UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Drama musikal Korea memberi penghormatan kepada pahlawan kemerdekaan beragama Katolik

September 29, 2023

Drama musikal Korea memberi penghormatan kepada pahlawan kemerdekaan beragama Katolik

Adegan dari film 'Hero' tentang kehidupan patriot Katolik Korea Ahn Jung-geun. (Foto: CJENM/Catholic Times)

 

Sebuah asosiasi teater Katolik Korea Selatan siap merilis sebuah drama musikal secara nasional tentang kehidupan Thomas Ahn Jung-geun, seorang pahlawan Katolik yang dipuji atas perjuangannya demi kemerdekaan Korea dari pemerintahan kolonial Jepang.

Drama “Confessions of Ahn Jung-geun” melihat kehidupannya melalui sudut pandang Pastor Joseph Wilhelm, seorang misionaris Prancis dari Serikat Misi Asing Paris (MEP) yang membaptisnya, lapor Catholic Peace Broadcasting Corporation (CPBC) pada 28 September 2018.

Disponsori oleh Asosiasi Teater Katolik Seoul, drama ini bertujuan membantu pemirsa melihat Ahn dari sudut pandang Pastor Wilhelm dimana konflik mendalam, masalah, dan penderitaan yang dihadapi oleh Pastor Wilhelm ditunjukkan dalam nasib Ahn, kata direktur musikal tersebut, Min Bok-ki.

“Ada maknanya melihat pengakuan Ahn Jung-geun kepada Pastor Wilhelm tentang hidupnya,” kata Min.

Pastor Wilhelm yang mahir berbahasa Korea telah membantu Ahn untuk memahami dunia sekitar Korea saat itu.

Drama Musikal ini dibagi menjadi 14 adegan yang mewakili 14 Stasi Jalan Salib. Empat belas aktor dari berbagai usia dan jenis kelamin berperan sebagai Ahn di setiap adegan.

Drama tersebut dijadwalkan akan dimulai di Teater Nasional di Seoul bulan depan dan terus dipentaskan di berbagai lokasi di Busan, Ulsan, Daegu, dan Andong.

Ahn Jung-geun (1879-1910) lahir di sebuah keluarga Buddha di Provinsi Hwanghae, sekarang bagian dari Korea Utara. Dia adalah anak tertua dari tiga bersaudara dan satu putri dari orang tuanya.

Dia masuk Katolik tahun 1897, dan menggunakan Thomas sebagai nama baptisnya, menurut catatan Gereja.

Dia menikah dan menjadi ayah dari tiga anak dan menjadi kolaborator misionaris Katolik asing pada saat agama Kristen menyebar di negara mayoritas Buddha itu meskipun ada penganiayaan brutal oleh penguasa Dinasti Joseon yang sudah lama berkuasa di Korea.

Dia mendapatkan dana untuk mendirikan dua sekolah dan menjabat sebagai kepala sekolah.

Ahn marah dengan penindasan kolonial Jepang terhadap Korea setelah berakhirnya pemerintahan Joseon, menurut catatan sejarah.

Dia bergabung dengan gerakan kemerdekaan anti-Jepang dan kemudian pindah ke Rusia di mana dia menerima pelatihan militer.

Pada 26 Oktober 1909, Ahn menembak mati Hirobumi Ito, perdana menteri Jepang empat kali dan kepala pejabat kolonial pertama Korea, di Harbin, timur laut China.

Dia ditangkap dan dipenjarakan. Pasukan Jepang mengeksekusinya pada 26 Maret 1910, di penjara Lushun di China.

Selama bertahun-tahun, Ahn dipuji sebagai patriot dan pahlawan nasional di Korea, tampil dalam budaya populer, sastra, drama, film, dan penelitian.

Namun, selama beberapa dekade Gereja Katolik mencela dia sebagai pembunuh dan pendosa atas pembunuhannya terhadap pejabat Jepang.

Misionaris MEP Prancis, Uskup Gustave Mutel, mantan vikaris apostolik Korea (1890-1933), bahkan menolak sakramen Katolik untuk Ahn sebagai pembangkangan.

Uskup Mutel menolak izin Pastor Wilhelm untuk menemui Ahn di penjara sesuai permintaannya, menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh Korea Times tahun 2019.

Namun, Pastor William mengunjungi Ahn, mendengar pengakuan dosanya, dan memberinya Komuni Kudus.

Uskup Mutel menghukum Pastor Wilhelm karena ketidaktaatannya. Dia mengajukan banding ke Vatikan terhadap tindakan disipliner tersebut dan terbukti benar.

Sebelum meninggal, Ahn menulis serangkaian surat kepada anggota keluarganya, Uskup Mutel, dan Pastor Wilhelm, meminta mereka mendoakannya.

Sikap Gereja terhadap Ahn mulai berubah tahun 1990-an.

Tahun 1993, Kardinal Stephen Kim Sou-hwan (1922-2009), yang saat itu menjadi uskup agung Seoul, merayakan Misa pada peringatan kematiannya untuk memberikan penghormatan kepadanya.

“Ahn bertindak untuk membela negara dengan benar. Gereja Katolik tidak menganggap pembunuhan yang dilakukan untuk membela negara dari agresi tidak adil sebagai kejahatan,” kata Kardinal Kim.

Tahun 2011, Komite Persiapan Beatifikasi dan Kanonisasi Keuskupan Agung Seoul mengadakan simposium untuk membahas kemungkinan kanonisasi Ahn.

Sebuah museum untuk mengenang Ahn telah didirikan di ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Tahun 2014, China membuka Balai Peringatan Ahn Jung-geun di kota utara Harbin untuk memberikan penghormatan kepadanya, memicu protes dari pemerintah Jepang karena Ahn dianggap teroris di Jepang.

Universitas Katolik Daegu di Korea Selatan mendirikan sebuah lembaga yang didedikasikan untuk penelitian akademis tentang kehidupan dan karya Ahn. Patung Ahn seukuran aslinya juga dipasang di dekat perpustakaan pusat kampus.

Franklin Rausch, asisten profesor sejarah dan filsafat Amerika, menulis tahun 2019 bahwa iman Katolik Ahn Jung-geun berperan penting dalam hidupnya dan menuntunnya untuk melawan ketidakadilan.

Sumber: Korean musical pays tribute to Catholic independence hero

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi