UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pendeta Pakistan dipecat terkait penembakan ‘palsu’

September 18, 2023

Pendeta Pakistan dipecat terkait penembakan ‘palsu’

Para aktivis masyarakat sipil dan anggota komunitas Kristen memegang poster saat mereka mengambil bagian dalam protes mengecam serangan terhadap gereja-gereja di Karachi pada 18 Agustus. (Foto oleh Asif HASSAN/AFP)



Gereja Presbiterian di Pakistan telah memberhentikan seorang pendeta, yang menembak kakinya sendiri untuk memalsukan  pembunuhan terhadap dirinya terkait tuduhan penistaan agama di Provinsi Punjab.

Pendeta Eleazar Sidhu diskors pada 13 September setelah dia “secara jujur mengaku” kepada “kolega dan teman” bahwa luka itu disebabkan oleh perbuatannya sendiri, kata Pendeta Altaf Khan, atas nama Dewan Gereja Presbiterian Pakistan.

Pernyataan Khan pada 13 September mengatakan Sidhu menembak dan melukai kaki kanannya pada 3 September di sebuah desa di Kota Rehmat Jaranwala, di mana massa Muslim menyerang 21 gereja dan 400 rumah Kristen pada 16 Agustus atas tuduhan penodaan agama.

Sidhu juga “mengaku merencanakan seluruh tindakan ini tanpa rasa takut, paksaan atau tekanan,” tambah pernyataan itu.

Gereja tidak ingin membuat “kesimpulan apa pun karena masalah ini bersifat sub-yudisial,” kata pernyataan itu. Namun, mereka mengakhiri kontrak kerja dan “hubungan profesional apa pun” dengan Sidhu “sampai masalah tersebut sampai pada kesimpulan,” kata pernyataan itu.

Pada 4 September, Sidhu mengadu kepada polisi bahwa dia ditembak oleh “orang berjanggut” ketika ia pulang dari kebaktian Hari Minggu dari desa terdekat pada malam hari.

Dia juga meminta bantuan dengan alasan pembakaran pada 16 Agustus oleh massa di Jaranwala atas dugaan penodaan Alquran oleh dua orang Kristen. Kekerasan itu juga menargetkan dua desa di Distrik Faisalabad.

Hampir dua pekan setelah insiden Jaranwala, pada 28 Agustus, Sidhu mengajukan pengaduan ke polisi yang mengatakan grafiti Islam muncul di dinding gerejanya.

Grafiti tersebut memuat slogan-slogan Islam radikal yang dikeluarkan oleh Tehreek-Labbaik Pakistan (TLP), sebuah partai politik Islam garis keras, yang disebutkan dalam enam pengaduan polisi terkait dengan kekerasan Jaranwala.

Dalam video yang beredar awal pekan ini di media sosial, Sidhu terlihat membuat pengakuan di depan petugas polisi.

“Saya melakukannya karena stres. Saya ingin perlindungan polisi. Saya membuang pistol ke dalam kanal,” ujarnya.

“Pendeta, kamu adalah  saudara. Kami datang saat kamu mengadu. Dokter telah menyatakan bahwa Anda melukai diri sendiri,” kata pejabat itu sebagai jawaban.

Namun petugas penyidik Junaid Ajmal menolak video tersebut.

“Itu semua hanyalah rumor. Kami akan mengungkapkan rinciannya dalam konferensi media dalam satu atau dua hari ke depan,” katanya kepada UCA News.

Di Pakistan, penodaan agama merupakan tindak pidana serius karena pelaku akan dihukum seumur hidup dan hukuman mati. Baik kelompok Muslim maupun kelompok minoritas seperti Kristen telah menjadi sasaran kelompok Muslim garis keras atas dugaan tindakan penodaan agama.

Namun, kelompok garis keras menuduh umat Kristen mengeksploitasi kasus penistaan agama untuk mencari suaka di luar negeri.

Para pemimpin Kristen mengatakan ratusan umat Kristen Pakistan saat ini berada di Thailand, Sri Lanka, dan Malaysia, mencari relokasi ke negara-negara Barat karena “ancaman, penganiayaan dan kurangnya keamanan.”

Abdul Basit Alvi, juru bicara TLP di kota Sargodha menuduh umat Kristen menyalahgunakan UU Penodaan Agama untuk mendapatkan visa asing.

“Kami sudah mengatakan ini sejak awal. Jelas, kesalahan dilimpahkan pada TLP. Tidak ada persoalan lain selain mendapatkan visa asing,” kata Alvi.

Ia mengatakan tren ini meningkat sejak Asia Bibi lolos dari hukuman mati dan “pergi ke luar negeri. Yang lain sepertinya sudah menemukan jalan,” tambahnya.

Bibi, seorang wanita Katolik asal Pakistan, dijatuhi hukuman mati karena tuduhan penodaan agama. Namun, tahun 2018, Mahkamah Agung membebaskannya. Dia pindah ke Kanada tahun berikutnya.

Para pemimpin Kristen mengatakan tindakan yang dilakukan Pendeta Sidhu memperkuat narasi kelompok ekstremis bahwa umat Kristen melanggar hukum untuk mencari suaka ke luar negeri.

“Perkembangan terkini memperkuat narasi TLP. Negara juga mengatakan hal yang sama,” kata aktivis Katolik Lala Robin Daniel kepada UCA News.

“Kami telah mengatakan selama beberapa dekade bahwa undang-undang penodaan agama disalahgunakan. Sayangnya, umat Kristiani tampaknya juga melakukan hal yang sama. Namun, banyak hal yang tersembunyi dan tidak dapat didiskusikan,” katanya kepada UCA News.

Sumber: Pakistani pastor terminated for fake shooting

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi