang bertugas di Filipina dan mantan muridnya, mengisahkan bagaimana ia hampir saja putus sekolah ketika mau naik kelas dua Sekolah Menengah Pertama karena orangtuanya tidak bisa membayar biaya sekolah.

“Dia bersedia membiayai sekolah saya hingga saya tamat Sekolah Menengah Atas. Kalau tanpa dia, saya tidak mungkin seperti sekarang ini,” katanya.

Ia mengatakan, selama lima tahun ia selalu tinggal dengan imam itu saat liburan sekolah.

“Setiap pagi dia merayakan Misa dan sebelum tidur pun dia akan datang ke kamar kami untuk membuatkan tanda salib di dahi,” katanya, seraya menambahkan pengalaman kedekatan dengan imam itu membuatnya juga menjadi imam.

Pastor Valerianus Paulinus Jempau, kepala  SMA Santo Klaus mengatakan, imam itu “mengejawantahkan ajakan Yesus untuk mengikuti-Nya dengan meninggalkan segala sesuatu dan memikul salib.”

“Betapa tidak, Pater Waser meninggalkan kilau kemajuan Eropa saat itu, melepaskan keluarganya, lalu membangun fundasi pendidikan di Manggarai,” katanya.

“Kendatipun raganya telah pergi, rohnya tetap ada di hati keluarga besar SMP dan SMA Santo Klaus Kuwu dan Werang. Begitu juga di hati umat Keuskupan Ruteng,” tambahnya.

Pastor Waser rencananya dimakamkan pada 10 September di Wangkung, demikian menurut informasi yang diumumkan  Provinsi SVD Ruteng.

Sumber: Educationist Swiss missionary dies in Indonesia

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi