UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Petisi untuk selamatkan dua terpidana mati di Vietnam

Nopember 14, 2023

Petisi untuk selamatkan dua terpidana mati di Vietnam

Nguyen Truong Chinh dan istrinya (kanan), orang tua terpidana mati Nguyen Van Chuong, memegang poster yang menyerukan masyarakat untuk menyelamatkan putra mereka di Hanoi dalam foto tak bertanggal ini. (Foto: Nguyen Truong Chinh)

 

Ratusan pengacara, aktivis, dan imam Katolik telah mendesak pemerintah komunis di Vietnam untuk meninjau kembali tiga kasus hukuman mati yang menjadi polemik.

Dalam petisi yang ditandatangani oleh sekitar 900 pengacara, guru, jurnalis, mantan pejabat, imam Katolik, pendeta dan aktivis, pengacara Le Van Hoa mendesak pemerintah untuk menyelidiki kembali hukuman mati terhadap Nguyen Van Chuong, Ho Duy Hai dan Le Van Manh dalam kasus pembunuhan yang berbeda.

Dalam petisi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal Partai Komunis Nguyen Phu Trong dan Presiden Nguyen Van Thuong pada 10 November, Hoa mengatakan hukuman mati yang dijatuhkan oleh pengadilan “memiliki tanda-tanda ketidakadilan yang sangat buruk.”

Hoa mengatakan pengacara dan keluarga terdakwa telah mengajukan banyak petisi, menuduh persidangan tersebut “tidak obyektif dan meyakinkan.”

Hoa, yang mulai menawarkan bantuan hukum kepada keluarga Chuong tahun 2013, memulai kampanye tanda tangan pada 1 November.

Petisi tersebut, yang juga diajukan ke Majelis Nasional, mendesak pemerintah untuk “menjalankan prosedur khusus untuk menyelesaikan kasus” Chuong dan Hai, yang telah menjalani hukuman mati sejak 2008.

Mereka harus “segera dibebaskan” dan mereka yang melakukan persidangan yang salah harus dihukum, demikian tuntutan petisi tersebut.

Petisi ini muncul setelah negara komunis tersebut mengeksekusi Manh pada 22 September, mengabaikan permohonan grasi dari Uni Eropa dan kelompok HAM global.

Manh, yang dituduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang gadis tahun 2005, dilaporkan mengakui kejahatannya di bawah penyiksaan.

Petisi tersebut mengatakan bahwa kasus Manh juga perlu ditinjau ulang.

Vietnam menduduki peringkat sebagai salah satu negara yang melakukan eksekusi mati terbesar di Asia Tenggara menurut kelompok HAM internasional Amnesty. Negara ini mencatat lebih dari 119 hukuman mati tahun 2021.

Sejak tahun 2013, eksekusi di Vietnam dilakukan dengan suntikan mematikan setelah mereka mengganti regu tembak.

Chuong dari Provinsi Hai Duong ditangkap pada 3 Agustus 2007, karena membunuh Mayor Polisi Nguyen Van Sinh di Kota Hai Phong pada 14 Juli. Pria yang sudah menikah itu dijatuhi hukuman mati pada 12 Juni 2008, oleh Pengadilan Rakyat Hai Phong.

Banyak saksi yang membenarkan bahwa terdakwa berada di kampung halamannya di Hai Duong pada saat pembunuhan di Hai Phong.

Chuong, 40, telah menulis surat kepada keluarganya berkali-kali, membenarkan bahwa dia disiksa untuk memaksanya mengaku.

Ayahnya, Nguyen Truong Chinh, mengatakan keluarga dan pengacaranya telah mengirimkan petisi yang tak terhitung jumlahnya untuk meninjau kasus Chuong tanpa hasil.

Pihak berwenang membantah tuduhan Chuong mengenai penyiksaan.

Pada Agustus, Uni Eropa, Kanada, Norwegia dan Inggris meminta pihak berwenang Vietnam untuk menghentikan eksekusi Chuong dan mengkritik penggunaan hukuman mati.

Hai menghadapi hukuman mati karena membunuh dua staf pos perempuan sebelum merampok mereka pada 13 Januari 2008, di Kantor Pos Cau Voirovi, Pnsi Long An.

Petisi tersebut mengatakan penyidik gagal menanyai tersangka lain yang dikabarkan hadir di kantor pos saat pembunuhan terjadi.

Sa La Hoa, salah satu pihak yang menandatangani petisi tersebut, mengatakan mereka ingin kasus-kasus tersebut “dibatalkan dan diselidiki kembali guna memulihkan kepercayaan publik terhadap sistem peradilan.”

Vietnam membebaskan dan menyampaikan permintaan maaf publik kepada tiga tahanan kasus pembunuhan tahun 2013, 2015 dan 2016 setelah banyak pengacara dan Majelis Nasional bekerja keras untuk menyelamatkan mereka.

Sumber: Petition to save two death row prisoners in Vietnam

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi