UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja-gereja di Korea didesak lebih fleksibel dengan merangkul semua orang

Nopember 30, 2023

Gereja-gereja di Korea didesak lebih fleksibel dengan merangkul semua orang

Umat Katolik menghadiri Misa di Katedral Myeongdong di Seoul, 4 Agustus 2014. (Foto: AFP)

 

Gereja Katolik dan Gereja Protestan di Korea Selatan perlu melepaskan diri dari pendekatan otoriter dan institusional mereka dan dengan fleksibel merangkul semua orang  di tengah meningkatnya jumlah orang yang tidak beragama, kata para ahli dalam sebuah seminar.

“Saya tidak pergi ke gereja, tapi saya percaya pada Tuhan. Kadang-kadang saya berdoa sendirian,” kata seorang pembicara dalam seminar bertajuk: “Dereligionisasi dan Masyarakat, serta Masa Depan dan Prospek Agama Katolik di Korea.”

Institut Kebudayaan Katolik Korea (KCCI) menjadi tuan rumah program ini bersama para ahli Katolik dan Protestan, yang diadakan pada 23 November, demikian lapor Catholic Peace Broadcasting Corporation (CPBC) pada 29 November.

Para pembicara mengatakan data nasional menunjukkan populasi umat beragama sedang menurun.

Sekitar 63 persen orang dewasa berusia 19 tahun ke atas tidak menganut agama apa pun, menurut perkiraan resmi tahun 2022.

“Selama penderitaan manusia masih ada, agama tidak akan hilang, dan selama kita tidak melepaskan alasan hidup dan mati, alasan keberadaan agama adalah masuk akal,” kata Teresa Bang-mi, direktur riset KCCI.

“Jika kita meninggalkan kepentingan kelompok  dan mengejar aspek moral yang diharapkan agama kepada  masyarakat, maka religiusitas akan lebih efektif,” tambah Lee.

Para ahli dengan suara bulat mengatakan bahwa tren di Korea lebih mengarah pada penurunan institusi agama dibandingkan de-religionisasi.

Pastor Yang Seung-woo dari Gereja Gangnam, Gereja Anglikan Korea di Seoul, mengatakan sekitar satu juta orang Kristen telah meninggalkan Gereja mereka.

Umat Kristen, khususnya kaum muda meninggalkan Gereja karena dahaga rohani mereka masih belum terpenuhi dan mereka menemukan kelompok neo-Kristen yang menarik, meskipun mereka sesat, kata Yang.

“Alasan mereka tidak ke gereja bukan karena kehilangan iman, tapi untuk menjaga iman,” ujarnya.

“Orang-orang muda yang meninggalkan Gereja berbondong-bondong mengikuti ajaran sesat,” klaimnya.

“Klerus hendaknya lebih baik hati untuk memuaskan dahaga rohani mereka,” desaknya.

Pastor Choi Young-gyun, direktur Institut Pemikiran Kristus Korea, menyatakan bahwa kesetiaan terhadap agama institusional menurun ketika orang-orang mencari “cara alternatif” untuk memuaskan dahaga rohani mereka.

“Gereja menekankan komunitas, namun kenyataannya, aktivitas keagamaan komunitas  seringkali ditujukan untuk individu, sehingga loyalitas mereka terhadap agama institusional pasti akan menurun,” kata Pastor Choi.

“Seiring dengan semakin beragamnya elemen-elemen yang mengisi kekosongan tersebut, sebuah era telah tiba di mana apa yang disebut ‘belanja spiritual’ menjadi mungkin dilakukan,” ujarnya.

Hal ini karena lingkungan di mana orang dapat memuaskan dahaga rohani mereka di luar Gereja telah semakin tersedia, seperti program konseling dan penyembuhan yang muncul di berbagai siaran dan YouTube, serta retret dan penginapan di bait suci yang bahkan dapat diikuti oleh orang yang tidak beriman, katanya.

“Kita harus melepaskan diri dari otoritarianisme di dalam Gereja dan mengejar kesetaraan,” desaknya.

“Gereja bertujuan untuk menjadi seperti tenda yang cair dan fleksibel yang merangkul semua orang.”

Jumlah kaum muda yang menghadiri Misa hari Minggu turun 17 persen dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Korean Catholic Research Institute yang dirilis pada Maret.

Sekitar 58,8 persen umat Katolik yang berusia di atas 50 tahun di Provinsi Gyeongsang Utara dan Seoul melaporkan bahwa mereka tidak menghadiri Misa Hari  Minggu.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 13,6 persen umat Katolik yang mengikuti Misa Hari  Minggu secara rutin sepanjang masa pandemi, menghadiri Misa pada acara-acara khusus atau tidak hadir sama sekali.

Umat Katolik di Korea Selatan berjumlah 5,3 juta atau sekitar 10 persen dari perkiraan populasi negara itu yang berjumlah 52 juta jiwa. Kekristenan adalah agama terorganisir yang paling banyak diikuti dengan 30 persen penganutnya.

Sumber: Korean churches urge flexibility to fight de religionization

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi